LogoDIGINATION LOGO

Para Anggota Tim Pertama Kita

author Oleh Andreas Senjaya co-founder & CEO iGrow | co-founder Badr Interactive | 500 Startups B16 Published Rabu, 17 Juli 2019 | 08:15 WIB
Share
Kebersamaan mencapai satu tujuan (foto: Shutterstock)
Share

“Perhatikanlah 50 orang anggota tim pertama kita, karena merekalah calon pemimpin masa depan persusahaan kita”, ujar Sarah Tavel, mantan Product Manager Pinterest yang sekarang menjadi salah satu partner di Greylock Partners.

Dari banyak quotes yang muncul di program Google Launchpad kemarin, kalimat inilah salah satu yang paling berkesan menurut saya. Kalimat ini bicara bukan hanya soal manajemen anggota tim kita, tapi juga tentang visi jangka panjang, tentang kepercayaan, tentang kebersamaan.

Memang tidak ada yang lebih berkesan dibandingkan dengan perjalanan startup di masa-masa awal perjalanan. Disanalah sensasi sebenarnya mendirikan sebuah startup terjadi. Menciptakan sebuah solusi baru yang belum ada, memperkenalkannya kepada orang lain, mengalami penolakan, merasakan kegalauan, kembali bangkit, mencoba lagi, merubah strategi, hingga akhirnya determinasi tersebut membuahkan hasil.

Masa-masa awal tersebut yang sebenarnya adalah masa penuh kesendirian, sehingga orang-orang yang membersamai kita dalam perjalanan awal merupakan orang-orang yang spesial. Mereka bukan hanya percaya dengan menitipkan investasi umur produktifnya kepada kita saja, tapi juga mereka mau ikut punya ketangguhan, determinasi untuk terus berjuang, berubah, beradaptasi, dan mencoba mencari celah dimana kita bisa menemukan jalan.

Jika diminta memilih satu sikap dari sekian banyak sikap yang harus dimiliki oleh seorang founder, maka saya akan memilih determinasi sebagai sikap paling utama yang harus dimiliki oleh founder dan tim yang membersamainya. Saya tidak percaya seorang founder startup yang telah sukses disebabkan karena foundernya adalah seorang superman serba bisa yang mampu menyelesaikan semua masalah dan membuat perjalanan startup-nya mulus. Tapi saya akan sangat percaya kalau yang membuatnya sukses, dengan ijin Allah, adalah kemampuan untuk terus berjuang melakukan sesuatu yang ia percayai seberapapun sulitnya hal tersebut.

Baca juga: 5 Kesalahan Umum yang Bisa Gagalkan Bisnis Startup

Ketangguhan tuk menghadapi ketidakpastian, perubahan tak terduga, dan jatuh bangun dalam perjalanan (foto: blog Andreas Senjaya)
Para anggota tim pertama kita mungkin bukan para superman atau orang-orang berkualitas terbaik di dunia, tapi merekalah yang terus ikut berjalanan di situasi tak menentu perjalanan awal startup kita. Dalam startup, banyak hal yang berjalan tidak sempurna atau sesuai rencana, situasi tak menentu, bahkan progress yang tak signifikan dari waktu ke waktu menjadi keseharian mereka.

Para anggota tim pertama kita di masa-masa awal perjalanan adalah orang yang teruji ketangguhannya. Karena di masa awal ini, penolakan adalah makanan sehari-hari kita. Ditolak oleh customer, user, partner strategis, investor, atau media. Mereka harus memelihara ketangguhan karena hal itulah syarat mutlak kemampuan beradaptasi dan terus berubah selama perjalanan.

Para anggota tim pertama kita adalah mereka yang yakin dan percaya pada foundernya, dan apa yang mereka sedang bangun saat ini. Kepercayaan itu yang menghalau keraguan yang pasti selalu muncul tenggelam. Keraguan yang bukan hanya bersumber dari dalam diri kita mereka, tapi juga dari orang-orang di sekelilingnya, yang mencintai dan mengkhawatirkan mereka. Namun mereka memilih untuk tetap menggelorakan rasa percaya itu bersama kita.

Baca juga: Konglomerat Indonesia Ramai-ramai Investasi di Startup

Ownership tuk bersama mencari strategi terbaik dalam menapaki perjalanan (foto: blog Andreas Senjaya)
Jika banyak orang mengatakan startup penuh dengan dinamisasi, saya katakan, perubahan memang adalah makanan sehari-hari kita. Karena startup adalah entitas yang masih mencari bentuk, mencari tahu seperti apa kondisi product market fit, mem-validasi bisnis model, dan menyesuaikan diri dengan perubahan dunia di luar. Itu semua butuh kemampuan beradaptasi super tinggi, dan itu bukanlah hal yang nyaman, hanya yang punya keinginan yang kuat yang terus mampu beradaptasi.

Banyak startup besar yang menemukan titik kesuksesannya dengan proses perubahan panjang dan terus menerus. Paypal menemukan bentuknya setelah sebelumnya berawal dari produk software enkripsi untuk keamanan komunikasi. Flickr dan Slack, keduanya memulai perjalanan dari sebuah produk online game. Semua adaptasi itu tidak akan menemukan jalannya kalau tidak ada proses trial and error.

Sebuah keinginan kuat untuk terus bergerak, terus mencari tahu seperti apa yang dibutuhkan user, terus mencoba membuat seperti apa produk yang sesuai kebutuhan tersebut. Dan semua itu bisa terjadi karena orang-orang pertama anggota tim mereka yang memutuskan untuk terus bergerak mencoba dan mencari tahu dalam situasi yang penuh ketidakpastian.

Para anggota tim pertama kita memang dikompensasi atas jerih payahnya, tapi ekstra kepercayaan, ekstra ketangguhan, ekstra keinginan ikut berubah beradaptasi, yang tidak tergantikan dengan kompensasi materi. Mereka sahabat perjalanan, yang berharga ketika kita menghargainya, yang mengukirkan kenangan tak terkikis oleh waktu ketika perjalanan ini kita isi dengan kisah tulus kebersamaan.

Baca juga: Buku Wajib Baca Bagi Para Perempuan Pendiri Startup

ekstra kepercayaan, ekstra ketangguhan, ekstra keinginan ikut berubah beradaptasi, yang tidak tergantikan dengan kompensasi materi (foto: blog Andreas Senjaya)
Dan diantara mereka semua, disadari atau tidak, pasti ada sebagian kecilnya yang punya sikap, inisiatif, komitmen, dan tindakan layaknya seorang founder. Saya menyebutkan sebagai mitokondria tim kita.

Mereka yang terus berdenyut dan bergerak, memberi energi pada perusahaan kita, penuh semangat, selalu memiliki motivasi yang tinggi, mereka inisiatif dan selalu bertanya apa hal yang bisa membuat perusahaan ini lebih baik. Mereka bukan founder startup kita, tapi komitmen dan tindak tanduknya menguatkan perusahaan tidak pernah kalah dari sang founder startup itu sendiri.

Orang-orang seperti itu adalah pemimpin masa depan perusahaan kita. Tempatkanlah posisi kita sebagai fasilitator kemajuan dan perkembangan mereka. Perlakukanlah mereka sebagaimana penerus tongkat estafet kita. Dan jangan pandang mereka hanya seperti alat yang bisa dipasang tanggalkan sebebas kemauan kita.

Perhatikanlah mereka yang membersamai kita di awal, karena mereka begitu berharga.

Baca juga: Tertarik Menggeluti Bisnis Startup? Kuasai 5 Hal Ini

Tulisan ini telah dipublikasikan di blog pribadi Andreas Senjaya dan diterbitkan ulang di Digination.id atas persetujuan yang bersangkutan.

  • Editor: Dikdik Taufik Hidayat
RECOMMENDATION
LATEST ARTICLE

Siklus Membaik

Ternyata pengetahuan yang kita miliki itu sejatinya adalah hasil saling transfer antar kita...

Rabu, 11 September 2019 | 08:15 WIB

Perubahan Lintas Generasi

Mereka adalah kelompok anak muda yang ingin “dianggap eksis”. Mereka tidak ingin dianggap hanya sekedar pelengkap dari segala sesuatu yang selama ini harus ditentukan oleh orangtua.

Minggu, 30 September 2018 | 08:45 WIB

Langit Runtuh dari Dalam

Perusahaan bisa saja goyah. Bukan terutama karena diganggu pesaing, melainkan karena kesalahan sendiri.

Minggu, 16 September 2018 | 15:25 WIB

Jangan Bilang-Bilang

Teknologi benar-benar telah memorakporandakan kata "rahasia perusahaan". Apalagi ada banyak karyawan yang suka menceritakan gosip di dalam perusahaan, walaupun kalimatnya selalu dimulai dengan: "Jangan bilang-bilang...!"

Minggu, 9 September 2018 | 10:25 WIB

Command Center, Smart City & AI

Kadang Command Center hanya jadi tempat foto bersama kunjungan tamu. Saat ada tamu dihidupkan, setelah tamu pulang mati lagi.

Senin, 20 Agustus 2018 | 11:50 WIB

Kopi, Koin dan Kriptografi

Pernahkah Anda minum kopi dengan nama Sigarar Utang? Konon, kopi dari Tapanuli Utara ini kalau diterjemahkan berarti “pelunas hutang” atau “pembayar hutang”

Jumat, 16 Maret 2018 | 03:41 WIB

Selamat Datang TV Everywhere

Perhatikan apakah dalam 1 minggu, anak Anda masih duduk manis di depan TV menyaksikan acara kesayangannya? Kalau masih, berapa jam per minggu ia duduk di depan TV? Atau malah dalam seminggu sama sekali mereka tidak menonton televisi

Jumat, 25 Agustus 2017 | 02:08 WIB

Hoax dan Lompatan Internet Orang Indonesia

Mike Walsh, pembicara megatrend dalam satu seminar di Liverpool, yang kebetulan saya ikuti, menceritakan anomali orang Indonesia di dunia digital

Kamis, 24 Agustus 2017 | 02:09 WIB