LogoDIGINATION LOGO

Sifat Buruk di Balik Sukses Steve Jobs, Jack Ma dan Elon Musk

Oleh Aulia Annaisabiru Ermadi Sabtu, 27 Oktober 2018 | 13:00 WIB
Share
Ilustrasi top founder (shutterstock)
Share

Passion, fokus dan kerja keras menjadi resep klasik sukses selama ini. Tapi apakah benar para top founder memiliki sikap tersebut? Jawabannya tidak! Para top founder diantaranya Steve Jobs, founder Apple; Jack Ma, founder Alibaba Group dan Elon Musk, CEO Tesla ternyata memiliki sikap yang bertolak belakang dari resep sukses tersebut.

Baca juga: Pensiun Dari Alibaba, Jack Ma ke Mana, Ya?

Hal ini menurut Robert Frank, penulis buku dan pengamat American Wealthy yang  mengamati selama dua dekade terakhir dari para pengusaha sukses di dunia, seperti dilansir dari CNBC.

Para top founder tersebut cenderung memiliki sikap 'negatif' namun berdampak positif. Sikap tersebut mendorong mereka memiliki naluri kuat sebagai entrepreneur, melihat apa yang orang lain tidak lihat dan selalu berusaha untuk maju apapun risikonya. 

Lalu, sikap apa yang dimiliki para top founder ini?

Baca juga: Buat Kamu yang Pengin Jadi Entrepreneur...

Keras kepala

Sikap pertama adalah keras kepala. Kebanyakan para top founder buta pada masalah yang dihadapi tetapi mereka selalu berusaha untuk menyelesaikannya. Dilansir dari Fast Company, hanya sedikit top founder yang menguasai bidang usahanya. Bahkan setengah dari presentase para founder startup tidak tahu apapun tentang industri yang dibangunnya. 

Seperti  Jack Ma, pendiri Alibaba Group yang mengatakan, "Saya tidak pernah masuk ke bidang ini sebelumnya, dan saya tidak pernah sekalipun menjual barang ke orang lain."

Tapi para top founder ini berusaha untuk berpikir out of the box dan tidak takut gagal, meskipun banyak pendahulunya yang mengalami kegagalan di industri yang sama.

Baca juga: Ingin Kerja di Perusahaan Jack Ma? Begini Kriterianya

Ilustrasi Berpikir Berbeda (shutterstock)

Obsesif

Kedua, para top founder selalu berobsesi dengan ide yang ia punya, dan tidak mendengar apa yang dikatakan orang lain. Komitmen yang dipegang membawanya untuk terus maju menghadapi rintangan. 

"Para top founder cenderung memiliki kepribadian yang kompulsif dan hampir obsesif. Ketika mereka mencapai suatu titik, mereka tidak akan membiarkannya pergi bergitu saja," kata Frank.

Seperti yang dilakukan Steve Jobs yang memulai 'proyek garasi' menjadi perusahaan yang sekarang telah memiliki 123.000 karyawan. Keteguhannya dalam memegang ide yang ia punya dan tidak menghiraukan orang lain yang selalu mengatakan 'tidak mungkin', dan ia mengubahnya menjadi mungkin dan sukses seperti sekarang. 

Baca juga: Ini, Lho, Tren Ekonomi Digital Tahun 2019!

Berkorban

Scott Galloway, profesor marketing di New York University mengatakan bahwa para founder sukses tidak tanggung-tanggung dalam berkorban demi tujuan yang mereka inginkan. Mereka tidak takut mengambil risiko yang tidak terprediksi. Mereka selalu percaya bahwa  dapat mengubah ide menjadi sesuatu yang bernilai tinggi meskipun ada tantangan yang menghalangi.

Elon Musk, CEO Tesla contohnya, seorang entrepreneur yang percaya diri mengambil risiko mengembangkan mobil sport elektrik yang belum pernah ada sebelumnya dan akhirnya ia berhasil seperti sekarang ini. "Memulai sebuah perusahaan seperti meminum air di tepi jurang," kata Musk melalui Fast Company.

Baca juga: Apa Arti Kesuksesan Bagi Elon Musk?

"Yang membedakan dari seorang entrepeneur dengan orang lain adalah daya tahan dan kemampuannya dalam mempelajari risiko," kata Galloway yang menulis tentang persamaan karakteristik founder Apple, Amazon, Facebook dan Google di New York Times.

Baca juga: Anak Muda Gampang Tertular Virus Entrepreneur

  • Editor: Dikdik Taufik Hidayat
  • Sumber: CNBC, Fast Company, Forbes
TAGS
RECOMMENDATION

Apa Sih Entrepreneur?

Entrepreneurship biasanya diajarkan hanya sebatas bagaimana menjadi pengusaha sehingga lupa esensinya.

Senin, 13 Agustus 2018 | 03:41 WIB
LATEST ARTICLE

KASKUS Ingin Komunitas Lebih Melek Hukum

Platform komunitas online terbesar di Indonesia, KASKUS, mengumumkan investasi pada KontrakHukum.com. Targetnya, komunitas di seluruh Indonesia bisa lebih melek hukum.

Rabu, 14 November 2018 | 15:20 WIB