CEO Lazada: Pebisnis Online Harus Manfaatkan Data Konsumen
Menurut prediksi Frost & Sullivan, nilai barang dagangan nirlaba e-commerce di Asia Tenggara akan meningkat menjadi USD 65,5 miliar pada tahun 2021
Senin, 23 Oktober 2017 | 09:44 WIB
Merintis bisnis sendiri memang bukan hal mudah. Kadang kamu menemui hal-hal yang bikin lelah, marah dan rasanya ingin menyerah. Apa rahasianya supaya tetap bergairah?
Bagi Muhammad Maula Nuruddin Al Haq, salah satu pendiri Afrakids, bisnis itu dimulai dari niat. Kembali ke niat itulah yang kemudian membuatnya tetap mau menjalankan bisnis meskipun situasinya tidak sesuai yang diharapkan. Afrakids adalah merek busana muslim bagi anak-anak dengan produk utama kaos. Saat ini merek tersebut sudah menjangkau seluruh Indonesia dengan lebih dari 1.700 agen penjualan dan 30.000 reseller. Agen-agen terbaik mereka bahkan bisa mencapai penjualan Rp100-200 juta per bulannya.
Namun, Afrakids tentu tidak tiba-tiba lahir menjadi besar. Saat awal merintis, Maula mengakui ada banyak momen yang bisa saja membuatnya menyerah. Misalnya saat ia memulai masuk ke bisnis itu di 2013. Dengan modal Rp 30 juta, Maula dan rekan-rekannya memproduksi 2.000 lembar kaos untuk anak dengan merek Little Muslim. Setelah berbulan-bulan melakukan upaya keras, produk tersebut hanya mampu mencapai break even point (BEP) dan tidak menghasilkan laba.
“Orang lain mungkin akan mengatakan, wah cuma BEP, berarti tidak terbukti nih bisnisnya,” ujar Maula saat ditemui Digination.id di kantor pusat mereka di Pasir Putih, Depokm, Jawa Barat. Namun ia kembali kepada niat awal membuat bisnis tersebut. Dan ini yang membuatnya pantang menyerah.
Baca juga: Kenali 3 Jenis Investor untuk Bisnismu
Start With Why
“Di masa awal, yang perlu dikuatin adalah visi misi founder. Kami mulai dari kenapa harus mulai ini? Start with Why-nya kuat,” ujar Maula. Start with Why adalah judul buku Simon Sinek yang cukup populer dan berpengaruh. Afrakids dimulai dari kegelisahan para pendirinya mengenai problem yang dihadapi umat Islam di Indonesia. Why mereka adalah untuk memberi kontribusi pada perkembangan umat Islam.
“Di masa pengembangan, why itu harus kuat banget. Karena (masa) itu yang berat banget. Di masa itu kita menjawab pertanyaan, apakah impian (bikin usaha) ini naif banget nggak, sih? Akan berhasil atau nggak, sih?” tuturnya. Why yang kuat, tambahnya, bisa bernilai lebih dari uang dan akan membantu motivasi lebih lanjut. Niat yang kuat ini yang kemudian membuat Maula dan rekan-rekan tak menyerah meskipun eksperimen awal mereka seakan mentok.
“Kami bukan hanya melihat bahwa ini tidak berhasil, ya. Tapi kami juga lihat ada feedback dari konsumen awal, dan feedback positifnya banyak. Kami melihat ini bisa berhasil, hanya waktu itu metodenya belum tepat,” ujarnya. Afrakids didirikan, ujar Maula, adalah untuk menghadirkan dampak spiritual dan sosial. Jadi memang bukan hanya sekadar berbisnis semata. Ini yang kemudian memperkuat para pendirinya untuk terus berjalan meski susah.
Baca juga: 3 Tantangan Utama Pebisnis Lokal
Bikin Nasi Goreng Pakai Data
Cerita Afrakids bukan hanya soal niat. Satu tema besar yang muncul dari perbincangan dengan Maula adalah soal data.
Inisiasi awal Afrakids dilakukan oleh Maula bersama Hisyam Hasanah. Keduanya berangkat dari kegelisahan yang sama, kebetulan waktu itu mereka berbagi kamar saat menghadiri sebuah pelatihan online marketing yang sama di Solo, Jawa Tengah. Hisyam adalah pengusaha konveksi yang memasok kaos bagi merek-merek tertentu, sedangkan Maula punya latar belakang di dunia periklanan dan pemasaran.
Ibaratnya, ujar Maula, setelah menemukan why untuk bisnis mereka maka keduanya ‘membuka kulkas’ dan memutuskan mau masak apa. “Ibaratnya orang mau makan, buka kulkas, dan ada nasi, telor, ya udah bikin nasi goreng aja,” tuturnya. Setelah memutuskan untuk membuat bisnis kaos alias “masak nasi goreng” itu, mereka kemudian berpikir: nasi goreng ini bisa diapain lagi?
Dalam hal ini, Afrakids kemudian memanfaatkan metode berbasis data yang cukup lazim dan populer di kalangan startup digital, metode itu bernama Design Thinking. Prosesnya dimulai dengan identifikasi masalah lalu pengambilan data melalui observasi.
Observasi dilakukan terhadap masalah yang ada. Hasil observasi itu kemudian diwujudkan ke sebuah prototype yang diujicobakan ke pasar untuk mendapatkan feedback. Setelah melalui itu semua, saat ini tantangan Afrakids ada di sisi produksi. Maula mengakui proses produksi harus bisa lebih lincah lagi, waktu untuk mencapai pasar harus bisa lebih cepat.
Setelah lima tahun berjalan, apakah Afrakids sudah mencapai fase mapan alias mature? “Kalau kami melihatnya, mature itu seperti Unilever. Saat ini Afrakids bisnisnya masih dalam fase growth,” ia menegaskan.
Yap, buat kamu yang sedang merintis bisnis, jangan lupa untuk punya niat dan tujuan yang kuat seperti Maula dan rekan-rekannya, ya. Hal itu yang bakal membantu kamu kalau sedang menemui kesulitan.
Berani coba, kan?
Baca juga: Kapan Memulai Bisnismu Sendiri?
Menurut prediksi Frost & Sullivan, nilai barang dagangan nirlaba e-commerce di Asia Tenggara akan meningkat menjadi USD 65,5 miliar pada tahun 2021
Senin, 23 Oktober 2017 | 09:44 WIB
Badan Pusat Statistik (BPS) akan mulai melakukan pendataan e-commerce awal tahun 2018 nanti
Rabu, 20 Desember 2017 | 07:31 WIB
Instagram telah menjadi salah satu platform media sosial terpopuler saat ini
Jumat, 3 Agustus 2018 | 00:02 WIB
Demi keamanan anak di dunia digital, Roblox berencana menghadirkan mode offline, langkah ini jadi bagian dari adaptasi terhadap aturan baru di Indonesia.
Senin, 30 Maret 2026 | 17:12 WIB
Laporan ini menyusun tujuh tren penting di bidang keamanan yang mempengaruhi perkembangan strategi keamanan ke depannya. Tujuh tren tersebut adalah:
Senin, 30 Maret 2026 | 16:27 WIB
Aturan pandemi global kembali memanas, hasilnya bisa menentukan akses kesehatan yang lebih adil atau tidak di masa depan.
Jumat, 20 Maret 2026 | 22:51 WIB
Investasi emas kini lebih mudah, aman, dan tepercaya melalui fitur eMAS di aplikasi DANA.
Kamis, 12 Maret 2026 | 11:55 WIB
Mau mencoba tren AI "Caricature of Me and My Job"? Mau dibuat lebih personal dan akurat? Yuk simak informasi berikut!
Rabu, 18 Februari 2026 | 16:28 WIB
Google akan mengirimkan server berukuran kecil ke luar angkasa. Mereka bekerja sama dengan perusahaan bernama planet untuk meluncurkan dua satelit prototipe yang membawa server tersebut.
Rabu, 18 Februari 2026 | 16:17 WIB
Mahasiswa dari berbagai jurusan membutuhkan pemahaman dasar tentang Data Analytics. Kalau kamu tertarik mulai mengenal Data Analytics tanpa harus langsung berkomitmen besar, Yuk simak informasi berikut!
Kamis, 12 Februari 2026 | 11:52 WIB
Mengapa Orang Tua Menjadi Target Empuk Penipu?
Rabu, 14 Januari 2026 | 17:25 WIB
Simak lima tips sederhana dari DANA untuk melindungi dompet digitalmu supaya terhindar dari kejahatan siber!
Rabu, 31 Desember 2025 | 10:05 WIB
Pembaruan Google Photo membawa editing ke level yang sangat personal dan mendalam, seperti:
Selasa, 30 Desember 2025 | 18:08 WIB
Selain itu, pertumbuhan di level pedesaan ini sejalan dengan data makro nasional. Bank Indonesia (BI) mencatat, hingga September 2025, jumlah pengguna QRIS di Indonesia telah berhasil menembus angka 45 juta pengguna.
Senin, 10 November 2025 | 10:11 WIB
Fitur-fitur baru ini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu reator, mulai dari tahap awal pembuatan ide hingga proses penyutingan video panjang.
Selasa, 4 November 2025 | 17:58 WIB
Pada akhir 2025 nanti, diperkirakan sekitar sepertiga dari smartphone yang terjual di seluruh dunia akan punya fitur AI generatif. Bukan hanya ponsel premium, tapi juga kelas menengah.
Kamis, 2 Oktober 2025 | 17:06 WIB
Platform pencari kerja Pintarnya menggabungkan kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat proses rekrutmen, sekaligus membuka akses ke layanan keuangan bagi pekerja sektor informal.
Senin, 22 September 2025 | 13:46 WIB
File APK yang diklaim sebagai video demo dari aksi massa di jalanan sedang disebar ke berbagai grup Whatsapp. Hati-hati, jangan asal klik apa lagi ikut menyebarkan ke grup WA lain!
Rabu, 3 September 2025 | 11:44 WIB