LogoDIGINATION LOGO

Solusi Cerdik Hindari Konflik dengan Rekan Kerja

Oleh Desy Yuliastuti Kamis, 13 Desember 2018 | 11:15 WIB
Share
Ilustrasi rekan kerja (Shutterstock)
Share

Konflik bisa saja terjadi di kantor, apalagi menghadapi rekan kerja nyebelin. Saat dikritik, justru dia merasa paling benar dan menyiapkan segudang perlawanan. Berurusan dengan karakter demikian memang sulit bagi siapa pun, tapi sekaligus menantang dan menguji sejauh mana kamu bisa bersikap elegan. Namun, harus diakui konflik internal bisa bikin mood jelek, bahkan berpengaruh pada kinerja.

Sebagai profesional, tentu tak bisa selamanya menghindari apalagi bermusuhan. Elena Lipson, founder Mosaic Growth Partners, sebuah firma konsultasi bisnis dan pelatihan yang berbasis Washington, D. C., Amerika Serikat membagikan pengalamannya menghadapi rekan kerja dengan cara elegan.

Baca juga: Pekerja Digital Kreatif Memiliki Masa Depan Cerah, Ini Faktanya

Hadapi baik-baik

Menurut Elena, bagaimanapun seseorang berjuang keras meningkatkan karier dan jabatan, kamu akan tampak tidak profesional jika berkonflik dengan rekan kerja. Contoh kasus saat Elena menangani seorang klien yang emosional, ia tak menyarankan untuk bertindak reaktif. Menurutnya, dengan berkelahi, menghindar, atau mendiamkan tak benar-benar bisa menyelesaikan masalah atau menciptakan situasi menguntungkan.

Jadi, apa yang bisa kamu lakukan? Daripada melawan balik, lebih baik redam emosi sejenak dan cobalah bersimpati dan lihat dari sudut pandang lain. Cari tahu, mengapa sikap rekan kerja jadi menyebalkan? Bisa jadi ada faktor internal, seperti melihatmu atau rekan lain memiliki pengetahuan lebih yang tidak dia miliki dalam urusan pekerjaan, tapi gengsi mengakuinya.

Menurut Elena, menghindar pun bukan cara yang baik. Untuk meredam perselisihan, cobalah berkomunikasi lebih banyak. Ajaklah dia makan siang, minum kopi, dan ajukan pertanyaan. Jadilah pendengar yang baik. Biarkan rekanmu merasa didengar meskipun kamu tak setuju dengan pendapatnya. Dengan komunikasi, kamu bisa memiliki kesempatan untuk mengatasi situasi.

Jadilah diplomatik, tidak menuduh, dan tetap rendah hati akan memberi kesan kamu bisa diajak bekerja sama untuk kelangsungan pekerjaan. Yang jelas, konflik dengan rekan kerja hanya membuang waktu, lebih baik fokus pada karier.

Baca juga: 6 Cara Hadapi Toxic Boss

Ilustrasi kerja sama (Shutterstock)
Bicara dari hari ke hati

Pada beberapa kasus, kamu bisa memberikan masukan terkait sikap rekan kerja. Namun, bagaimana jika terlanjur bebal, gengsi, dan tak bisa menerima saran? Sebaiknya, jangan sekali-kali membalas dendam dengan gantian menjelek-jelekkan dirinya. Lakukan upaya lain untuk mengungkapkan perasaanmu.

Elena juga menyarankan, cobalah membuat jurnal khayalan tentang tujuan pekerjaan yang bisa dilakukan bersama dan fokus pada pengelolaan emosi di masa depan. “Membuat jurnal khayalan dapat membantu meredakan situasi dan membuat Anda menyadari bahwa itu tidak akan menjadi masalah dalam jangka panjang,” ungkapnya. Strategi-strategi ini mungkin terkesan membuat sikapmu tidak natural, terutama untuk wanita. Namun, seiring waktu dan latihan maka situasi bisa saja makin membaik.

Apabila cara tersebut benar-benar tidak dapat memperbaiki situasi, jangan bertahan. Menjadi sengsara di tempat kerja yang menyebalkan dengan toxic friendship dan konflik dapat merusak harga diri, kesejahteraan emosional, dan kesehatan mental. Namun, perlu diingat bersikap elegan akan membuktikan pada semua orang bahwa kamu profesional, bahkan lebih baik daripada “musuh”.

Yuk, dimulai!

Baca juga: Artificial Intelligence Ternyata Bisa Bikin Kamu Enjoy Kerja, Lho!

  • Editor: Dikdik Taufik Hidayat
  • Sumber: Entrepreneur
TAGS
LATEST ARTICLE

Mudahnya Berbisnis di Uni Eropa Lewat Estonia...

Era digital yang semakin terbuka tanpa memandang batas membuat peluang berbisnis juga ikut terbuka lebar. Salah satunya melalui program asal Estonia ini. Yuk, cari tahu lebih lengkap!

Selasa, 18 Juni 2019 | 08:15 WIB

Memata-matai Karyawan, Boleh Nggak Sih?

Penting mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan tenaga kerja Anda, namun banyak karyawan menolak untuk dipantau. Tetapi jika pemantauan dilakukan dengan benar, karyawanlah yang mendapat manfaatnya

Sabtu, 15 Juni 2019 | 09:30 WIB