4 Tips Membangun Merek Game
Kampanye secara tradisional, seperti mencari ide, membuat desain, membangunnya, merilisnya, dan mengulanginya terus, tidak cukup berguna dalam membangun game
Senin, 23 April 2018 | 10:55 WIB
Latihan membangun tim kerja biasanya menimbulkan lebih banyak kecanggungan daripada kegembiraan di antara para pekerja. Kepercayaan jatuh, membangun "menara" bersama dan interaksi keterpaksaan lainnya kadang-kadang dapat melukai kohesi tim.
Untuk mengatasi "getaran" negatif yang kadang timbul dari kegiatan membangun tim kerja, banyak perusahaan memilih kegiatan yang menarik bagi pekerja yang lebih muda. Sementara itu bisa berarti mengunjungi ruangan kebersamaan atau "melempar kapak", para pekerja di Podium (salah satu startup yang berkantor pusat di Utah, Amerika Serikat) telah menemukan kegiatan penuh aksi untuk memfasilitasi ikatan antara rekan kerja: Fortnite.
"Saya pikir permainan sangat penting ... sepanjang sejarah manusia," kata Eric Rea, CEO dan salah satu pendiri Podium. "Sebagai CEO dari perusahaan yang 89%-nya milenial, saya pikir Fortnite adalah versi generasi kami [dari konsep itu]."
Dengan perguruan tinggi yang menawarkan beasiswa Fortnite dan permainan yang menghasilkan lebih dari USD 200 juta sebulan, lebih dari setahun yang lalu, tak ada keraguan bahwa Epic Games yang populer masih menarik perhatian sejumlah besar masyarakat.
Sementara popularitas Fortnite menjelaskan minat tim Podium, bagaimana memainkan game ini dapat membantu membangun kepercayaan dan kerja sama di antara karyawan mereka? Apa yang dapat dipelajari perusahaan lain dari pendekatan tidak konvensional startup ini untuk membangun tim kerja?
Baca juga: Bisnis Permainan yang Bukan Main-Main
Permainan seperti Fortnite, PlayerUnknown's Battlegrounds, dan Apex Legends sangat populer di kalangan jutaan pemain. Permainan "battle royale" ini mengumpulkan hingga 100 pemain ke area bermain di mana mereka dipaksa menemukan senjata dan persediaan sendiri sebelum menghadapi lawan. Pemain atau tim pemain terakhir yang masih berdiri adalah pemenangnya.
Fortnite adalah game paling populer di genre ini karena dapat dimainkan gratis. Begitu selebritas dan streamer utama (mereka yang memiliki lebih dari 40.000 penonton reguler) di Twitch (situs layanan video yang memungkinkan pengguna meng-upload, melakukan live streaming, dan gameplay melalui konsol Xbox dan PlayStation 4 ke ribuan pemirsa secara real-time) mulai memainkannya, anak-anak pun tertarik, dan segera, begitu pun orang tua mereka. Rea mengatakan itu bukan timnya, tetapi anak-anak mereka yang awalnya membawa permainan, menjadi perhatian perusahaan.
"Salah satu anggota tim eksekutif kami kembali dari akhir pekan dan memberi tahu tentang pertandingan ini: ia bermain dengan kedua putranya dan itu adalah sesuatu yang harus kami coba," kata Rea. "Dalam beberapa hari, kami benar-benar memainkannya."
Karena permainan ini dapat dimainkan di perangkat Android dan iOS, tim kerja Rea dengan cepat mengunduh aplikasi dan mulai bermain bersama jika memungkinkan. Segera, mereka masuk ke dalam permainan yang "cukup cepat sehingga bisa memasukkannya ke dalam jadwal kami sebagai salah satu cara beristirahat."
"Apakah kita berada di SkyClub menunggu penerbangan atau menyelesaikan pertemuan lebih awal, itu adalah sebuah "hadiah" yang bisa kita nikmati," katanya. "Itu melampaui semua perbedaan, hierarki, dan itu sangat berarti buat kami."
Baca juga: 8 Pengembang Aplikasi Game Wakili RI ke Amerika
Permainan video dan tanggung jawab terkadang tak berjalan seiring. Pemain dapat dengan mudah terjebak dalam permainan dan menghabiskan waktu saat memainkannya. Karena hanya memainkan pertandingan singkat, Podium tak memiliki masalah dengan hal tersebut.
"Saya pikir ini semacam stereotip budaya permainan yang belum benar-benar dimainkan di sini," kata Rea. "Fortnite bagus karena pertandingan biasanya hanya berjalan 20 menit, jadi Anda bisa masuk dalam permainan dan kembali bekerja dengan sangat mudah."
Mungkin elemen kunci dimainkannya Fortnite sebagai sarana membangun tim kerja adalah karena sifat permainannya yang harus saling bekerja sama. Saat bermain dalam tim, pemain harus "memanggil" posisi musuh dan berbagi posisi saat diperlukan. Tingkat kerja sama seperti itu dapat dengan mudah ditemukan di video game lain.
Dengan sekitar seperempat staf Podium sekarang terlibat dalam pertempuran Fortnite reguler, Rea mengatakan dia melihat peningkatan jumlah kohesi antar departemen karena hambatan yang dibangun di tempat kerja "dihancurkan" secara online.
Baca juga: Kolaborasi Jadi Kunci Sukses Developer Aplikasi dan Game
Meskipun video game seperti Fortnite tidak membawa dampak pada kemajuan bisnis, Rea mengatakan permainan ini telah membantu anggota tim keluar dari "cangkang" mereka.
"Ketika kami menjadi lebih baik sebagai pasukan, kedengarannya mungkin berlebihan, tapi kami benar-benar mengembangkan peran kepemimpinan dalam permainan dimana semuanya akan berotasi," katanya. "Kamu bisa menjadi pemain utama pada satu game dan menjadi yang paling belakang pada permainan berikutnya. Ketika permainan itu langsung diikuti dengan pekerjaan yang sesungguhnya, kamu mulai melihat interaksi aktif yang muncul yang tidak ada sebelum permainan tersebut dimainkan."
Wah, keren juga, ya? Bisa dicoba, nih...
Baca juga: Nih Dia, 8 Board Game Unggulan Indonesia di Pameran Internasional!
Kampanye secara tradisional, seperti mencari ide, membuat desain, membangunnya, merilisnya, dan mengulanginya terus, tidak cukup berguna dalam membangun game
Senin, 23 April 2018 | 10:55 WIB
Mfun melebarkan sayapnya ke Indonesia, membawa platform blockchain miliknya dengan misi membangun ekosistem terbuka dan terpercaya bagi industri game dan aplikasi
Jumat, 11 Mei 2018 | 12:50 WIB
Kalau kamu senang bermain board game, mungkin kamu juga tertarik untuk coba-coba membuat game sendiri. Bagaimana caranya?
Minggu, 7 Oktober 2018 | 12:25 WIB
“Dunia itu mencari sesuatu yang baru. Jadi, percaya diri lah pada konten Indonesia. Percaya diri pada produk kreatif Indonesia," ujar Joshua Simandjuntak.
Jumat, 26 Oktober 2018 | 16:15 WIB
Sebuah kelas game design akan membimbing peserta menelusuri metode yang diperlukan dalam membuat game sendiri.
Jumat, 22 Februari 2019 | 09:30 WIB
Pernah merasa otak tiba-tiba "hang" atau susah fokus padahal tidak sedang mengerjakan tugas berat? Yuk, cari tahu apakah kamu sedang mengalami salah satu dari 8 masalah mental era digital yang sering tidak kita sadari ini!
Rabu, 8 April 2026 | 17:11 WIB
Demi keamanan anak di dunia digital, Roblox berencana menghadirkan mode offline, langkah ini jadi bagian dari adaptasi terhadap aturan baru di Indonesia.
Senin, 30 Maret 2026 | 17:12 WIB
Laporan ini menyusun tujuh tren penting di bidang keamanan yang mempengaruhi perkembangan strategi keamanan ke depannya. Tujuh tren tersebut adalah:
Senin, 30 Maret 2026 | 16:27 WIB
Aturan pandemi global kembali memanas, hasilnya bisa menentukan akses kesehatan yang lebih adil atau tidak di masa depan.
Jumat, 20 Maret 2026 | 22:51 WIB
Investasi emas kini lebih mudah, aman, dan tepercaya melalui fitur eMAS di aplikasi DANA.
Kamis, 12 Maret 2026 | 11:55 WIB
Mau mencoba tren AI "Caricature of Me and My Job"? Mau dibuat lebih personal dan akurat? Yuk simak informasi berikut!
Rabu, 18 Februari 2026 | 16:28 WIB
Google akan mengirimkan server berukuran kecil ke luar angkasa. Mereka bekerja sama dengan perusahaan bernama planet untuk meluncurkan dua satelit prototipe yang membawa server tersebut.
Rabu, 18 Februari 2026 | 16:17 WIB
Mahasiswa dari berbagai jurusan membutuhkan pemahaman dasar tentang Data Analytics. Kalau kamu tertarik mulai mengenal Data Analytics tanpa harus langsung berkomitmen besar, Yuk simak informasi berikut!
Kamis, 12 Februari 2026 | 11:52 WIB
Mengapa Orang Tua Menjadi Target Empuk Penipu?
Rabu, 14 Januari 2026 | 17:25 WIB
Simak lima tips sederhana dari DANA untuk melindungi dompet digitalmu supaya terhindar dari kejahatan siber!
Rabu, 31 Desember 2025 | 10:05 WIB
Pembaruan Google Photo membawa editing ke level yang sangat personal dan mendalam, seperti:
Selasa, 30 Desember 2025 | 18:08 WIB
Selain itu, pertumbuhan di level pedesaan ini sejalan dengan data makro nasional. Bank Indonesia (BI) mencatat, hingga September 2025, jumlah pengguna QRIS di Indonesia telah berhasil menembus angka 45 juta pengguna.
Senin, 10 November 2025 | 10:11 WIB
Fitur-fitur baru ini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu reator, mulai dari tahap awal pembuatan ide hingga proses penyutingan video panjang.
Selasa, 4 November 2025 | 17:58 WIB
Pada akhir 2025 nanti, diperkirakan sekitar sepertiga dari smartphone yang terjual di seluruh dunia akan punya fitur AI generatif. Bukan hanya ponsel premium, tapi juga kelas menengah.
Kamis, 2 Oktober 2025 | 17:06 WIB
Platform pencari kerja Pintarnya menggabungkan kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat proses rekrutmen, sekaligus membuka akses ke layanan keuangan bagi pekerja sektor informal.
Senin, 22 September 2025 | 13:46 WIB