LogoDIGINATION LOGO

Kenapa Seseorang Salah Mengambil Keputusan?

author Oleh Nur Shinta Dewi Jumat, 9 Oktober 2020 | 13:22 WIB
Share
Share

Keputusan yang baik biasanya menempatkanmu pada posisi yang kuat, namun tak jarang keputusan yang kamu anggap baik malah membuat rencana yang sudah kamu susun menjadi gagal total.

Pendiri e-commerce Amazon, Jeff Bezos pernah mengambil keputusan yang salah dan membuat perusahaannya rugi hingga miliaran dollar. Tidak hanya sekali tapi ia sempat berkali-kali salah dalam menentukan langkah untuk kemajuan Amazon.

Salah satu keputusan yang pernah membuat Amazon merugi adalah ketika Jeff Bezos tak mau mendengarkan pendapat para Penasihat Eksekutif di Amazon.

Pada tahun 1998 Jeff ingin mengembangkan layanan dalam memfasilitasi transaksi antara penjual dan pembeli, dan ingin bersaing untuk melawan layanan lelang pada situs lain sehingga dia mengakuisisi Accept.me sebesar US$175 juta.

Keputusan tersebut bukanlah hal bijak, karena pesona e-bay jauh lebih unggul dibandingkan dengan sistem transaksi yang dimiliki oleh Amazon, sehingga keputusan tersebut menjadi sia-sia.

Ketika kamu sedang on mood tentu otak akan menghasilkan ide yang sedemikian rupa, hal ini tentu  memungkinkan kamu untuk membuat keputusan yang menciptakan beberapa keuntungan jangka panjang.

Tapi tidak jarang mind maps yang kamu buat, ternyata tidak diperlukan karena kamu tidak dalam kendali Prefrontal Cortex yang baik. Apa itu Prefrontal Cortex?

Prefrontal cortex (PFC) merupakan pusat kognitif yang ada di dalam otak, berfungsi membentuk nilai dan moral, membuat perencanaan, mengontrol diri dan emosi, menunda kepuasan, serta mengambil keputusan.

PFC sangat dibutuhkan dalam mengambil keputusan. Pusat ini jugalah yang membedakan otak manusia dengan otak makhluk hidup lain.

Ketika dalam kondisi tertentu, secara tidak sadar kamu akan ditempatkan pada posisi yang paling benar. Inilah yang menyebabkan PFC terganggu dan menganggap semua keputusan yang kamu ambil adalah yang terbaik.

Berikut faktor yang menyebabkan kamu suka salah mengambil keputusan:

  • Impulsif - Sikap impulsif atau spontan akan membuat kamu meninggalkan hal-hal penting yang seharusnya masuk kedalam agendamu.
  • Emosi yang tidak terkendali - Hindari emosi yang tidak terkendali seperti marah, sedih, atau senang karena akan mengacaukan ide awalmu.
  • Kelelahan - Saat kamu lelah, kamu akan terganggu dan tidak dapat membuat keputusan yang baik.
  • Lapar - Saat Kamu lapar, inilah cara tubuh Kamu memberitahu Kamu bahwa ia membutuhkan bahan bakar. Jika Prefrontal cortex kamu kekurangan bahan bakar, ia tidak akan berfungsi dengan baik.
  • Stress - Jika kamu stress maka akan menekan Prefrontal cortex dan memungkinkan pusat emosi otak untuk mengambil kendali proses pengambilan keputusan.
  • Pengaruh Obat dan Alkohol - Ketika Kamu berada di bawah pengaruh obat-obatan atau alkohol, prefrontal cortex Kamu akan rusak dan tidak berfungsi dengan baik.

Saat psikis dan tubuh kamu dalam kondisi stabil maka kamu akan membuat keputusan yang baik dan menempatkanmu pada posisi yang kuat. Ketika Kamu dalam posisi kuat, Kamu tidak dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak ingin Kamu lakukan oleh alam bawah sadar kamu.

Berikut tiga hal yang harus kamu lakukan agar tidak salah mengambil keputusan:

Hindari 6 hal diatas
Walaupun ide datang spontan, tahan ide itu dan tulis di buku catatan kamu. Buatlah prototipe agar kamu tidak kehilangan satu ide, dan dapat menghilangkan ide lain yang tidak perlu saat merakit ulang draft yang ada. Kamu tidak harus memutuskan ide kamu saat itu juga. Kamu bisa makan, mandi, nonton film atau lakukan hal-hal yang biasa kamu lakukan, untuk menjernihkan pikiranmu.

Referensi
Jangan terlalu idealis, kamu juga perlu melihat realita yang ada apakah sesuai dengan keputusan yang kamu buat atau tidak. Baca buku, lihat perkembangan berita dan lihat dari lingkungan sekitar bisa membuka wawasan kamu lebih luas lagi.

Diskusi
Ketika kamu tidak bisa mengendalikan kemauan mu, mulailah untuk berdiskusi. Carilah jalan keluar bersama teman terdekatmu, orang tua, atau orang yang lebih ahli di bidangnya. Berikan waktu kepada otak Kamu untuk mempertimbangkan semua fakta sebelum membuat keputusan yang tepat.

Dibalik keputusan yang tepat tentu dibutuhkan alasan serta sumber yang kuat. Jika dipengaruhi alam bawah sadar dan pihak ketiga, maka ide yang seharusnya berjalan dengan benar malah jadi gagal total. Sama halnya ketika pemerintah membuat keputusan, mereka mempunyai niat baik untuk mensejahterakan masyarakat, lalu apakah pengesahan UU Omnibus Law Cipta Kerja adalah keputusan yang benar? Tulis pendapatmu di kolom komentar ya.

  • Editor: Rommy Rustami
TAGS
LATEST ARTICLE

Persiapan 5G di Indonesia

Seperti apa proyeksi 5G dan tren industri telekomunikasi 2021 di Indonesia?

Senin, 21 Desember 2020 | 14:56 WIB