LogoDIGINATION LOGO

Bisnismu Ritel? Ini Trennya di 2019...

author Oleh Aulia Annaisabiru Ermadi Sabtu, 22 Desember 2018 | 15:00 WIB
Share
Ilustrasi tren ritel 2019 (shutterstock)
Share

Digitalisasi mendisrupsi berbagai industri yang ada, tak terkecuali dunia ritel. Beberapa dekade terakhir, industri ritel mengalami transformasi signifikan. Mulai dari pasar yang berubah dengan cepat hingga pergeseran demografi, sikap dan selera konsumen.

Pada 2019, teknologi masih akan memegang peran besar dalam bisnis ritel. Teknologi dapat mengubah cara konsumen berinteraksi dengan merek favoritnya, mengeser selera dan memunculkan garis pertarungan baru bagi eCommerce. 

Lalu, bagaimana tren ritel 2019? Yuk, simak...

Belanja melibatkan emosi

Sekarang ini, konsumen berbelanja tidak lagi hanya melihat dompet saja tapi juga melibatkan emosi. Generasi milenial lebih menyukai perusahaan yang memikirkan dampak sosial masyarakat daripada yang tidak. Pada gilirannya hal ini juga akan mengubah cara perusahaan memposisikan diri dan memrepresentasikan mereknya. 

"Hari ini, brand harus lebih aktif dan sensitif pada budaya yang ada di sekitarnya dan menjadikannya rumus untuk menginformasikan bagaimana mereka menempatkan dan mengintegrasikan diri," kata Peter Grossman, seorang innovator dan entrepreneur.

Intinya,perusahaan perlu menyesuaikan citra mereknya pada nilai dan pandangan konsumen.

Baca juga: Toko Ritel Tergerus Perkembangan Teknologi. Apa yang Harus Dilakukan?

Ilustrasi pengiriman cepat (shutterstock)
Pengiriman lebih cepat

ECommerce menjadi media berbelanja paling populer saat ini. Bahkan pada September 2018 lalu, sektor ini mengalami kenaikan 11,4%. Persaingan produk dan harga antar pemain ritel pun semakin ketat. Akhirnya garis pembeda bergeser pada proses pengiriman.

Penelitian Marketing charts menemukan bahwa pembeli sekarang sudah tak sabar menunggu paketnya datang. Data tahun 2012, rata-rata orang mau menunggu hingga 5,5 hari, namun di tahun 2017, rata-rata orang hanya mau menunggu maksimal 4,5 hari.

Gebrakan dari Amazon dengan mengelurakan Amazon Prime membuat pengiriman hanya butuh 2 hari. Waktu pengiriman nyatanya menjadi sangat penting dalam bisnis eCommerce jika tetap ingin bertahan. Tren ini diprediksi akan terus berlanjut hingga 2019.

Baca juga: Inilah Jasa Pengiriman Termurah dan Tercepat di 2018

Pengalaman digital

Konsumen sekarang sudah tak lagi fokus pada produk melainkan pada pengalaman. Tren ini didorong dari referensi dan pengalaman generasi milenial. Laporan dari lembaga riset Reis memperkirakan di akhir tahun 2018 ini ada 3.800 toko tutup karena tak mampu beradaptasi.

Tidak mau ketinggalan, Sephora pun mencoba mengaktulisasi diri dengan meluncurkan ''New Sephora Experience". Melalui program ini, Sephora mencoba menciptakan beauty hub dengan aplikasi digital yang memungkinkan pengunjung mencoba produk, melihat tutorial dan berbelanja secara digital.

Munculnya virtual reality, augmented reality dan kemajuan teknologi seluler lainnya mendorong ritel menambahkan pengalaman baru dalam tokonya.

Baca juga: 3 Cara Jitu Cari Perhatian di Dunia Digital

Ilustrasi pengalaman digital (shutterstock)
Subscription eCommerce

Kecocokan selera antara produk dan konsumen menjadi kunci agar barang terjual. Pertemuan tren ini menghasilkan munculnya subscription eCommerce. Layanan ini dapat mengkurasi produk yang disesuaikan dengan selera konsumen dan secara rutin dapat dikirim ke pelanggan.

Menurut survey McKinsey pada tahun 2017, 15% konsumen terdaftar pada layanan subsciption ini. Di tahun 2019 diperkirakan tren ini masih terus belangsung.

Tahun depan diperkirakan tren terbaru ritel masih didorong oleh kemajuan teknologi dan selera konsumen yang terus berubah. Dengan merangkul 4 tren ini dan mempersiapkannya sedini mungkin, kamu dapat melihat tahun 2019 sebagai peluang positif yang menguntungkan.

Ya, kan?

Baca juga: Apa Pentingnya Toko Resmi di Platform E-commerce?

  • Editor: Dikdik Taufik Hidayat
  • Sumber: Forbes, The Balance SMB
TAGS
RECOMMENDATION

3 Kunci Sukses Migrasi ke Bisnis Digital

Kunci terjun ke bisnis digital adalah disiplin untuk melayani dan men-deliver apa yang ditawarkan pada media online tersebut. Awaluddin meramu tips bermigrasi ke bisnis digital dalam 3C, yakni Character, Competence, dan Courage. Yuk disimak

Minggu, 26 Agustus 2018 | 10:00 WIB
LATEST ARTICLE

Mau Mulai Bisnis? Keluarlah dari Zona Nyaman!

Zona nyaman memang membuat kita sulit beranjak. Tetapi, untuk memulai bisnis kita harus keluar dari zona nyaman tersebut. Yuk, simak cerita CEO dan Co-Founder Logisly tentang bagaimana ia keluar dari zona nyaman dan memulai bisnisnya.

Senin, 19 Agustus 2019 | 14:28 WIB

Ini Dia Konsep Smart City ala TIBCO!

Konsep smart city banyak ditawarkan oleh beberapa perusahaan, salah satunya TIBCO Software Inc. Seperti apa sih konsepnya?

Selasa, 30 Juli 2019 | 11:15 WIB