LogoDIGINATION LOGO

Teknologi AI "Petani Pintar" Bantu Petani Dapatkan Kredit Usaha

Oleh Dikdik Taufik Hidayat Kamis, 23 Mei 2019 | 13:33 WIB
Share
foto oleh Shutterstock
Share

Petani menghadapi tantangan keterbatasan kepada akses kredit atau sumber pembiayaan ketika dituntut meningkatkan produktivitas dan kualitas. Keterbatasan ini terjadi karena perbankan umumnya menilai sektor pertanian --dan petani- belum bankable. Sebagai solusinya, teknologi Artificial Intelligence (AI) dari Kredit Pintar membantu proses Credit Scoring petani. Modal usaha pun sudah bisa cair dalam waktu singkat. 

 

Keterbatasan petani pada pembiayaan ini tercermin dari penelitan LIPI pada 2017. Diambil dari laman LIPI, sekitar 52% petani mengandalkan modal sendiri, koperasi, kerabat, dan lembaga keuangan non-bank lainnya. Hanya sekitar 15% petani yang mengakses kredit bank. Selebihnya, sebanyak 33% petani memperoleh modal dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM) dan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

 

Masalah keterbatasan akses inilah yang mendorong perusahaan Financial Technology (Fintech) masuk ke sektor pertanian untuk menawarkan solusi berbasis teknologi. Salah satunya adalah Kredit Pintar yang memposisikan diri sebagai peer-to-peer lending platform berbasis teknologi AI. Mereka baru-baru ini meluncurkan Petani Pintar, produk pembiayaan khusus untuk para petani.

Baca juga: Demi Petani Indonesia, Modalku dan TaniHub Bermitra

"Diluncurkannya Petani Pintar didasari oleh permasalahan yang sering dihadapi oleh petani di Indonesia yaitu permodalan. Keterbatasan modal dapat mengakibatkan kuantitas dan kualitas yang dihasilkan tidak maksimal sehingga menjadi penyebab banyaknya petani hidup di bawah garis kemiskinan," ujar Wisely Reinharda Wijaya, CEO Kredit Pintar.

Cukup KTP dan Kartu Keluarga

Perusahaan tersebut pertama kali meluncurkan program ini di Wonodadi, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur. Para petani memperoleh pembiayaan untuk bibit dan pupuk hingga Rp 2.000.000,- hanya bermodalkan KTP dan Kartu Keluarga.

Kredit Petani Pintar bertenor 8 minggu dengan bunga 6,6% p.a. Sebagai ilustrasi, untuk pinjaman Rp2 juta, dua bulan kemudian (8 minggu) yang harus dikembalikan sebesar Rp 2.011.266,-, jadi bunganya hanya Rp11.266,- saja!

Tentunya Kredit Pintar tidak asal menyetujui kredit yang diajukan, ada proses yang harus dilewati para debitur. Nah, Credit scoring Kredit Pintar sepenuhnya telah menggunakan teknologi AI, mulai dari start to the end. Mereka memanfaatkan teknologi Big Data dan Alternative Data dalam proses mitigasi risiko untuk menghasilkan aset pinjaman yang berkualitas. Teknologi ini sudah fully automatic sehingga memudahkan proses pencairan yang hanya membutuhkan waktu 15 menit saja. Tentunya dengan syarat telah lolos dari credit scoring, ya...

Baca juga: Ternyata Blockchain Berguna Untuk Petani, Lho!

CEO Kredit Pintar, Wisely Reinharda Wijaya bersama petani di daerah Wonodadi, Jawa Timur (foto: dok. Kredit Pintar)

 

Permasalahan kredit di sektor Pertanian

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 menyatakan bahwa jumlah pekerja di sektor pertanian masih tergolong besar, yaitu sebanyak 35,7 juta orang. Hal ini menggambarkan bahwa sektor pertanian merupakan sektor yang besar dan membutuhkan solusi terpadu untuk keberlanjutannya. Masalah klasik yang selalu muncul adalah permasalahan akses kreditnya.

Permasalahan akses kredit pertanian dan minat bank yang kurang ditengarai disebabkan oleh kredit yang tidak tepat sasaran. Kemudian adanya subsidi bunga, dan prosedur birokratis yang dikhawatirkan berimplikasi pada tingginya tingkat kredit bermasalah, target tidak terpenuhi, ataupun kredit yang tidak berkelanjutan.

Baca juga: Lewat TaniHub, Hasil Panen Petani Masuk Pasar Ekspor
 
Menurut Yeni, pemerintah perlu melakukan reformasi program kredit khusus sektor pertanian jika ingin meningkatkan akses pembiayaan dan mendorong produktivitas petani. “Pertama terkait proses bisnis. Harus ada skema kredit yang fleksibel, terpercaya, dan terjangkau. Selain itu, penting untuk membuat skema penjaminan kredit pertanian,” jelasnya.

Kedua, terkait ketepatsasaran. Bila pemerintah memunculkan program kartu tani, maka harus berbasis Information Communication Technology (ICT), dan harus ada perbaikan penyaluran kredit Sarana Produksi Pertanian (Saprotan).
 
Ketiga untuk keberlanjutan, harus dipikirkan insentif bagi Lembaga Penyalur kredit, profesionalisme analis kredit, dan peran kelompok tani. “Lalu yang terakhir terkait dampak, maka program kredit yang terintegrasi dengan program konsolidasi lahan perlu juga terintegrasi dengan program pemberdayaan kewirausahaan,” pungkasnya.

Baca juga: Keren, Ini Aplikasi Khusus Untuk Petani!

  • Editor: Deriz Syarief
  • Sumber: Kredit Pintar, LIPI
TAGS
RECOMMENDATION
LATEST ARTICLE