LogoDIGINATION LOGO

Bayar Pajak? Gak Usah Takut!

author Oleh Alfhatin Pratama Sabtu, 4 Mei 2019 | 09:00 WIB
Share
Hah, bayar pajak? (shutterstock)
Share

Kalau bicara tentang perpajakan di Indonesia, biasanya ada saja beberapa orang yang kurang senang. Kesal uang pembayaran pajaknya dikorupsi, malas ama ngantri di Kantor Pelayanan Pajak, bete ngisi berkas yang tebal, atau takut hartanya banyak dipajakin.

Di era digital saat ini, semestinya hal-hal semacam itu perlahan hilang. Perkembangan teknologi yang masif mulai dimanfaatkan pemerintah untuk meningkatkan pelayanan pajak. Hal ini mestinya membuat wajib pajak tak perlu khawatir lagi soal pelayanan yang buruk.

Di Mekari Conference pada sesi "Welcoming the New Era of Digital Taxation" (25/4), Hestu Yoga Saksama, Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat, Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan angkat bicara.

Ia menyampaikan kemajuan perpajakan berbasis teknologi dan bagaiman Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dapat merasakan mudahnya membayar pajak dengan adanya transformasi digital.

"Dulu berkasnya tebel, antriannya panjang. Sekarang, bisa dari rumah, dari kafe, sambil nonton tv. Sekarang banyak layanan yang kami lakukan sudah bisa selesai real time (saat itu juga)," kata Hestu membandingkan antara pelayanan pajak dahulu dan sekarang.

Baca juga: Pajak Final Dipangkas, UMKM Harus Tumbuh Melompat

Waktunya bayar pajak... (shutterstock)
Dukungan Pemerintah terhadap Wajib Pajak

Pria lulusan S1 jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada ini mengatakan bahwa Direktorat Jenderal Pajak (DJP) serius mengimplementasikan teknologi pada pelayanan pajak. Beberapa fitur diantaranya e-Reg untuk pendaftaran Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan e-filling untuk pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT). Jika koneksi internet kacrut, e-filling dilengkapi dengan e-form, yaitu formulir pajak yang dapat diunduh.

Selanjutnya ada e-billing, sistem pembayaran elektronik. Ada juga fitur Belajar Pajak berisi video pengetahuan dasar seputar perpajakan. Fitur lainnya bisa dilihat langsung di situs resmi DJP.

Baca juga: OnlinePajak Mulai Gunakan Blockchain

Ilustrasi formulir pengisian pajak (shutterstock)
Menurut Hestu, digitalisasi perpajakan Indonesia tak hanya merebak di internal DJP saja tapi juga berpengaruh pada Wajib Pajak. "Tahun 2019, dari data yang masuk hingga minggu ini, Wajib Pajak yang mengisi SPT manual hanya 6%. Sisanya, sekitar 93% - 94% sudah melakukan e-filling. Mereka datang ke Kantor Pelayanan Pajak mungkin cuma meminta eFIN (Electronic Filing Identification Number)," tambahnya.

Tak hanya soal teknologi, Pemerintah juga memberi dukungan melalui regulasi. Contohnya PP No. 23 Tahun 2018 tentang PPh Final 0,5%. Ia menjelaskan, "Bagi pelaku usaha yang obyeknya tak lebih dari Rp4,8 miliar per tahun (biasanya UMKM), pajaknya sangat mudah, cuma 0,5%. Bayarnya pun cukup lewat ATM (Anjungan Tunai Mandiri) juga bisa."

Selain itu, ada juga program Business Development Service (DBS). Program BDS adalah salah satu strategi pembinaan dan pengawasan kepada Wajib Pajak UMKM dalam membina dan mendorong pengembangan usahanya secara berkesinambungan. Ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran (awareness), keterikatan (engagement), dan kepatuhan (compliance) terhadap pajak.

Baca juga: Pajak E-commerce Dinilai Tidak Adil

Reformasi Perpajakan (shutterstock)
Rencana ke depan 

Hestu mengatakan bahwa rencana mereka ke depan adalah bagaimana edukasi perpajakan dapat hadir di marketplace. "Mungkin nantinya bisa daftar NPWP di sana, menghadirkan fitur pencatatan pendapatan yang dapat langsung dikalkulasi untuk kebutuhan perpajakan," tambahnya. Rencana ini masih belum diketahui kapan terealisasi karena masih dicoba untuk mengkomunikasikannya dengan berbagai pihak terkait.

Salah satu langkah yang sedang digarap DJP adalah Reformasi Perpajakan yang ditargetkan selesai tahun 2020. Hal ini menyangkut perubahan sistem perpajakan yang menyeluruh. Ada 5 pilar yang dikerjakan, antara lain organisasi, sumber daya manusia, teknologi informasi dan basis data, proses bisnis, dan peraturan perundang-undangan. 

Dengan adanya pembenahan seperti ini, diharapkan stigma negatif masyarakat terhadap pajak perlahan menghilang. Akhirnya membayar pajak tak perlu diminta lagi, tapi menjadi kebiasaan yang menyenangkan.

Oh, ya, sudah bayar pajak? Hahaay...

Baca juga: idEA Minta Rancangan Peraturan Pajak E-commerce Diuji Publik

  • Editor: Dikdik Taufik Hidayat
TAGS
RECOMMENDATION

Cryptocurrency Untuk Bayar Pajak, Emang Bisa?

Ketika pertama kali muncul, cryptocurrency dianggap sebagai sebuah disrupsi yang besar. Tapi, sekarang sudah berbeda, cryptocurrency digunakan untuk membayar pajak di Ohio, Amerika Serikat.

Kamis, 29 November 2018 | 08:15 WIB
LATEST ARTICLE

Ekonomi Digital Indonesia, Dari Market Place ke Services

Berdasarkan kajian Google, Temasek dan Bain & Company, Indonesia punya potensi ekonomi digital yang paling tinggi dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Bagaimana agar potensi tersebut dapat diraih?

Senin, 17 Februari 2020 | 17:24 WIB

Penerapan Artificial Intelligence di Tokopedia

Artificial Intelligence menjadi salah satu hal yang akan terus menjadi tren pada tahun ini. Bagaimana penerapan AI pada salah satu e-commerce terbesar di Indonesia, Tokopedia?

Kamis, 6 Februari 2020 | 14:47 WIB

Digitalisasi UKM

99,2% pelaku usaha berskala UKM, membangun perekonomian berarti memberikan dukungan bagi UKM; yang salah satunya dengan Digitalisasi UKM

Jumat, 31 Januari 2020 | 14:31 WIB

Trend Teknologi 2020

Kemana arah perkembangan teknologi? Inilah trend teknologi yang akan berkembang pesat pada 2020

Selasa, 28 Januari 2020 | 13:05 WIB

Mau Mulai Bisnis? Keluarlah dari Zona Nyaman!

Zona nyaman memang membuat kita sulit beranjak. Tetapi, untuk memulai bisnis kita harus keluar dari zona nyaman tersebut. Yuk, simak cerita CEO dan Co-Founder Logisly tentang bagaimana ia keluar dari zona nyaman dan memulai bisnisnya.

Senin, 19 Agustus 2019 | 14:28 WIB