LogoDIGINATION LOGO

Royalti Hak Cipta Berbasis Blockchain. Apa Keunggulannya?

Oleh Desy Yuliastuti Kamis, 31 Mei 2018 | 08:22 WIB
Share
Adopsi blockchain dalam berbagai industri diyakini memiliki tingkat keamanan, transparansi, dan efisiensi yang tinggi
Share

Adopsi blockchain dalam berbagai industri diyakini memiliki tingkat keamanan, transparansi, dan efisiensi yang tinggi. Di beberapa negara, di antaranya Jepang, Uni Emirat Arab, Norwegia, dan Singapura blockchain diadopsi untuk pencatatan data publik, sektor perbankan, hingga pariwisata.

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) pun berencana mengaplikasikan blockchain untuk Project Portamento. Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf, mengatakan platform Project Portamento akan menjadi jawaban terhadap masalah di industri musik, terutama soal hak cipta dan royalti.

“Bekraf akan memakai blockchain untuk teknologi musik, mulai dari hulu ke hilir untuk masalah hak cipta. Kita punya sistem yang sistem yang transparan untuk meningkatkan kesejahteraan pencipta lagu,” ujar Kepala Bekraf Triawan Munaf dalam konferensi pers peluncuran XBlockchain Summit di Go-Work Coworking Space, Jakarta, Rabu (30/5/2018).

Penerapan blockchain sebagai backbone dalam Project Portamento berperan menghubungkan antara pemilik hak cipta (musisi) dengan konsumen. Musisi yang mendaftarkan karyanya di platform akan langsung mengetahui berapa banyak lagu tersebut diakses atau diunduh secara online.

Baca juga: Blockchain, Teknologi di Balik Bitcoin yang Dilirik Banyak Industri

Selain itu, sistem Project Portamento akan memberikan data perhitungan besaran royalti. Data pun akan bisa terkoneksi langsung dengan lembaga negara, seperti Ditjen Pajak, Kemenkumham terkait kekayaan intelektual, dan pihak lain yang berkepentingan.

Menurut Triawan, saat ini semua masih dilakukan secara manual, belum memiliki ekosistem yang mantap. Adanya sistem berbasis blockchain memastikan added value akan tercapai karena semua bisa dipastikan langsung oleh musisi dan data tak bisa dipalsukan.

Untuk melancarkan proyek ini, Bekraf akan berkoordinasi dengan lembaga perpajakan, pelaku bisnis hiburan, bank, stakeholder, dan perusahaan swasta yang telah lebih dahulu mengadopsi blockchain.

-

Baca juga:  Tantangan Adopsi Blockchain, Dari Teknologi Hingga Kematangan Digital

Ketua Umum Asosiasi Blockchain Indonedia Steven Suhadi menambahkan, penerapan blockchain ini sangat dibutuhkan di Indonesia karena market-nya yang luas, tapi ada tantangan tersendiri.

“Challenge sebenarnya adalah edukasi. Blockchain mirip internet saat muncul pertama kali. Dengan terkoneksi bisa melakukan banyak hal, ini menjadi inovasi jangka panjang,” tuturnya.

Sistem serupa Project Portamento sekilas mirip dengan teknologi yang lebih dahulu diterapkan Copytrack.io. Perusahaan yang berbasis di Berlin ini menjadi salah satu platform yang mampu memvalidasi pengguna dan menghubungkan kekayaan intelektual digital.

Sistem blockchain mampu mengumpulkan serta menyimpan citra dan detail data yang terdaftar dan terdesentralisasi. Melalui jangkauan global, Copytrack mampu mengatasi pencurian karya di lebih dari 140 negara dan mampu membawa kasus ke jalur hukum jika diperlukan.

Baca juga: Blockchain Bisa Dukung Perbankan Hingga Smart City

  • Editor: Wicak Hidayat
TAGS
LATEST ARTICLE

Kuliner Passionmu? Ikutan Ini, Nyok!

Permasalahan dalam Industri kuliner di Indonesia cukup rumit. Tapi, jangan khawatir! Yuk, tengok potensi dan peluangnya.

Senin, 22 April 2019 | 17:13 WIB

Masih Berharap Uang Tunai Dalam Dompet Konsumen?

Semakin praktis dan populernya layanan dompet digital sedikit-banyak akan mendorong konsumen untuk ganti dompet. Masih berharap ada uang tunai dalam dompet konsumen?

Jumat, 5 April 2019 | 10:47 WIB

AI untuk UMKM. Mmm, Seperti Apa, ya?

Dari 60 juta UMKM Indonesia hanya 5 % yang sudah memanfaatkan internet. Untuk mendorong pertumbuhan ini Halosis hadir untuk memajukan UMKM dengan teknologi Artificial Intelligence.

Kamis, 14 Maret 2019 | 09:30 WIB