LogoDIGINATION LOGO

Bikin Game Tapi untuk Belajar, Bisa Ya?

Oleh Alfhatin Pratama Jumat, 22 Februari 2019 | 09:30 WIB
Share
Belajar soal integritas lewat game dari KPK (dok. Ludenara)
Share

Susah mengajak anak belajar? Lebih gampang ajak anak main kan? Sebelum marah-marah dan kesal sendiri, coba ingat-ingat masa muda dulu. Bukankah memang lebih seru main daripada belajar?

Hal ini yang jadi pesan tersirat dalam kegiatan Ludenara, sebuah non-profit yang percaya penuh pada potensi game untuk pembelajaran. Kegiatan pertama mereka di 2019 ini bertajuk Festival Belajar Main dan telah diadakan 12-13 Januari lalu.

Selama dua hari di Festival Belajar Main, berbagai bukti disajikan bahwa bermain juga bisa jadi bagian dari belajar. Bahkan di hari kedua peserta merasakan serunya metode Game Based Learning untuk menyampaikan pelajaran apapun dengan game apapun.

“Termasuk pakai Mobile Legend untuk belajar bisa juga Mas?” begitu kurang lebih pertanyaan peserta pada Eko Nugroho, Founder Ludenara yang juga Game Designer finalis di Gamification World Award.

Eko mengatakan, bisa saja hal itu dilakukan, namun tentunya butuh untuk dipahami dulu game-nya seperti apa dan tujuan pembelajaran apa yang ingin dicapai.

Dalam kegiatan itu, game yang didemokan merupakan jenis tabletop game, terutama board game. Menurut Eko, board game punya keunggulan dari sisi kemudahan untuk dimodifikasi sesuai tujuan pembelajaran.

Baca juga: Ini Dia Peluang Karier di Industri Game

ilustrasi bermain board game (Shutterstock)

Kelas Game Design

Jika di Festival Belajar Main peserta menggunakan game yang sudah ada, Maret ini Ludenara akan menggelar kegiatan yang lebih seru. Kegiatan bernama Kelas Game Design itu merupakan workshop untuk membuat game sendiri, sehingga bisa dioptimalkan untuk tujuan yang diinginkan.

Selama dua hari, peserta akan dibimbing untuk menelusuri metode yang diperlukan dalam membuat game sendiri. Tujuan akhirnya adalah peserta dapat membuat game yang dioptimalkan untuk proses pembelajaran.

Kelas Game Design ini memang diutamakan bagi orang tua dan guru. Diharapkan bisa membantu guru dalam meningkatkan semangat belajar murid di kelas ataupun orangtua dalam membuat kegiatan belajar yang seru di rumah.

Kegiatan itu akan menghadirkan materi seperti dasar-dasar proses game design, game-based learning, penyusunan konsep game untuk pembelajaran dengan fokus area: Matematika, Sains, dan Literasi hingga pengembangan prototype dan play testing

Kelas Game Design akan menghadirkan mentor dari tim Kummara, pionir pengembangan games for learning dan games based learning di Indonesia. Kummara selama ini telah mengembangkan game untuk kebutuhan tersebut, seperti game untuk Komisi Pemberantasan Korupsi, Badan Amil Zakat Nasional maupun untuk berbagai korporasi di Indonesia.

Peserta juga memiliki peluang untuk diterbitkan gamenya lewat mitra Ludenara yang sesuai. Tentunya, ini tergantung dari game design yang dihasilkan.

Kelas Game Design Ludenara akan diadakan pada 2-3 Maret 2019 di SD Gagas Ceria, Bandung. Pendaftaran bisa dilakukan melalui https://bit.ly/daftar-kgd.

Baca juga: Bisnis Board Game? Percayalah Pada Konten Lokal!

 

  • Editor: Wicak Hidayat
TAGS
RECOMMENDATION

4 Tips Membangun Merek Game

Kampanye secara tradisional, seperti mencari ide, membuat desain, membangunnya, merilisnya, dan mengulanginya terus, tidak cukup berguna dalam membangun game

Senin, 23 April 2018 | 10:55 WIB

Blockchain Solusi Untuk Industri Game Lokal

Mfun melebarkan sayapnya ke Indonesia, membawa platform blockchain miliknya dengan misi membangun ekosistem terbuka dan terpercaya bagi industri game dan aplikasi

Jumat, 11 Mei 2018 | 12:50 WIB
LATEST ARTICLE

Mudahnya Berbisnis di Uni Eropa Lewat Estonia...

Era digital yang semakin terbuka tanpa memandang batas membuat peluang berbisnis juga ikut terbuka lebar. Salah satunya melalui program asal Estonia ini. Yuk, cari tahu lebih lengkap!

Selasa, 18 Juni 2019 | 08:15 WIB

Memata-matai Karyawan, Boleh Nggak Sih?

Penting mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan tenaga kerja Anda, namun banyak karyawan menolak untuk dipantau. Tetapi jika pemantauan dilakukan dengan benar, karyawanlah yang mendapat manfaatnya

Sabtu, 15 Juni 2019 | 09:30 WIB