LogoDIGINATION LOGO

NJOP Naik, Bisnis Properti Terpengaruh?

author Oleh Sukindar Selasa, 17 Juli 2018 | 16:32 WIB
Share
Akankah bisnis properti terpengaruh dengan adanya kenaikan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) untuk wilayah DKI Jakarta? Sebagian besar pasti menjawab “iya”
Share

Akankah bisnis properti terpengaruh dengan adanya kenaikan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) untuk wilayah DKI Jakarta? Sebagian besar pasti menjawab “iya”.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengumumkan kenaikan NJOP hingga sebesar 9,54%. Jika ditelaah, kenaikan ini akan berimbas pada kenaikan nilai Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) secara langsung.

Secara tidak langsungnya, kenaikan tersebut juga diduga akan menyebabkan kenaikan harga-harga properti, terkhusus di wilayah Jakarta.

Berdasarkan data Rumah.com Property Indeks, harga properti masih cenderung stabil hingga kuartal II tahun 2018 (Q2 2018) ini, dengan peningkatan berkisar 2,24% secara kuartalan (q-o-q).

Sedangkan jika dilihat secara tahunan, Rumah.com Property Indeks juga mencatat bahwa kenaikan harga properti di Jakarta mencapai 6,22% pada Q2 2018 ini.

Country Manager Rumah.com, Marine Novita menyebutkan, “Sebagai pusat bisnis nasional, Jakarta, tentu saja, merupakan kawasan dengan tren harga properti yang terus meningkat, meski saat ini cenderung tipis.”

Baca Juga:
Hunian Masih Jadi Bisnis Menjanjikan

Menurutnya, peningkatan NJOP dikhawatirkan dapat menurunkan minat masyarakat terhadap properti, terkhusus untuk properti berjenis hunian.

Kekhawatiran ini diperkuat oleh data hasil survei Property Affordability Sentiment Index Semester II 2018 yang dilakukan Rumah.com, yang menyebutkan bahwa 51% responden percaya kenaikan NJOP ini akan berpengaruh terhadap harga properti di DKI Jakarta.

Direktur PT. Bakrie Pangripta Loka Andre R. Makalam menegaskan, "Kenaikan akan tergantung dari zona properti. Di Sentra Timur, kenaikan untuk unit baru yang akan diluncurkan akan berada pada kisaran 5%. Yang akan merasakan dampak paling besar adalah Jakarta Selatan, terutama untuk properti kelas atas."

Namun, Andre optimistis minat properti untuk kelas menengah dan menegah ke bawah tidak akan terpengaruh oleh kebijakan ini.

"Sesuai kenaikannya, minat konsumen terhadap properti di zona dengan harga yang masih terjangkau mungkin masih tetap tinggi,” jelas Andre.

Sementara itu, Novita memperkirakan pencari properti akan bergeser ke arah Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) karena hal ini, didukung juga dengan adanya pembangunan infrastruktur penghubung yang masif saat ini.

  • Editor: Wicak Hidayat
TAGS
LATEST ARTICLE

Ekonomi Digital Indonesia, Dari Market Place ke Services

Berdasarkan kajian Google, Temasek dan Bain & Company, Indonesia punya potensi ekonomi digital yang paling tinggi dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Bagaimana agar potensi tersebut dapat diraih?

Senin, 17 Februari 2020 | 17:24 WIB

Penerapan Artificial Intelligence di Tokopedia

Artificial Intelligence menjadi salah satu hal yang akan terus menjadi tren pada tahun ini. Bagaimana penerapan AI pada salah satu e-commerce terbesar di Indonesia, Tokopedia?

Kamis, 6 Februari 2020 | 14:47 WIB

Digitalisasi UKM

99,2% pelaku usaha berskala UKM, membangun perekonomian berarti memberikan dukungan bagi UKM; yang salah satunya dengan Digitalisasi UKM

Jumat, 31 Januari 2020 | 14:31 WIB

Trend Teknologi 2020

Kemana arah perkembangan teknologi? Inilah trend teknologi yang akan berkembang pesat pada 2020

Selasa, 28 Januari 2020 | 13:05 WIB

Mau Mulai Bisnis? Keluarlah dari Zona Nyaman!

Zona nyaman memang membuat kita sulit beranjak. Tetapi, untuk memulai bisnis kita harus keluar dari zona nyaman tersebut. Yuk, simak cerita CEO dan Co-Founder Logisly tentang bagaimana ia keluar dari zona nyaman dan memulai bisnisnya.

Senin, 19 Agustus 2019 | 14:28 WIB