Teknologi Untuk Meretas Kemiskinan? Bisa!

author Oleh Aulia Annaisabiru Ermadi Sabtu, 20 Oktober 2018 | 16:00 WIB
Share
Ilustrasi kesenjangan ekonomi (shutterstock)
Share

Hadir dalam pertemuan International Monetary Fund (IMF) dan World Bank pada 8-14 Oktober lalu di Bali, Melinda Gates menyempatkan diri untuk berkunjung ke kantor Go-Jek di sana pada Rabu (18/10). Istri pendiri Microsoft ini berbincang dengan driver Go-Jek, mitra Go-Food dan talent Go-Life untuk memahami potensi teknologi digital dalam meningkatkan kesejahteraan dan membangun ekonomi inklusif. Ini merupakan bagian dari tugas Melinda sebagai co-Choir dari Pathways for Prosperity Commission on Technology and Inclusive Development (Komisi Pathways).

Komisi Pathways for Prosperity sendiri baru diluncurkan Januari 2018 oleh Melinda Gates, co-Chair dari Bill & Melinda Gates Foundation; Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati; dan Strive Masiyiwa, pendiri dan pemimpin Econet Wireless, perusahaan telekomunikasi asal Amerika. Misi dari komisi ini adalah untuk mengembangkan teknologi sebagai solusi meretas kemiskinan global.

Baca juga: Teknologi Bisa Atasi Kesenjangan Sosial dan Ekonomi

Bagaimana bisa teknologi menjadi solusi peretasan kemiskinan global?

Ketika spreadsheet diperkenalkan pada tahun 1980, para ahli memprediksi bahwa akan muncul kerugian di sektor Akuntansi. Sejak itu, Amerika telah kehilangan 400 ribu Akuntan. Namun ada yang luput dari prediksi, yaitu kenyataan bahwa spreadsheet juga menciptakan pekerjaan baru berbasis customer service dengan 600 ribu pekerja.

Memang teknologi bagai dua mata pisau, dapat memberikan kemudahaan namun juga membuat kecanduan. Pada akhirnya, teknologi tidak bisa dikatakan baik atau buruk, bergantung bagaimana kita menggunakannya. 

Itu sebabnya mengapa Pathways for Prosperity Commission on Technology and Inclusive Development ada dan mencoba mendorong para pemiliki bisnis bergandeng tangan dengan pemerintah. Ini terutama di negara-negara berkembang untuk memaksimalkan penggunaan teknologi untuk meretas kemiskinan di negaranya.

Baca juga: P2P Lending Mampu Kurangi Angka Kemiskinan

ilustrasi berbagai hal yang melanda dunia (Shutterstock)

Temuan penting komisi ini, inovasi teknologi dapat menciptakan peluang bukan hanya bagi orang-orang dengan ekonomi rendah agar lebih sejahtera tetapi juga bagi negara-negara miskin untuk menumbuhkan ekonomi mereka dengan cara yang baru.

Untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat selama ini hanya melalui 2 jalan utama yaitu manufaktur dan sumber daya alam. Dalam temuannya, Komisi ini mengidentifikasi beberapa jalur baru di era modern ini, salah satunya melalui penggunaan teknologi.

Melinda mengunjungi Go-Jek, layanan ride-sharing yang klaimnya berhasil meningkatkan pendapatan rata-rata mitranya sebesar 44%. Kalau benar, ini juga merupakan bukti pemanfaatan teknologi untuk meretas kemiskinan. Hal tersebut juga membuktikan bahwa perubahan sedang terjadi di seluruh dunia.

Baca juga: 6 Cara Terbaik Microsoft Tangkal Ancaman Siber

Apa yang harus dilakukan oleh para pengusaha dan pemerintah?

Langkah pertama adalah memastikan bahwa semua orang memiliki akses pada teknologi digital, misalnya pada keterjangkauan harga paket internet. Jangkauan telepon seluler telah mencapai 3/4 dunia, tapi akses internet masih terbatas. Seperti di Guinea-Bissau, Afrika, orang harus membayar USD81 untuk paket data 500MB.

Salain itu, masih banyak kelompok masyarakat yang terdiskriminasi dalam mengakses inovasi teknologi. Berdasarkan analisis Komisi ini, di negara-negara bekembang yang masih menganut norma-norma gender, hampir 40% perempuan memiliki akses yang lebih rendah dari pada laki-laki dalam penggunaan internet. Pemerintah tentunya harus turun tangan mengatasii hal tersebut.

Teknologi mungkin hanya alat, tetapi memiliki kekuatan yang luar biasa. Teknologi bisa menjadi alat yang dapat membuka peluang untuk menciptakan kesejahtera dan kesetaraan. 

Semoga!

Baca juga: Hadapi Era Digital, YCAB dan Microsoft Persiapkan Generasi Muda Kota Kupang

  • Editor: Dikdik Taufik Hidayat
  • Sumber: CNN Business
TAGS
RECOMMENDATION
LATEST ARTICLE

Mau Mulai Bisnis? Keluarlah dari Zona Nyaman!

Zona nyaman memang membuat kita sulit beranjak. Tetapi, untuk memulai bisnis kita harus keluar dari zona nyaman tersebut. Yuk, simak cerita CEO dan Co-Founder Logisly tentang bagaimana ia keluar dari zona nyaman dan memulai bisnisnya.

Senin, 19 Agustus 2019 | 14:28 WIB