LogoDIGINATION LOGO

Buka Toko Online Nggak Boleh Main-Main!

author Oleh Alfhatin Pratama Jumat, 23 Agustus 2019 | 10:08 WIB
Share
Ilustrasi e-commerce (shutterstock)
Share

Berdasarkan data Statista, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 95 juta orang di 2018 dan diprediksi mencapai 149 juta di 2023. Berdasarkan Internet World Stats, tahun 2019 Indonesia menduduki peringkat ke-5 dengan jumlah pengguna internet mencapai 143 juta, naik 7% dari tahun 2000.

Berdasarkan 2018 Global Digital Report dari We Are Social, masyarakat Indonesia yang berusia 16 - 64 tahun menghabiskan waktu 3 jam 23 menit setiap hari di media sosial. Angka ini menempatkan Indonesia di posisi ketiga di dunia.

Dari data tentang internet dan media sosial yang ditampilkan di atas, kedua hal itu merupakan data yang berguna bagi siapa saja. Dari data yang dipaparkan juga, perdagangan elektronik atau yang ramah dengan istilah e-Commerce menjadi hal yang sangat penting di era digital saat ini. Peluang besar telah muncul di depan mata dan e-Commerce bukan lagi sebuah pilihan tapi suatu keharusan.

Baca juga: Commerce Plus, Cara Zoho Dapatkan Legitnya Bisnis E-Commerce di Indonesia

Ilustrasi toko online (shutterstock)
"Indonesia menduduki peringkat ke-5 dalam penggunaan internet. Lalu, apa artinya bagi kita khususnya yang memiliki bisnis online? Artinya, kita sangat ter-expose. Nah, ini adalah kesempatan untuk kita," ujar Amalia Prabowo, Executive Director PT Anugerah Tangkas Transportindo (ATT) dalam diskusi Ekonomi Digital bertajuk "Peranan e-Commerce Dalam Menembus Pasar Global" di Jakarta (16/8).

"Dalam e-Commerce ada peluang, kemudahan, dan kenyamanan. Indahnya e-Commerce adalah ketika ingin melakukan ekspor, kita nggak perlu seperti menggarami laut, semua dihajar. Ketika punya klasifikasi informasi, misal perusahaan furniture harus cari pasar yang sesuai. Produk furniture Indonesia terbaik digunakan di mana? Misal, di Eropa. Nah, dari situ fokus, belajar dan dalami Eropa," tambahnya.

Nah, bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang ingin terjun dalam dunia e-Commerce, salah satunya bisa melalui marketplace, seperti Blibli, Bukalapak, Tokopedia, Shopee, dan lain sebagainya. Tetapi, menurut Amalia, untuk masuk ke marketplace sekarang butuh keseriusan dalam berbisnis. "Jangan ada lagi yang jadi CEO, bukan Chief Executive Officer tapi Chief Everything Officer, ya! Jadi CEO sekaligus kurir, mengurus pekerjaan rumah atau jemput anak," lanjutnya.

Baca juga: Pembeli Adalah Raja Tak Berlaku di eCommerce?

Ilustrasi toko online (shutterstock)
"Oleh karena itu, diperlukan struktur organisasi yang berbeda. Memiliki toko online sekarang bukan pekerjaan sambilan atau paruh waktu. Memiliki toko online sekarang harus menjadi sebuah divisi yang serius. Misalnya, yang menjalankan nggak perlu banyak, 2 orang cukup tapi serius berdedikasi. Jadi, toko online yang dibuat jangan sampai produknya itu-itu saja dan nggak pernah dikunjungi. Nanti, malah menyalahkan marketplace-nya," kata perempuan lulusan Universitas Gadjah Mada itu.

"Untuk terus dikunjungi buyer, apa yang harus dilakukan? Sehari minimal ganti produk, setidaknya, 20 kali melakukan posting. Marketplace punya sistem yang luar biasa, bagaimana menjaga produk dan toko tetap di ranking yang terbaik, keyword sangat penting. Jika hal ini tidak dilakukan dengan sangat serius, maka produk tak akan terpasarkan dengan baik," tambahnya.

Amalia melanjutkan tentang pentingnya berdedikasi pada toko online yang telah didirikan,  "Mengapa harus sangat serius dan berdedikasi? Karena di dalam marketplace atau digital itu, ya borderless atau tanpa batas. Belum lagi soal media sosial, misalnya Instagram, bagaimana lewat tanda pagar atau hashtag yang diberikan pada setiap caption bisa dilihat berbagai pengguna di seluruh dunia. Oleh karena itu, yang paling sederhana lagi, untuk melakukan packaging pada produk harus dengan Bahasa Inggris atau bilingual dengan Bahasa Indonesia," tutup Amalia.

Bagaimana tanggapanmu? UMKM dan UKM sudah siap terjun ke dunia e-Commerce untuk raup peluang besar? Yuk, mulai dari sekarang!

Baca juga: Ramai-ramai Garap Lahan Basah eCommerce Indonesia

  • Editor: Dikdik Taufik Hidayat
TAGS
RECOMMENDATION

Seberapa Penting Generasi Milenial Buat E-Commerce?

Topik tentang generasi milenial atau generasi Y menjadi perbincangan hangat pada ranah ekonomi digital, baik sebagai penggerak maupun pasar. Nah, seberapa penting generasi milenial untuk ekonomi digital?

Rabu, 12 September 2018 | 08:30 WIB
LATEST ARTICLE

Fintech, Gaya Hidup Baru Kaum Urban

Bagaimana perkembangan fintech selama 2019? Laporan dari DailySocial dan App Annie kami rangkum dalam artikel ini

Selasa, 31 Maret 2020 | 11:30 WIB

Tren Penghasilan Aplikasi Mobile

Seiring dengan peningkatan pengguna smart phone, para pembuat aplikasi mobile saat ini sedang mengalami masa keemasannya.

Kamis, 12 Maret 2020 | 11:46 WIB

Kenaikan Belanja Iklan Aplikasi Mobile

Seiring peningkatan mobile aplikasi, nilai pengeluaran belanja iklan pada aplikasi mobile juga mengalami peningkatan. Ini adalah hasil kasjian dari AppsFlyer.

Selasa, 3 Maret 2020 | 15:59 WIB

Ekonomi Digital Indonesia, Dari Market Place ke Services

Berdasarkan kajian Google, Temasek dan Bain & Company, Indonesia punya potensi ekonomi digital yang paling tinggi dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Bagaimana agar potensi tersebut dapat diraih?

Senin, 17 Februari 2020 | 17:24 WIB

Penerapan Artificial Intelligence di Tokopedia

Artificial Intelligence menjadi salah satu hal yang akan terus menjadi tren pada tahun ini. Bagaimana penerapan AI pada salah satu e-commerce terbesar di Indonesia, Tokopedia?

Kamis, 6 Februari 2020 | 14:47 WIB