LogoDIGINATION LOGO

Dana Investasi Startup Properti Akan Capai Rp 60,8 Miliar per Tahun

author Oleh Desy Yuliastuti Minggu, 19 November 2017 | 08:48 WIB
Share
Perusahaan startup di bidang teknologi properti (proptech) di Asia Pasifik telah melampaui rekan mereka di Eropa dan Amerika Serikat dengan jumlah total 179 startup yang telah berhasil  mengumpulkan dana investasi sekitar US$ 4,8 miliar atau kisaran Rp 64,9 miliar sejak 2013
Share

Perusahaan startup di bidang teknologi properti (proptech) di Asia Pasifik telah melampaui rekan mereka di Eropa dan Amerika Serikat dengan jumlah total 179 startup yang telah berhasil  mengumpulkan dana investasi sekitar US$ 4,8 miliar atau kisaran Rp 64,9 miliar sejak 2013.

Menurut laporan baru dari Jones Lang LaSalle (JLL), perusahaan finansial dan profesional dalam bidang real estate, investasi ini mewakili lebih dari 60% investasi proptech di seluruh dunia.

Salah satu konsultan properti international, Clicks and Mortar merilis temuan barunya bertajuk Pengaruh Perkembangan Proptech. Rilis ini menganalisis keadaan proptech dan potensi pertumbuhannya di 13 pasar di seluruh Asia Pasifik.

Dikeluarkan oleh JLL dan ditulis oleh Tech In Asia, laporan tersebut juga mengungkapkan perkiraan pertumbuhan proptech di kawasan Asia Pasifik, dan memperkirakan jumlah dana investasi pada tahun 2020 akan mencapai US$ 4,5 miliar per tahunnya atau setara Rp 60,8 miliar.

Proptech merupakan perpaduan antara kata properti dan teknologi yang mengacu pada penerapan teknologi untuk menghadapi tantangan di industri real estate.

“Teknologi dan real estate bersatu dengan cara yang menarik. Kami sudah melihat potensi analisis data, kecerdasan buatan, the Internet of Things,  Virtual Reality, dan blockchain yang dapat  mengubah cara kita berinvestasi dan menempati real estate di masa depan,” kata Anthony Couse, CEO, JLL Asia Pacific.

Hasil laporan tersebut menunjukkan bahwa terdapat banyak potensi untuk proptech di Asia Pasifik. Dengan berkembangnya generasi muda, pertumbuhan urbanisasi, dan pola pikir 'mobile first'. Kondisi-kondisi ini dapat mempercepat pertumbuhan sektor baru dan membawa peningkatan efisiensi dan pengalaman yang lebih baik bagi para pengguna teknologi.

Raksasa Proptech Asia

Menariknya, laporan tersebut menunjukkan Cina dan India muncul sebagai dua pasar terbesar untuk startup proptech berdasarkan pada nilai pendanaan dan total jumlah transaksi. Mereka yang berada di Cina mengumpulkan dana investasi terbanyak, yaitu sekitar US$ 3,02 miliar atau kisaran Rp 40,8 miliar, lebih dari 60% dari total dana di Asia Pasifik dengan 34 transaksi.

India memiliki jumlah startup proptech tertinggi di Asia Pasifik dengan 77 transaksi dengan total nilai pendanaan US$ 928 juta atau sekitar Rp 12,5 miliar.

-

Evolusi Proptech

Laporan ini mengungkapkan bahwa proptech di Asia Pasifik telah berkembang secara signifikan sejak pertama kali muncul di tahun 2007 dengan listing startup properti residensial. Dengan keadaan ini, proptech akan mulai melayani kebutuhan perusahaan besar dan  sektor real estate komersial.

Proptech melayani empat pasar utama, yaitu Brokerage dan Leasing, Investasi dan pendanaan,  Pengembangan Proyek dan Manajemen Properti. Lebih dari setengah atau 52% startup yang telah mengumpulkan dana sejak tahun 2013 berasal dari kategori brokerage dan leasing, di mana mereka berfungsi sebagai marketplace untuk para broker, pemilik dan pembeli properti.

Anthony Couse juga mengatakan bahwa yang menarik bagi perusahaan seperti JLL adalah semakin banyak perusahaan startup yang bermunculan dan dapat memiliki solusi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan-perusahan besar.

“Begitu kita mulai melihat penerapan teknologi seperti pencetakan 3D, robotika, dan drone bersamaan dengan  pertumbuhan Smart City di Asia, maka hal ini dapat  mentransformasi industri real estate," tambahnya.

Unicorn Proptech dari Asia

Berdasarkan matriks analisis The Total Investasi Real Estate Universe yang dikembangkan secara khusus oleh JLL dan Digital Savviness yang ditetapkan oleh World Economic Forum’s Networked Readiness Index, Tech in Asia memproyeksikan bahwa negara-negara dengan potensi tertinggi untuk memiliki unicorn—atau yang disebut dengan miliar dollar startup—di Asia Pasifik, yaitu terdapat di Cina dan Jepang.

“Kami telah memperhatikan bahwa Cina telah memiliki unicorn proptech, khususnya di wilayah Lianjia yang berhasil mendapatkan dana dari investor sebesar US$ 1,69 miliar untuk bisnis brokerage yang berbasis teknologi. Dengan antusiasnya Cina dalam mengadopsi fintech dan pembayaran via mobile, pertumbuhan proptech diprediksi akan lebih banyak di Cina,” kata Terence Lee, Managing Editor Tech in Asia.

Selain Cina, Jepang sudah mempunyai pondasi untuk menciptakan miliaran dolar startup yang sukses karena keinginan yang tinggi untuk mengadopsi blockchain.

Sementara itu, di tengah banyak startup yang bergerak di bidang e-commerce dan gaming, diprediksi proptech berpotensi dan menjadi salah satu sektor kunci yang harus kita perhatikan dalam tiga sampai lima tahun ke depan.

  • Editor: Wicak Hidayat
TAGS
LATEST ARTICLE

Ekonomi Digital Indonesia, Dari Market Place ke Services

Berdasarkan kajian Google, Temasek dan Bain & Company, Indonesia punya potensi ekonomi digital yang paling tinggi dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Bagaimana agar potensi tersebut dapat diraih?

Senin, 17 Februari 2020 | 17:24 WIB

Penerapan Artificial Intelligence di Tokopedia

Artificial Intelligence menjadi salah satu hal yang akan terus menjadi tren pada tahun ini. Bagaimana penerapan AI pada salah satu e-commerce terbesar di Indonesia, Tokopedia?

Kamis, 6 Februari 2020 | 14:47 WIB

Digitalisasi UKM

99,2% pelaku usaha berskala UKM, membangun perekonomian berarti memberikan dukungan bagi UKM; yang salah satunya dengan Digitalisasi UKM

Jumat, 31 Januari 2020 | 14:31 WIB

Trend Teknologi 2020

Kemana arah perkembangan teknologi? Inilah trend teknologi yang akan berkembang pesat pada 2020

Selasa, 28 Januari 2020 | 13:05 WIB

Mau Mulai Bisnis? Keluarlah dari Zona Nyaman!

Zona nyaman memang membuat kita sulit beranjak. Tetapi, untuk memulai bisnis kita harus keluar dari zona nyaman tersebut. Yuk, simak cerita CEO dan Co-Founder Logisly tentang bagaimana ia keluar dari zona nyaman dan memulai bisnisnya.

Senin, 19 Agustus 2019 | 14:28 WIB