LogoDIGINATION LOGO

Ramai-ramai Garap Lahan Basah eCommerce Indonesia

Oleh Ana Fauziyah Sabtu, 22 September 2018 | 16:25 WIB
Share
ilustrasi (Shutterstock)
Share

Potensi eCommerce yang besar di Indonesia nampaknya membuat para investor asing kepincut dan ramai-ramai menggarap lahan basah tersebut, tidak terkecuali para raksasa teknologi dari negara tirai bambu China. Para perusahaan teknologi dari China seperti Alibaba Group Holding Ltd., Tencent Holdings Ltd. dan JD.com Inc saat ini tengah gencar berinvestasi pada eCommerce yang beroperasi di tanah air.

Tercatat  Alibaba menginvestasikan US$ 2 miliar di Lazada Indonesia pada Maret lalu, setelah sebelumnya pada Agustus 2017 telah mengucurkan US$ 1,1 miliar ke Tokopedia. Sementara Tencent saat ini memegang 36 persen saham di Sea Ltd. yang memiliki Shopee Indonesia. Tak lupa JD.com yang memiliki anak perusahaan sendiri di Indonesia yaitu JD.ID.

Apakah faktor yang membuat Indonesia menjadi magnet menggiurkan bagi raksasa eCommerce dari negara panda tersebut? Dilansir dari Deal Street Asia, Rabu (19/9), alasan utamanya adalah karena prospek yang dimiliki Indonesia jauh lebih besar dibanding negara lainnya. Selain memliki bentang geografis yang luas dan populasi penduduk yang mencapai 265 juta jiwa, Indonesia juga memiliki penetrasi internet yang sangat tinggi.

Menurut data CLSA, seperti dikutip dari Deal Street Asia, sekitar tiga perempat orang Indonesia berusia 14 tahun ke atas yaitu sekitar 140 juta orang menggunakan Facebook secara teratur. Sekitar setengah dari transaksi belanja online mengalir melalui situs media sosial pada tahun 2014. Tetapi dengan semakin berkembangnya eCommerce, media sosial diperkirakan hanya akan menyumbang 12 persen dari total volume barang dagangan kotor pada tahun 2020.

Bahkan menurut perkiraan CLSA, penjualan eCommerce di Indonesia akan dapat melampaui India dalam dua tahun. Potensi Indonesia di bidang eComerce dianggap akan tumbuh secara signifikan dan melampau India pada tahun 2020 nanti. Indonesia menghasilkan transaksi eCommerce hampir US$ 13 miliar pada tahun 2017, sementara India menghasilkan transaksi senilai US$ 17,8 miliar di India. Mmenurut analis CLSA Paul McKenzie, untuk mengejar India, eCommerce di Indonesia harus menghasilkan setidaknya US$ 4,50 dari setiap transaksi bernilai US$ 100 yang dilakukan di situs mereka.

Baca juga: Arah Kiblat Fintech Indonesia, Amerika atau China?

Jumlah penduduk yang sangat besar dan populasi kelas menengah  yang tumbuh pesat memang membuat Indonesia jadi sasaran empuk untuk pasar eCommerce. Jutaan dolar dana asing mengalir masuk untuk menggarap lahan ini. Dengan berinvestasi di Indonesia, para raksasa teknologi dari China ingin juga mendapatkan akses dan memiliki kemungkinan untuk bertumbuh di luar tembok besar China.

Di sinilah peran pemerintah Indonesia sangat diperlukan, apakah Indonesia akan menjadi pelaku utama di sektor eCommerce di tanah air atau hanya sasaran empuk investor asing?

  • Editor: Wicak Hidayat
  • Sumber: Deal Street Asia
TAGS
RECOMMENDATION

Di China Anda Tidak Butuh Dompet, Cukup Smartphone

Tidak punya uang tunai saat berada di China? Jangan khawatir jika Anda memegang smartphone karena hampir semua transaksi pembayaran di negara panda tersebut, mulai dari membeli sarapan hingga memesan tiket liburan, bisa terlayani dengan uang elektro

Selasa, 7 November 2017 | 07:12 WIB
LATEST ARTICLE

Mudahnya Berbisnis di Uni Eropa Lewat Estonia...

Era digital yang semakin terbuka tanpa memandang batas membuat peluang berbisnis juga ikut terbuka lebar. Salah satunya melalui program asal Estonia ini. Yuk, cari tahu lebih lengkap!

Selasa, 18 Juni 2019 | 08:15 WIB

Memata-matai Karyawan, Boleh Nggak Sih?

Penting mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan tenaga kerja Anda, namun banyak karyawan menolak untuk dipantau. Tetapi jika pemantauan dilakukan dengan benar, karyawanlah yang mendapat manfaatnya

Sabtu, 15 Juni 2019 | 09:30 WIB