LogoDIGINATION LOGO

Batik Pulo Gebang, Melaju Berkat Digital

Oleh Desy Yuliastuti Selasa, 28 Agustus 2018 | 10:10 WIB
Share
Share

Suara riuh anak-anak bermain menemani kegiatan membatik Adeliya (45) dan Rismayanti (39). Bersama 20 orang ibu-ibu lainnya di Rusunawa Pulo Gebang, Cakung, Jakarta Timur, membatik menjadi rutinitas yang dilakukan sejak lima bulan terakhir.

Kegiatan membatik sebelumnya tak pernah terbayangkan oleh ibu-ibu di Rusunawa Pulo Gebang. Berawal dari ajakan saat arisan, kini mereka memiliki keterampilan sekaligus memiliki aktivitas penambah penghasilan tanpa meninggalkan anak.

“Awalnya tahu kegiatan ini diinformasikan di setiap blok, ditanya siapa yang mau ikut. Teori dulu kita diajarin terutama mengenal dulu batik itu apa sih. Belajar menggambar, setelah itu diajari menyanting. Kalau orang baru belajar pasti ada gambar, kalau orang sudah mahir dia bisa sendiri tanpa mengikuti pola,” cerita Risma yang sudah tiga tahun tinggal di Rusunawa.

Menggambar motif batik menggunakan pensil atau menjiplak di kain menjadi langkah awal pembuatan batik. Tahapan berikutnya menyanting atau menggambar motif batik menggunakan lilin yang dipanaskan hingga berubah menjadi coklat. Proses menyanting dilakukan di dua sisi kain agar membentuk motif yang sempurna.

Adeliya menyebut menyanting menjadi proses tersulit karena butuh kesabaran. “Proses yang paling susah menyanting karena kalau pewarnaan sudah gampang karena sudah ada bahannya,” ujarnya.

Selanjutnya, kain didiamkan selama lima belas menit sebelum dicelupkan ke dalam pewarna tekstil. Setelah jadi, barulah bisa dibuat berbagai produk, seperti pakaian, dompet, sapu tangan, dan sebagainya. Risma mengakui membatik membutuhkan waktu belajar dan kesabaran tinggi. Namun, kegiatan ini dinikmatinya sebagai sumber penghasilan baru, tanpa mengganggu pekerjaan rumah tangga atau meninggalkan anak.

“Yang membuat tertarik kita bisa bawa anak dan tidak dibatasi usia. Terbuka bagi siapa saja yang mau belajar, tambah ilmu. Kalau kita jual sapu tangan seperti ini kan bisa tambah penghasilan. Jualnya kita ikut sama JKT Creative,” ucap Risma yang sehari-hari berjualan kerupuk.

Baik Adeliya maupun Risma pun mengaku tertarik untuk mempelajari lebih lanjut kemampuannya membatik, termasuk jalur pemasaran online. “Sekarang kan online lagi booming. Biar menambah penghasilan juga," kata Adeliya.

Jalur Online, Tambah Penghasilan

Aktivitas membatik ibu-ibu di Rusunawa Pulogebang yang dimulai sejak Maret 2018 diinisiasi oleh JKT Creative. Co-Founder JKT Creative, Iwet Ramadhan mengatakan kegiatan ini merupakan misi sosial untuk pemberdayaan perempuan terutama di rusun dan misi pemberdayaan entrepreneur.

“Kenapa ibu rusun? Masalahnya di sini banyak, seperti di Marunda banyak warga relokasi bantaran kali, Kalijodo, dan sebagainya. Mereka gak punya penghasilan lagi. Begitu pula di Pulo Gebang ada yang suaminya buruh, pekerja kasar, kuli bangunan, pekerja kelas bawah, dan kalau mereka bisa dapat penghasilan tambahan untuk menambah uang belanja atau buat diri sendiri lumayan banget karena gaji dari suaminya mungkin sudah habis untuk bayar sewa,” cerita Iwet.

Pemerintah juga menyebutkan industri e-commerce di Indonesia harus meningkat. Ia berpikir cara menaikkan target angka tersebut itu dengan mengeluarkan produk yang lagi tren dengan daya beli tinggi dan harga sesuai pasar. “Misalnya batik. Kita riset batik seperti apa yang disukai dan dibeli orang, motifnya lebih modern dan warna yang tidak klasik ternyata disuka. Tentu yang harganya murah, artinya ini harus dicari bagaimana solusinya,” kata Iwet.

Iwet Ramadhan, Co-Founder JKT Creative. (Desy Yuliastuti)

Batik produksi ibu rusun dibeli JKT Creative dengan sistem beli putus dengan kontrol kualitas yang ketat. “Kita di sini bukan cari untung, margin kita tekan supaya masih affordable. Harga dijual mulai 50 ribu sampai 250 ribu, baju kisaran 350 ribu tapi tidak lebih dari itu. Mungkin kalau ada yang lebih detail bisa lebih mahal, tapi kita menyesuaikan dengan segmen pasar Indonesia juga,” tambah pria lulusan arsitektur Universitas Parahyangan ini.

Di pasaran batik produksi ibu-ibu di Rusunawa Pulo Gebang terbilang diminati dan laris dijual di e-commerce. Iwet juga menggandeng Shopee sebagai kanal penjualan, serta memproduksi seragam perusahaan dan merchandise Shopee. Selain itu, ibu-ibu rusun juga memproduksi batik untuk perusahaan, mall, hotel, dan sebagainya.

“Ke depannya kita ingin berkolaborasi dengan fesyen desainer dan pengusaha batik untuk membuat batiknya di sini, tidak perlu jauh ke Pekalongan, Solo, atau Jogja. Target kita paling tidak dapat lima pembatik, tapi seminggu pertama sudah dapat sepuluh orang yang mahir. Artinya, kalau bisa dikembangkan terus Rusunawa Pulo Gebang bisa jadi sentra batik di Jakarta,” ujarnya optimis.

  • Editor: Wicak Hidayat
TAGS
RECOMMENDATION
LATEST ARTICLE

Kuliner Passionmu? Ikutan Ini, Nyok!

Permasalahan dalam Industri kuliner di Indonesia cukup rumit. Tapi, jangan khawatir! Yuk, tengok potensi dan peluangnya.

Senin, 22 April 2019 | 17:13 WIB

Masih Berharap Uang Tunai Dalam Dompet Konsumen?

Semakin praktis dan populernya layanan dompet digital sedikit-banyak akan mendorong konsumen untuk ganti dompet. Masih berharap ada uang tunai dalam dompet konsumen?

Jumat, 5 April 2019 | 10:47 WIB