LogoDIGINATION LOGO

Jangan Pusing, Ini 5 Cara Memperlakukan Millenials di Tempat Kerja

Oleh Aulia Annaisabiru Ermadi Sabtu, 17 November 2018 | 08:25 WIB
Share
Ilustasi millenials di lingkungan kerja (shutterstock)
Share

Generasi millenial telah mendominasi bursa tenaga kerja. Menurut data dari Pew Research Center, pada tahun 2017, sebanyak 56 juta generasi millenial menjadi angkatan kerja bila dibandingkan dengan generasi X yang hanya menyumbang 53 juta dan baby boomer sebesar 41 juta.

Bahkan dalam delapan tahun ke depan, generasi yang juga disebut sebagai generasi Y ini diprediksi akan mengisi 75% angkatan kerja. Generasi ini pun mencuri perhatian banyak perusahaan dan pelaku bisnis karena diperkirakan generasi ini lah yang akan memiliki pengaruh dalam dunia bisnis dan perekonomian negara dalam skala besar.

Lalu pertanyaannya, bagaimana cara memperlakukan generasi ini dalam lingkungan kerja guna memaksimalkan potensinya?

Baca juga: Begini Kebiasaan Belanja Millenials

Butuh teladan

Generasi sebelumnya nyaman dalam lingkungan kerja kaku, di mana bos berperan sebagai atasan yang ditakuti dengan peraturan perusahaan yang rigid. Generasi millenial umumnya akan merasa tertekan dalam skenario tersebut.

Daripada memiliki atasan yang menakutkan, generasi millenial lebih mendambakan adanya sosok pemimpin dalam perusahaan. Mereka menginginkan atasan yang mampu memberikannya bimbingan dan terbuka untuk diajak berdiskusi. Karena generasi ini sangat menghagai pencapaian dan mereka segan pada orang-orang hebat.

Baca juga: Gaya Maksimal dengan 5 Produk Lokal Ala Millenial

Menguasai teknologi 

Generasi millenial adalah generasi pertama yang tumbuh dengan internet sebagai bagian dari kehidupan sehari-harinya. Dalam bekerja, generasi ini menginginkan akses yang luas pada teknologi. Pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki generasi ini dapat membantu mengembangkan sistem komunikasi dan teknologi perusahaan baik secara internal maupun eksternal.

Sifat tech-savvy millenial ini sebenarnya merupakan sebuah keuntungan bagi perusahaan, karena jika ada teknologi atau perangkat baru hanya  butuh waktu singkat untuk generasi ini mempelajarinya.

Baca juga: Beli Konten Digital, Millenial Lebih Suka Potong Pulsa

Ilustasi millenials di lingkungan kerja (shutterstock)

Fleksibel

Hasil penelitian Deloitte menunjukkan bahwa lebih dari 40 persen generasi millenial akan berganti pekerjaan dalam kurun waktu dua tahun dan kurang dari 30 persen dari populasi ingin berada dalam pekerjaan yang sama selama lebih dari lima tahun.

Survei yang sama juga menunjukkan bahwa generasi ini akan bersedia untuk tetap di satu perusahaan yang memiliki lingkungan kerja dengan kultur yang kreatif dan inklusif, serta mendukung diskusi secara terbuka.

Baca juga: Instagram Bisa Jadi Lapak Jualan Terampuh untuk Konsumen Millenial, Kenapa?

Fokus pada hasil

Hasil pencarian teratas Google tetang millenial adalah artikel yang membahas betapa malas, egois dan manjanya generasi ini. Nyatanya tidak selamanya seperti itu, Qualtrics, sebuah perusahaan teknologi melakukan riset terhadap generasi millenial menemukan bahwa persepsi-persepsi negatif tersebut ada karena keterputusan antara generasi millenial dengan generasi sebelumnya terkait struktur dan proses. 

Faktanya, generasi millenial juga merupakan pekerja keras dan tidak egois. Mereka hanya tidak suka untuk diatur. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih memiliki jadwal kerja tetap dan aturan berpakaian, generasi ini lebih fokus pada hasil akhir. Untuk itu perlu mengendurkan beberapa aturan seperti jadwal yang fleksibel dan kode berpakaian bebas yang membuat mereka nyaman bekerja.

Baca juga: Anak Muda Gampang Tertular Virus Entrepreneur

Bekerja remote

Mengabungkan berbagai sifat millenial yang paham pada teknologi dan berorientasi pada hasil, generasi ini lebih suka untuk dapat bekerja dimana saja atau bahkan tidak harus di kantor. Karena menurutnya yang terpenting adalah pekerjaan dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu. 

 

Millenial memang unik, mereka memiliki pandangannya sendiri dalam melihat dunia. Oleh karenanya, memahami mereka seiring dengan perubahan dan pertumbuhan perusahaan dapat membantu memaksimalkan potensi millenial di tempat kerja. 

Baca juga: Siap Pensiun, Jack Ma Panutan Entrepreneur Muda

 

  • Editor: Wicak Hidayat
  • Sumber: The Balance Careers, Due
TAGS
RECOMMENDATION

3 Tips Ubah Masalah Pelanggan Jadi Sukses

Menggunakan poin permasalahan yang dimiliki oleh pelanggan bisa menjadi sebuah kesuksesan bisnis, namun kita harus menyentuh bagian terdalam dari konsumen, yang sebagian besar adalah kebutuhan khusus

Selasa, 24 April 2018 | 16:37 WIB
LATEST ARTICLE

Kuliner Passionmu? Ikutan Ini, Nyok!

Permasalahan dalam Industri kuliner di Indonesia cukup rumit. Tapi, jangan khawatir! Yuk, tengok potensi dan peluangnya.

Senin, 22 April 2019 | 17:13 WIB

Masih Berharap Uang Tunai Dalam Dompet Konsumen?

Semakin praktis dan populernya layanan dompet digital sedikit-banyak akan mendorong konsumen untuk ganti dompet. Masih berharap ada uang tunai dalam dompet konsumen?

Jumat, 5 April 2019 | 10:47 WIB