Tak bisa dipungkiri, hidup di era digital memang memberikan kemudahan yang luar biasa. Hanya dengan satu klik, segala informasi dari seluruh dunia langsung tersedia di depan mata dan kita bisa terhubung dengan siapa saja dalam hitungan detik. Kecepatan ini memang membantu kita bergerak lebih praktis.
Namun di sisi lain, era digital juga membawa beban yang tidak terlihat. Kita seolah dipaksa untuk selalu siap dan tanggap terhadap setiap notifikasi yang masuk, hingga tanpa sadar batasan antara waktu pribadi dan waktu untuk dunia luar menjadi semakin kabur.
Di tengah arus informasi yang mengalir deras, gangguan atau distraksi menjadi teman sehari-hari yang sulit dihindari. Kondisi ini bukan tanpa risiko. Paparan layar yang berlebihan dan pola konsumsi informasi yang cepat mulai menunjukkan dampak pada kesehatan mental. Ketahui delapan masalah mental yang seringkali dialami akibat paparan layar berlebih:
- Doomscrolling & Overstimulation: Kebiasaan terus-menerus scrolling layar untuk mengonsumsi berita negatif atau konten tanpa henti membuat otak berada dalam kondisi yang melelahkan. Efeknya otak menjadi tegang dan sulit untuk merasa tenang.
- Digital ADHD: Bukan berarti gangguan medis sejak lahir, namun perilaku yang menyerupai ADHD akibat terbiasa berpindah-pindah aplikasi secara cepat. Hal ini membuat durasi fokus kita terhadap satu tugas menjadi sangat pendek.
- Burnout & Brain Fry: Tuntutan untuk selalu produktif dan "selalu aktif" di media sosial dapat menghabiskan energi mental. Fenomena brain fry membuat seseorang merasa otaknya "hang" sehingga tidak mampu lagi memproses informasi sederhana.
- Brainrot: Istilah ini merujuk pada penurunan daya kritis dan kemampuan berpikir mendalam akibat konsumsi konten berkualitas rendah atau "receh" secara terus-menerus. Otak menjadi terbiasa dengan stimulasi instan tanpa mengkritisi terlebih dahulu.
- Decision Fatigue & Imposter Syndrome: Banyaknya pilihan di dunia digital seringkali berujung pada kelelahan mengambil keputusan (decision fatigue). Ditambah lagi dengan melihat pencapaian orang lain, muncul imposter syndrome atau seseorang merasa tidak pantas meraih kesuksesan atau pencapaiannya, menganggapnya sebagai kebetulan/keberuntungan semata, dan takut dianggap sebagai penipu.
- Revenge Bedtime Procrastination: Pernah begadang hanya untuk bermain HP karena merasa seharian tidak punya waktu untuk diri sendiri? Hal ini biasa disebut "balas dendam" waktu tidur. Hal ini dapat memperburuk kesehatan mental.
- Loneliness & Social Anxiety: Ironisnya, meski terhubung secara digital, banyak Gen Z yang merasa kesepian. Interaksi di balik layar yang intens terkadang membuat kita merasa canggung dan cemas saat harus berinteraksi secara tatap muka (social anxiety).
- Popcorn Brain: Istilah ini menggambarkan kondisi pikiran yang mudah melompat-lompat dari satu ide ke ide lain tanpa penyelesaian, mirip biji jagung yang meletup-letup. Hal ini merupakan dampak dari kebiasaan multitasking yang berlebihan.
Cara untuk Kembali Fokus dan Memulihkan Kesehatan Mental
Paparan layar berlebih membuat kita kehilangan fokus karena terus teralih pada dunia digital yang tidak pernah redup. Kabar baiknya kemampuan fokus bisa dilatih kembali dan kamu bisa mulai memulihkan kesehatan mental dengan langkah-langkah sederhana secara konsisten:
Langkah pertama yang bisa kamu coba adalah mulai membuat batasan yang sehat dengan gadgetmu. Hal ini bukan berarti kamu harus berhenti pakai HP sama sekali, tapi lebih ke mengatur kapan waktunya "on" dan kapan waktunya "off". Kamu bisa mulai dengan memeriksa aplikasi mana yang paling banyak menyedot waktumu hanya untuk hal-hal yang kurang penting. Cobalah berikan jeda satu jam tanpa layar sebelum tidur dan setelah bangun pagi. Dengan begitu, otakmu punya waktu untuk bernapas dan tidak langsung kaget karena harus memproses tumpukan informasi sejak mata baru terbuka.
-
Agar pikiranmu tidak mudah melompat-lompat, kamu bisa mencoba teknik kerja yang ada jedanya, seperti Teknik Pomodoro. Caranya mudah yaitu cobalah fokus penuh ke satu tugas saja selama 25 menit tanpa buka tab lain atau pegang HP. Setelah itu, ambil istirahat sebentar sekitar 5 menit. Kuncinya, saat istirahat jangan buka media sosial kembali, tapi pakailah untuk peregangan, minum air, atau sekadar melihat ke luar jendela. Cara ini dapat menjaga energi mentalmu agar tidak cepat merasa "hang" atau lelah di tengah tumpukan tugas.
-
Selain mengatur cara kerja, kamu juga perlu melatih ketenangan pikiran lewat kebiasaan sederhana yang membuat kamu tetap "sadar" sepenuhnya. Cobalah sesekali lakukan aktivitas tanpa distraksi, misalnya makan tanpa sambil nonton video atau jalan kaki tanpa dengerin musik. Hal ini melatih otakmu untuk menikmati satu hal saja dalam satu waktu. Kalau kamu merasa pikiran lagi penuh banget, coba tarik napas dalam-dalam atau tuliskan apa pun yang mengganjal di buku catatan sebelum tidur. Dengan mengeluarkan isi pikiran ke tulisan, kamu tidak akan merasa terbebani lagi dan tidak perlu begadang hanya untuk cari "me time" tambahan.
-
Ingat ya, kesehatan mental itu sama pentingnya dengan kesehatan fisik, jadi jangan merasa bersalah kalau kamu butuh waktu untuk istirahat dari dunia maya. Menjaga fokus bukan berarti kamu harus jadi robot yang produktif setiap saat, tapi lebih ke gimana cara kamu memberikan ruang untuk otak supaya tidak terus-terusan merasa capek. Yuk, mulai hargai ketenangan pikiranmu sendiri dengan melakukan perubahan kecil dari sekarang. Semangat terus untuk menjaga keseimbangan hidup di tengah ramainya dunia digital ini, Digifriends!
Sumber: teknologi.id, medicalcityhealthcare.com, halodoc.com, campuspedia.id