LogoDIGINATION LOGO

Lamaran Ditolak 500 Kali, Hasil Akhirnya Menakjubkan

Oleh Aulia Annaisabiru Ermadi Selasa, 20 November 2018 | 10:00 WIB
Share
3 founder Kopi Tuli (sumber: instagram.com/koptul.id)
Share

Siapa bilang keterbatasan bisa menghalangi kreativitas dalam berbisnis? Sebaliknya hal tersebut bahkan bisa menjadi kekuatan tersembunyi, lho! Putri Sampaghita Trisnawinny Santoso bersama 2 kawannya, Mohammad Adhika Prakoso dan Tri Erwinsyah Putra membuktikan hal tersebut. 3 sekawan yang sama-sama dikarunia keterbatasan dalam pendengaran atau tuli ini tidak surut langkahnya untuk membangun bisnis.

Sama-sama menyukai kopi, 3 sahabat ini memutuskan untuk mendirikan kedai kopi yang diberi nama KopTul atau Kopi Tuli. Koptul dibangun dengan semangat ingin menunjukkan bahwa anugerah menjadi tuli pun dapat dimanfaatkan untuk membangun usaha. Bahkan membuka lapangan pekerjaan untuk orang-orang dengan anugerah yang sama sepeti mereka.

Baca juga: 5 Pelajaran Bisnis dari Sukses Stan Lee dan Marvel

Berawal dari kekecewaan

Nyatanya masih banyak perusahaan yang belum ramah disabilitas sehingga para penyandang disabilitas kesulitan mendapatkan pekerjaan formal. Lebih dari 500 lamaran dikirimkan, lebih dari 700 hari menunggu tanggapan namun tidak satupun lamaran bersambut baik. Berawal dari kekecewaan tersebut, Putri, Erwin dan Adhika menemukan jalan lain yaitu dengan membuka usaha mereka sendiri. 

"Saya pernah kecewa, 500 kali melamar pekerjaan tapi tidak direspon," cerita Putri pada Digination.id di kedai Koptul, Jakarta.

Koptul menjadi jawaban atas kekecewaan tersebut. 210 hari lamanya riset dan eksperimen dilakukan untuk menemukan rasa kopi yang ideal. Bahkan Adhika sempat mengambil kursus singkat untuk belajar meracik dan mengelola bisnis kopi di salah satu Hub bisnis kopi di Indonesia. Dengan tagline "the taste that touch your heart" akhirnya pada 12 Mei 2018, Koptul resmi berdiri.

Hingga November 2018 ini, Koptul telah memiliki 2 cabang yaitu di Jalan Krukut Raya No. 70, Limo, Depok, Jawa Barat dan di Kindo Square No. A9, Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Baca juga: 6 Tips Bisnis ala Studentpreneur

Putri Sampaghita dan Tri Erwinsyah Putra, Co-Founder KOPTUL (Alfathin pramata)
Media interaksi dan rumah belajar

Seiring berkembangnya koptul, banyak pengunjung berdatangan baik dari teman tuli maupun teman dengar. Kopi Tuli menjelma menjadi wadah kebersamaan dan kekeluargaan di antara mereka untuk saling berinteraksi. 

"Koptul (menjadi tempat) untuk berkomunikasi, jadi orang-orang datang untuk mengobrol dan berinteraksi antara temen tuli dengan teman dengar," kata Putri.

Kopi yang disajikan pun unik dan spesial, kopi ciri khas dari 3 muda-mudi tangguh ini. Ada Kosu Koso, kopi susu dengan rasa kopi kuat yang berafiliasi pada Adhi. Kemudian Kosu Wings dengan cita rasa lebih lebih lembut dan manis khas Erwin dan Kosu Siput, yang memadukan kopi dengan alpukat kopi racikan khusus dari Putri. Varian minuman lain yang disajikan sengaja diberi nama bertema alam seperti Laut Biru, Tanah Susu, Daun Susu dan Matahari untuk menggantikan nama yang sudah lazim digunakan di kedai kopi lainnya.

Bukan tanpa maksud, nama-nama unik ini digunakan agar pembeli bertanya dan berinteraksi dengan karyawan yang notabene semuanya tuli. Tak hanya itu, para pengunjung pun juga bisa belajar bahasa isyarat dan diajarkan langsung oleh teman-teman tuli. Untuk membantu mempelajari bahasa isyarat, pada kemasan koptul tercetak deretan simbol abjad Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). 

Untuk memaksimalkan interaksi antara teman tuli dan teman dengar, cabang Koptul Depok sengaja tidak menyediakan wifi. Hal ini dimaksudkan agar pengunjung tidak asyik dengan smartphonenya saja tapi dapat menikmati kopi dan waktu yang berharga dengan berkomunikasi dengan pengujung lain.

Baca juga: Peluang Bisnis dari Gaya Hidup Sehat

Suasana kedai KOPTUL (Alfathin pramata)
Memberdayakan teman tuli

Karena sering dipandang sebelah mata, para penyandang disabilitas sering kesulitan mendapatkan pekerjaan. Seperti yang dialami Putri yang 500 lamaran kerjanya ditolak perusahaan. Koptul hadir sebagai pembuktian bahwa mereka bisa berkarya sendiri tanpa perlu bekerja pada orang lain. Kedai kopi unik ini berdiri dengan semangat memberdayakan teman-teman tuli agar dapat memperoleh pekerjaan yang layak.

Lewat koptul, 3 sekawan ini ingin menjembatani masyarakat mengenal budaya teman tuli sekaligus menjadi salah satu jalan memberdayakan anugerah yang dimiliki mereka.

"Kita harus berani, jangan takut-takut. Kalau kita takut-takut, tidak akan berjalan. Kalau kita berani, kita percaya akan ada jalan," pungkas Putri menyemangati difabelpreneur lainnya.

Yap, when there is a will, there is a way...

Baca juga: Nih, Cara Mengubah Passion Jadi Bisnis!

  • Editor: Dikdik Taufik Hidayat
TAGS
RECOMMENDATION
LATEST ARTICLE

3 Kebiasaan Boros Ini Harus Segera Kamu Tinggalkan!

Milenial terkenal sebagai generasi boros dan sering berutang. Kevin O'Leary, co founder Softkey Internasional sekaligus panelis reality show Shark Tank mengatakan ada 3 kebiasaan buruk yang harus ditinggalkan. Apa saja, ya?

Rabu, 20 Februari 2019 | 08:15 WIB

Mencari Pekerjaan Sesuai Passion? Jangan!

Sering mendengar semboyan “Bekerjalah sesuai passion?" Katanya jika bekerja sesuai passion, maka sukses akan mudah terbentang. Ah, masa iya?

Senin, 18 Februari 2019 | 11:15 WIB

Dari Gates Sampai Zuckerberg, Siapa yang Paling Dermawan?

Mau tahu siapa saja sosok CEO yang paling dermawan di dunia? Siapa tahu kamu akan terinspirasi dan menyusul langkah mereka. Dirangkum dari berbagai sumber, inilah daftar CEO perusahaan teknologi yang paling gila menyumbang.

Jumat, 15 Februari 2019 | 16:15 WIB

Sukses Cara Gila Ala Jeff Bezos!

Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari kisah hidup Jeff Bezos. Berikut adalah prinsip-prinsip bisnis alanya yang bisa kamu contoh.

Jumat, 15 Februari 2019 | 11:15 WIB