LogoDIGINATION LOGO

Ini Dia Konsep Smart City ala TIBCO!

author Oleh Alfhatin Pratama Selasa, 30 Juli 2019 | 11:15 WIB
Share
Ilustrasi Smart City (shutterstock)
Share

Smart City, menurut e-Systems Laboratory di Universitas Gadjah Mada, merupakan suatu konsep kota inovatif yang memanfaatkan teknologi informasi, komunikasi, dan teknologi lainnya. Tujuannya meningkatkan kualitas hidup, efisiensi pelaksanaan dan pelayanan kota serta tingkat kompetisi suatu kota. Tak hanya mendukung kebutuhan generasi saat ini, tapi juga kebutuhan mendatang terkait aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Beberapa kota yang telah mencoba menerapkan Smart City, meskipun masih dalam lingkup terbatas, adalah Jakarta dengan adanya pengintegrasian transportasi publik, Surabaya dengan sistem tilang online kendaraan bermotor, dan Yogyakarta yang ingin menerapkan Smart Environment, Living, People, Economy, dan Governance.

Untuk menerapkan konsep ini secara keseluruhan memang butuh proses yang panjang, baik waktu dan uang pastinya. Nah, Tibco, salah satu perusahaan software termuka yang berbasis di Palo Alto, California, Amerika Serikat mulai masif memperkenalkan konsep Smart City-nya di Indonesia.

"Konsep Smart City kami berangkat dari spirit green environment, artinya bagaimana kita semua kembali ke alam. Kalau kita bicara soal alam, artinya bagaimana menghemat sumber daya alam," ujar Seno Soemadji, Country Manager TIBCO Software Inc. for Indonesia dalam wawancara eksklusif dengan Digination.id di Jakarta, minggu lalu.

Baca juga: Sinergi Go-Jek dan Pemkab Banyuwangi Dukung Gerakan Menuju 100 Smart City

Seno Seomadji, Country Manager TIBCO Software Inc. for Indonesia | Foto: Alfhatin Pratama
"Smart City kami salah satu fokusnya adalah bagaimana mengefisienkan penggunaan bahan bakar atau bagaimana kita mengoptimalkan penggunaan cahaya matahari untuk gedung, kalau kita bicara dalam konteks smart building," tambah Seno.

Selanjutnya, sarjana Akuntansi dari Universitas Indonesia ini mengatakan bahwa pilar kedua dalam membangun Smart City adalah bagaimana meningkatkan kualitas hidup masyarakat. "Contoh kalau kita bicara soal transportasi, bagaimana transportasi seoptimal mungkin digunakan untuk mengangkut penumpang dan bagaimana penumpang tersebut merasa nyaman dalam menggunakan transportasi publik," ungkapnya.

Bicara transportasi publik, lanjutnya, sebenarnya kita bicara soal supply chain dimana ada supply dan juga ada demand. Pertanyaan dasarnya adalah bagaimana supply terhadap kapasitas transportasi tersebut bisa mengangkut penumpang dengan optimal.

"Poin penting lainnya adalah membangun intergrasi platform yang terkolaborasi. Kalau kita bicara command center, kita bicara tentang kolaborasi. The best supply and demand itu ada kolaborasi antara supply dan demand," katanya.

Baca juga: Menuju Smart City, Pemerintah Ajak Kolaborasi Bangun Infrastruktur TIK

Ilustrasi Smart City (shutterstock)
"Berapa demand yang datang, dijawab oleh supply yang sesuai. Bahkan, dalam konteks yang lebih canggih, kita bicara bagaimana mengoptimalkan supply untuk mengantisipasi demand yang akan terjadi. Katakanlah kalau kita bicara transportasi publik, bagaimana mengantisipasi di halte tertentu, pada jam tertentu akan ada kenaikan penumpang. Itulah yang diatur command center, yang bisa berpikir dan memprediksi," ungkap Seno.

Tentunya, menurut Seno, pada akhirnya di balik teknologi yang canggih juga ada manusia. Teknologi tetap butuh orang-orang yang bisa menerjemahkan kondisi-kondisi tertentu yang terjadi secara tiba-tiba. Manusia bisa melakukan intersepsi atau memasukkan peranan berpikirnya terhadap proses supply dan demand itu.

"Nah itu kira-kira mengambarkan konsep smart city kami. Jadi, bisa kita bayangkan dari sisi proses tadi ada streaming, emerging data, thinking, rule engine, filtering data, prediction, dan actioning," tambahnya.

"Dalam pandangan saya pribadi, kita nggak bisa mikir hanya dua atau tiga langkah ke depan. Kalau orang lain dua atau tiga langkah ke depan, kita harus sepuluh atau dua puluh langkah ke depan untuk mengejar ketertinggalan. Sehingga ketika kita melakukan adopsi teknologi, kita bisa catching up, bukan lagi kita sekadar mengejar ketertinggalan," tutupnya.

Indonesia pasti bisa, yuk kita dukung!

Baca juga: Pemerintah Siapkan Road Map Smart City

  • Editor: Dikdik Taufik Hidayat
  • Sumber: wawancara eksklusif
TAGS
RECOMMENDATION

Implementasi Smart City Bisa Dengan Kolaborasi

Smart city atau kalau di dalam Bahasa Indonesia disebut dengan Kota Cerdas merupakan kota masa depan yang banyak diidam-idamkan oleh banyak kota, tak terkecuali kota-kota di Indonesia

Senin, 23 Juli 2018 | 15:31 WIB

Command Center, Smart City & AI

Kadang Command Center hanya jadi tempat foto bersama kunjungan tamu. Saat ada tamu dihidupkan, setelah tamu pulang mati lagi.

Senin, 20 Agustus 2018 | 11:50 WIB
LATEST ARTICLE

Mau Mulai Bisnis? Keluarlah dari Zona Nyaman!

Zona nyaman memang membuat kita sulit beranjak. Tetapi, untuk memulai bisnis kita harus keluar dari zona nyaman tersebut. Yuk, simak cerita CEO dan Co-Founder Logisly tentang bagaimana ia keluar dari zona nyaman dan memulai bisnisnya.

Senin, 19 Agustus 2019 | 14:28 WIB

Ini Dia Konsep Smart City ala TIBCO!

Konsep smart city banyak ditawarkan oleh beberapa perusahaan, salah satunya TIBCO Software Inc. Seperti apa sih konsepnya?

Selasa, 30 Juli 2019 | 11:15 WIB