LogoDIGINATION LOGO

Ternyata Bioskop Terbaik Ada di Indonesia, Lho...

Oleh Alfhatin Pratama Rabu, 28 November 2018 | 08:15 WIB
Share
Triawan Munaf (Kiri), Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Foto: Alfhatin Pratama)
Share

Film merupakan salah satu dari 16 subsektor ekonomi kreatif Indonesia yang menjadi tanggung jawab Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Saat ini, perfilman Indonesia sedang mengalami perkembangan yang pesat dari segi jumlah produksi. Berbagai rumah produksi berlomba-lomba meningkatkan produktivitas untuk membuat film yang berkualitas tinggi.

Dalam acara Disrupto minggu lalu, Kepala Bekraf Triawan Munaf menyampaikan bahwa Indonesia memiliki teater terbaik di dunia tapi perkembangannya sempat terhalang karena aturan Daftar Negatif Investasi (DNI). "Pernyataan bahwa Indonesia punya bioskop terbaik di dunia disampaikan oleh Presiden Disney ketika datang ke sini (Indonesia). Harganya terjangkau, makanan dan minuman juga tersedia. Sayangnya, masuknya film dalam aturan DNI membuat perfilman Indonesia sulit berkembang. Investor asing tidak dapat berkontribusi sedikit pun. Kita seperti katak dalam tempurung," kata Triawan.

Selanjutnya, Ayah dari musisi Sherina Munaf ini menyampaikan bahwa mengeluarkan film dari aturan DNI tidak mudah dan banyak penolakan. Adanya investor asing pada perfilman Indonesia sering dianggap akan merusak moral bangsa melalui film. Padahal tidak mesti demikian. "Sebelum film dikeluarkan dari DNI, Indonesia hanya memiliki 1.050 layar teater. Film nasionalnya kurang berkembang dan film impor mendominasi sampai 80%," tambahnya.

Triawan juga mengatakan bahwa perfilman Indonesia mengalami banyak peningkatan sejak dikeluarkan dari aturan DNI tahun 2016. "Dalam dua tahun Indonesia sudah memiliki 1650 layar teater. Hal ini bertujuan untuk menjangkau masyarakat lebih luas lagi. Bioskop kan biasanya di kota-kota besar, padahal penonton di luar kota-kota besar juga banyak,"ujar mantan pengusaha periklanan ini.

Baca juga: Sumbangan Film Bagi PDB Jadi Terbesar Kedua

Ayo, menonton film! (Shutterstock)
Menurut laki-laki yang juga pernah menjadi musisi itu, jumlah penonton film nasional meningkat dibandingkan tahun 2017. Ia mengatakan, "Tahun 2017, jumlah penonton film nasional mencapai 16 juta orang. Tahun 2018, jumlah penonton film nasional sudah mencapai 47 juta orang." Angka ini belum terhitung dari film-film yang akan rilis di akhir tahun 2018 sehingga kemungkinan jumlah penonton akan mencapai 50 juta orang.

"Kalau dipersentasekan, film nasional sudah ditonton hampir 40% penonton di seluruh bioskop di Indonesia. Memang masih kalah dengan film impor. Kita haru akui kalau film impor memang bagus, teknologi yang dipakai sangat mendukung, dan promosinya juga bagus. Tetapi, jika dibandingkan dengan Australia yang jumlah penonton film nasionalnya hanya 1,2%, kita bisa berbangga," jelas pria kelahiran Bandung, 28 November 1958 ini.

Dikeluarkannya film dari aturan DNI menurut mantan vokalis grup musik Giant Step ini, merupakan contoh paket kebijakan ekonomi pemerintah tentang deregulasi yang paling sukses. Karenanya, Bekraf juga mengadakan Akatara - Indonesian Film Financing, forum yang mempertemukan para creator film nasional, rumah produksi, dan investor yang diadakan setiap tahun sejak tahun 2017. Dengan berbagai kebijakan yang dikeluarkan dan acara yang diadakan oleh Bekraf, diharapkan perfilman Indonesia bisa bersaing di kancah Internasional.

Kamu sudah nonton film nasional hari ini?

Baca juga: Bekraf Sukses Gelar Akatara, Forum Pendanaan Film Pertama di Indonesia

  • Editor: Dikdik Taufik Hidayat
TAGS
RECOMMENDATION

Bekraf Akan Beri Bantuan bagi Pelaku Ekonomi Kreatif

Demi meningkatkan kontribusi ekonomi kreatif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional di tahun 2018, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) akan memberikan bantuan berupa fasilitasi revitalisasi infrastruktur fisik ruang kreatif, fasilitasi sarana ruang kreati

Selasa, 27 Februari 2018 | 06:41 WIB
LATEST ARTICLE

Mudahnya Berbisnis di Uni Eropa Lewat Estonia...

Era digital yang semakin terbuka tanpa memandang batas membuat peluang berbisnis juga ikut terbuka lebar. Salah satunya melalui program asal Estonia ini. Yuk, cari tahu lebih lengkap!

Selasa, 18 Juni 2019 | 08:15 WIB

Memata-matai Karyawan, Boleh Nggak Sih?

Penting mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan tenaga kerja Anda, namun banyak karyawan menolak untuk dipantau. Tetapi jika pemantauan dilakukan dengan benar, karyawanlah yang mendapat manfaatnya

Sabtu, 15 Juni 2019 | 09:30 WIB