Bahagia ala Metode Konmari. Mmm, Seperti Apa, Ya?

author Oleh Ana Fauziyah Selasa, 29 Januari 2019 | 11:15 WIB
Share
Marie Kondo, Ahli Merapikan Rumah. (Foto: Pexels)
Share

Sebagian besar dari kamu mungkin sudah mengenal Marie Kondo. Penulis buku bestseller berjudul The Life-Changing Magic of Tidying Up yang mengenalkan metode merapikan rumah Konmari. Buku tersebut telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan telah terjual jutaan kopi.

Terkenal dengan slogan khasnya, “Does is sparks joy?”, wanita asal Jepang ini memberikan pedoman dalam kegiatan beres-beres rumah. Barang mana yang masih ingin disimpan atau dibuang, ditentukan berdasarkan rasa bahagia. Jika barang tertentu membuatmu bahagia memilikinya, maka sebaiknya disimpan. Sebaliknya, jika suatu barang membuatmu teringat hal-hal yang tidak menyenangkan, maka kamu boleh menyingkirkannya.

Sukses dengan bukunya yang telah diterbitkan di lebih dari 30 negara, Marie Kondo kini memiliki acara sendiri di Netflix. Acara bertajuk Tidying Up With Marie Kondo tersebut merupakan sebuah reality show yang membantu banyak orang membereskan kekacauan rumah dan mengatur kehidupan mereka di bawah bimbingannya. Ia dianggap telah mengubah gaya hidup banyak orang.

Ternyata selain diaplikasikan untuk kegiatan merapikan dan membereskan rumah, metode Konmari bisa juga diterapkan di tempat kerja dan dunia karier, lho. Apakah kamu memiliki masalah kekacauan dalam pekerjaan? Misalnya rekan kerja yang tidak kooperatif, meja kantor berantakan, ratusan e-mail yang belum sempat terbaca, dan manajemen waktu yang tidak terorganisir. Yap, sudah saatnya kamu membereskan dan mulai menebar kebahagiaan di tempat kerja.

Disarikan dari Huffington Post, Rabu (23/1), berikut cara membereskan kekacauan dalam pekerjaan ala metode Konmari.

Baca juga: Kerja dengan Gembira? Begini Caranya

Merapikan meja kerja bisa membuat bahagia. (Foto: Pexels)
Mulai dengan bertanya pada diri sendiri

Di setiap episode acaranya di Netflix, Marie Kondo selalu memulai dengan bertanya kepada kliennya yang berantakan mengapa mereka ingin rapi sekarang. Jadi sebelum membersihkan meja atau menghapus e-mail di inbox, pertimbangkan dulu mengapa kamu ingin menjadi terorganisir.

Misalnya, apakah kamu merasa menghabiskan lebih banyak waktu mengecek e-mail daripada benar-benar melakukan pekerjaan? Apakah melihat daftar pekerjaan membuat kamu stres? Motivasi yang kuat di awal akan membantumu berkomitmen untuk menjadi lebih terorganisir dalam pekerjaan.

Sementara untuk pekerjaan, tanyakan pada diri sendiri, “Apakah kamu bahagia ketika bersiap pergi ke kantor? Apakah suasana di kantor membuat tidak nyaman? Apakah kamu selalu ingin izin tidak masuk kerja?” Bila kamu merasa tidak bahagia dalam pekerjaan, maka berarti ada sesuatu yang harus dibenahi.

Atur barang-barang sesuai jenisnya

Marie Kondo merekomendasikan untuk menyimpan barang-barang yang serupa bersama-sama. Jangan sampai semua berkas pekerjaan bertumpuk jadi satu di atas meja. Untuk menanganinya, kamu perlu membuat tempat penyimpanan masing-masing. Simpanlah barang-barang sesuai jenisnya dan beri label di tempat penyimpanan.

Simpan berkas menurut urgensinya, mulai dari berkas yang perlu ditindaklanjuti segera, berkas yang bisa menunggu ditangani, dan berkas yang sudah tidak diperlukan dan boleh dibuang. Ini juga berlaku untuk berkas-berkas digital. Rapikan inboxmu dengan mengelola e-mail sesuai kategorinya.

Baca juga: Mau Kerja dengan Bahagia? Usulkan Kantormu Terapkan Ini

Ilustrasi bekerja dengan bahagia. (Foto: Pexels)
Perhatikan perasaan kamu tentang pekerjaan

Metode Konmari mengajarkan untuk memperhatikan dan jujur ​​tentang perasaanmu terhadap lingkungan. Perasaan bahagia adalah landasan untuk menemukan dan mempertahankan karier yang memuaskan. Hal-hal yang tidak memicu kegembiraan dapat menjadi petunjuk untuk pengembangan kariermu.

Orang-orang yang bekerja tanpa merasa bahagia akan bekerja tanpa perasaan layaknya robot. Kenali setiap reaksi dan emosi yang ditimbulkan oleh pekerjaan, termasuk rekan kerja dan atasan. Jika hal-hal tersebut lebih banyak menimbulkan emosi negatif, maka ubah perasaan kamu menjadi positif.

Fokus pada diri sendiri terlebih dulu

Marie Kondo selalu mengingatkan untuk fokus pada diri sendiri. Dalam pekerjaan, hal ini berarti jangan terlalu fokus pada kekacauan rekan kerja dan perusahaan. Kamu memang tidak bisa mengubah sifat atasan atau mengubah sikap rekan kerja yang tidak kooperatif. Namun, kamu bisa berusaha bekerja yang terbaik sesuai kemampuan.

Selalu bersyukur

Menurut metode Konmari, tujuan merapikan adalah belajar untuk menghargai semua yang kamu miliki dan berterima kasih kasih pada barang-barang yang akan dibuang. Tak pelak, karier pasti dipenuhi dengan pertemuan, kolega, dan pekerjaan yang tidak memicu kegembiraan. Latih diri untuk selalu bersyukur dalam keadaan sulit sekali pun, dan berterima kasihlah karena hal itu membuatmu belajar banyak hal.

Tetaplah bersyukur meski sedang menghadapi pekerjaan membosankan, manajer yang kurang mumpuni, atau lingkungan kantor yang buruk. Bersyukur dapat membantumu melepaskan rasa bersalah, kemarahan, dan penyesalan. Dengan begitu kamu selalu punya tenaga dan energi penuh untuk mengerjakan tugas.

Yuk, beres-beres agar lebih bahagia di tempat kerja!

Baca juga: 5 Manfaat Tempat Kerja yang Menyenangkan

  • Editor: Dikdik Taufik Hidayat
  • Sumber: Huffington Post, Konmari
TAGS
RECOMMENDATION

10 Tips untuk Mengalahkan Kebiasaan Menunda Pekerjaan

Kebiasaan suka menunda-nunda pekerjaa ini terkesan sepele namun jika terus-menerus dibiarkan akan berdampak besar. Kebiasaan jelek ini bisa mengganggu karier dan kepercayaan dirimu.

Senin, 19 November 2018 | 14:00 WIB

10 Langkah Jadi Lebih Bahagia di Kantor

Rintangan terbesar untuk menjadi lebih bahagia hanyalah anggapan bahwa diri kita tak berdaya menghadapi hal-hal yang terjadi. Coba ikut tips ini.

Rabu, 9 Januari 2019 | 15:30 WIB
LATEST ARTICLE

Mau Mulai Bisnis? Keluarlah dari Zona Nyaman!

Zona nyaman memang membuat kita sulit beranjak. Tetapi, untuk memulai bisnis kita harus keluar dari zona nyaman tersebut. Yuk, simak cerita CEO dan Co-Founder Logisly tentang bagaimana ia keluar dari zona nyaman dan memulai bisnisnya.

Senin, 19 Agustus 2019 | 14:28 WIB