LogoDIGINATION LOGO

Tips Anti Stres untuk Startup

Oleh Alfhatin Pratama Selasa, 8 Januari 2019 | 08:45 WIB
Share
Ilustrasi menjaga kesehatan mental (shutterstock)
Share

Banyak yang beranggapan kalau menjadi karyawan lebih berisiko mengalami stres dan depresi dibandingkan menjadi pengusaha. Alasannya, karyawan menghadapi tekanan yang lebih keras dari atasan, kerja sesuai jadwal yang kaku, dan rutinitas yang gitu-gitu aja. 

Emang benar, ya?

Ternyata, seorang pengusaha juga rentan stres dan depresi, lho! Salah satu kasus yang buruk adalah Colin Kroll, founder dari HQ Trivia yang ditemukan meninggal dunia karena overdosis.

Menjadi seorang pengusaha tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pengusaha harus mengatur karyawan agar tetap menjadi tim yang solid, jalannya perusahaan agar tetap kompetitif, dan tantangan-tantangan lain yang harus dihadapi. 

Hal itu malah bisa menimbulkan tekanan yang lebih besar daripada jadi karyawan kan?

Baca juga: Ditinggal Pendirinya, Bagaimana Nasib Instagram?

Untuk menghadapi berbagai tekanan seperti di atas, pengelolaan stres sangat diperlukan agar kesehatan mental tetap terjaga. Berikut ini adalah 5 tips yang telah dirangkum tim Digination.id untuk menjaga kesehatan mental di tengah beban pekerjaan yang berat.

Meditasi

Melakukan meditasi sangatlah bermanfaat. Menurut organisasi non-profit Mayo Clinic, meditasi tidak hanya menghilangkan stres tapi juga mempertajam fokus, meningkatkan mood, dan menyegarkan pikiran. Bahkan, menurut Harvard Health Publishing meditasi lebih baik daripada berlibur!

Selain itu, dikutip dari Dailymail bahwa bermeditasi selama sepuluh menit setiap pagi sudah cukup bermanfaat. Salah satu teknik meditasi yang menjadi tren adalah meditas mindfullness.

Baca juga: Wishlist Para CEO Tahun 2019, Apa, ya?

Ilustrasi meditasi (shutterstock)

Bersikap bijak dalam mengambil tindakan

Kerja itu baik, tapi alangkah lebih baiknya kerja dengan produktif. Tentukan tujuan yang ingin dicapai. Jadilah diri sendiri. Jangan terlalu keras dan tidak bijak terhadap diri sendiri dalam menggapai tujuan itu. Apalagi, sampai lupa menikmati hidup. 

Setiap kali menghadapi kegagalan, lakukanlah evaluasi dan kembali ke tujuan yang telah dirancang. Ketika tujuan sudah tidak relevan, sesuaikanlah dengan perkembangan zaman yang ada. Ketahuilah bahwa kegagalan dan berbagai hambatan lain yang menyertainya adalah proses dari pembelajaran.

Selanjutnya, seperti yang dikutip dari Psychology Today, bersifat perfeksionis terus-menerus tidak hanya dapat meningkatkan stres tetapi juga dapat mengganggu pola makan, menghambat produktivitas, dan memacu penyakit mental seperti depresi.

Selain itu, jalinlah hubungan yang akrab dengan orang-orang yang suportif dan menginspirasi setiap tindakan yang dilakukan. Lebih baik untuk tidak menjalin hubungan dengan orang-orang toxic yang dapat mempengaruhi produktivitas dan kesehatan mental.

Baca juga: Jadi Pengusaha Juga Harus Sehat, Ini yang Harus Dijaga

Ilustrasi seorang yang bijak dalam bertindak (shutterstock)

Pergi ke alam bebas

Dilansir dari Psych Central, terlibat dengan alam dapat menurunkan stres dan kecemasan, meningkatkan suasana hati, memicu kreativitas, dan meningkatkan memori. Semuanya dapat dicapai dengan cara berjalan santai di tengah udara yang sejuk, bersepeda, mengikuti kegiatan perkemahan di hutan, atau berkebun. 

Tetapkan prioritas yang jelas

Pastikan prioritas yang dimiliki selaras dengan tujuan hidup yang ingin dicapai. Mulailah membuat rencana hidup lima hingga sepuluh tahun ke depan. Evaluasi kegagalan, perbaharui cara-cara  yang sudah usang dalam menggapai tujuan hidup, dan berkomitmen terhadap prioritas yang jelas. Hal ini akan membantu seorang untuk tetap termotivasi, fokus, dan mencapai hasil akhir yang diinginkan dengan produktif tanpa kehabisan tenaga. 

Baca juga: Lebih Produktif di Era Digital? Bisa!

Menjaga pola tidur

Pola tidur dan kesehatan mental adalah dua hal yang saling terkait. National Sleep Foundation, Amerika Serikat (AS) merekomendasikan waktu tidur adalah tujuh hingga sembilan jam setiap malam untuk kesehatan yang optimal. Kurang dari itu? Waktu tidur enam jam masih ditolerir kok.

Kekurangan tidur untuk waktu yang lama dapat menyebabkan sejumlah masalah kesehatan termasuk kecemasan, mental, dan penambahan berat badan. Hal ini juga akan meningkatkan risiko penyakit jantung, depresi, dan melemahnya sistem kekebalan tubuh.

Dengan pola tidur yang baik, seorang dapat meningkatkan suasana hati, menyegarkan pikiran, produktivitas, bahkan kreativitas. Jangan lupa juga diiringi dengan mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dah olahraga yang teratur.

Baca juga: Mau Sukses Jadi Entrepreneur? Kamu Harus Sehat!

 

  • Editor: Wicak Hidayat
  • Sumber: Forbes, Psychology Today
TAGS
RECOMMENDATION
LATEST ARTICLE

Mudahnya Berbisnis di Uni Eropa Lewat Estonia...

Era digital yang semakin terbuka tanpa memandang batas membuat peluang berbisnis juga ikut terbuka lebar. Salah satunya melalui program asal Estonia ini. Yuk, cari tahu lebih lengkap!

Selasa, 18 Juni 2019 | 08:15 WIB

Memata-matai Karyawan, Boleh Nggak Sih?

Penting mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan tenaga kerja Anda, namun banyak karyawan menolak untuk dipantau. Tetapi jika pemantauan dilakukan dengan benar, karyawanlah yang mendapat manfaatnya

Sabtu, 15 Juni 2019 | 09:30 WIB