LogoDIGINATION LOGO

Bagi Bisnis, Kegagalan Bukan Akhir

Oleh Sukindar Jumat, 13 Juli 2018 | 03:00 WIB
Share
Untuk mencapai kesuksesan, kita biasanya akan mengikuti jalan orang-orang luar biasa yang mampu membangun sesuatu dengan cepat dan sangat besar
Share

Untuk mencapai kesuksesan, kita biasanya akan mengikuti jalan orang-orang luar biasa yang mampu membangun sesuatu dengan cepat dan sangat besar.

Namun, kita juga dapat melihat di sisi sebaliknya, melihat orang-orang biasa yang mampu bertahan meskipun telah gagal berulang kali, seperti Bryan Long.

Dalam membangun kariernya, Long telah mengalami kegagalan. Tidak hanya sekali atau dua kali, tetapi berulang-ulang kali.

Bagi mahasiswa straight-A dengan IPK 4.0, hal tersebut mungkin akan menjadi pukulan yang sangat telak, yang cukup untuk membuatnya menyerah dan kembali ke pekerjaannya.

Tapi apa yang dipikirkan Long berbanding terbalik dengan hal tersebut. Menurutnya, hal tersebut mengajarkannya untuk mengubah pandangan dalam melihat kegagalan.

Kegagalan ini bermula saat Long membangun startup pertamanya Big Life Treats di usianya yang ke-32 pada tahun 2010.

Dua tahun berjalan, Long harus menyuntikan SGD 120,000 dari tabungannya untuk mempertahankan perusahaan tersebut dan membangun tim dengan cepat.

Namun, berhadapan dengan co-founder yang berbeda jalan dan persaingan sengit di Groupon, bisnis tersebut pun harus menuai kegagalan.

Long bahkan sempat berpikir bahwa dirinya akan putus asa, tetapi setelah meminta saran kepada “Aunt Google” dan menemukan sebuah buku "The Lean Startup" karangan Eric Ries, yakni sebuah panduan berbisnis yang menganjurkan analisis diri dan adaptasi berkelanjutan, sikapnya pun berubah.

Baca Juga:
Alasan Utama Kenapa Bisnis Bisa Gagal

Long sadar bahwa kegagalan bukan waktu untuk menyerah, tetapi waktu untuk mengevaluasi apa yang membuatnya gagal dan apa yang perlu diubah.

Dia bahkan menegaskan bahwa kesuksesan dan kegagalan hanya sebuah titik data, yang tidak akan berguna jika kita tidak dapat mengevaluasinya.

Di tahap selanjutnya, alih-alih menyuntikan dana yang besar untuk mempertahankan perusahaannya, Long memilih mengikuti pendekatan “membangun, mengukur, belajar” dari Ries.

Dia kemudian membangun sebuah situs web dasar, dan kemudian menghubungi penggunanya untuk mendapatkan umpan balik.

Namun dalam waktu kurang dari dua bulan, Long menyadari bahwa produknya tersebut tidak memiliki pasar di Singapura, oleh karena itu dia pun berhenti.

Lalu pada tahun 2015, dia pun membangun bisnis ketiganya Stacck, yakni sistem komunikasi restoran. Di bisnis ketiganya ini, Long berhasil mengumpulkan SGD 1,7 juta, membangun tim, dan mengambil gaji pertamanya.

Mekipun pada akhirnya harus menjual Stacck, proses ini yang membuat Long mendapatkan jawaban dari satu pertanyaan besarnya mengenai wirausahawan. Menurut Long, jawaban dari “apa rahasia dari bisnis yang sukses?” adalah tim dan waktu.

Dia menyebutkan, banyak orang berharap dapat membangun usahanya dan langsung booming, tetapi kenyataannya tidak seperti itu.

Long menegaskan, dia menyadari bahwa butuh waktu untuk membangun keterampilan dan juga hal-hal yang berkaitan tentang tim bisnis.

Menurut Long, banyak orang melihat kegagalan sebagai titik akhir, tetapi sebenarnya hal itu membawa kita ke pintu yang sama sebagai pintu menuju kesuksesan.

  • Editor: Wicak Hidayat
  • Sumber: CNBC
TAGS
LATEST ARTICLE

Kuliner Passionmu? Ikutan Ini, Nyok!

Permasalahan dalam Industri kuliner di Indonesia cukup rumit. Tapi, jangan khawatir! Yuk, tengok potensi dan peluangnya.

Senin, 22 April 2019 | 17:13 WIB

Masih Berharap Uang Tunai Dalam Dompet Konsumen?

Semakin praktis dan populernya layanan dompet digital sedikit-banyak akan mendorong konsumen untuk ganti dompet. Masih berharap ada uang tunai dalam dompet konsumen?

Jumat, 5 April 2019 | 10:47 WIB