LogoDIGINATION LOGO

Bisnis Makanan dan Minuman di Masa Depan

author Oleh Xavier Denoly Rabu, 29 Agustus 2018 | 16:10 WIB
Share
Xavier Denoly, Country President Indonesia Schneider Electric (ristekdikti.go.id)
Share

Industri makanan dan minuman merupakan salah satu industri yang menjadi percontohan penerapan revolusi industri 4.0. Namun berdasarkan data yang rilis oleh Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) pada April 2018, dari 6.875 industri makanan dan minuman skala menengah besar, saat ini baru 20% yang sudah menuju industri 4.0, meski belum di seluruh rantai nilai produksi. Lalu pertanyaannya seberapa perlu industri ini beralih ke smart manufacturing? Dan mengapa?

Bila kita melihat dari karakteristik industrinya, produsen makanan dan minuman menghadapi banyak tantangan yang sama seperti perusahaan di industri lainnya– margin tipis, peralatan yang menua dan anggaran pengadaan teknologi yang minim. Namun, sebenarnya sektor ini memiliki keunikan dan tantangan tersendiri karena berhubungan langsung dengan konsumen akhir (end customer). Kepuasan konsumen terhadap produk dan merek yang mereka pilih dan dinamika tren konsumen yang sangat cepat menjadi tantangan terbesar produsen makanan dan minuman.

Pertama, konsumen saat ini menuntut lebih banyak variasi produk daripada sebelumnya - menurut Fortune, meningkatnya permintaan akan variasi produk adalah salah satu penyebab utama banyaknya pergantian manajemen di perusahaan makanan dan minuman global beberapa tahun terakhir ini Bayangkan saja dalam satu merek produk biskuit misalkan, perusahaan harus memproduksi hingga belasan varian biskuit mulai dari pilihan rasa, penambahan kandungan yang berbeda (seperti tambahan kalsium, vitamin, dsb), produk khusus untuk pengidap penyakit tertentu (seperti diabetes atau darah tinggi) dan masih banyak lagi. Semakin banyak varian yang diproduksi, semakin tinggi biaya produksi.

Permintaan varian produk yang meningkat berarti perusahaan harus lebih berinovasi dan sekaligus bekerja dengan lebih cerdas untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional agar tetap kompetitif.

Kedua, konsumen yang semakin terhubung secara digital mengharapkan produsen lebih transparan dalam menyampaikan informasi dan akan bereaksi dengan sangat cepat terhadap masalah terkait keamanan dan kesehatan dari produk yang dikonsumsinya. Produsen makanan dan minuman semakin dituntut untuk lebih detil dan akurat dalam mencatumkan informasi di dalam label produknya. Sedikit saja kesalahan yang menyebabkan produk harus ditarik ulang (recall) akan berujung pada potensi hilangnya kepercayaan konsumen terhadap merek tersebut.

Untuk itu sangat penting bagi produsen makanan dan minuman untuk memiliki sistem pelacakan yang terintegrasi dari hulu ke hilir serta sistem jaminan mutu produk, yang tidak hanya bertujuan untuk mengatur efesiensi dan efektivitas produksi, namun juga untuk memberikan informasi yang akurat dan merespon dengan cepat dan efisien. Transformasi digital memungkinkan perusahaan makanan dan minuman untuk memenuhi kebutuhan konsumen, menjaga kualitas dan mengurangi risiko kesalahan, serta memenangkan hati konsumen.

Iliustrasi kuliner (Freepik)

Peningkatan Produktivitas dan Jaminan Kualitas Produk

Perawatan aset seperti mesin yang kurang baik akan berdampak terhadap efektivitas dan kualitas produksi. Namun sering kali perusahaan melihat aspek perawatan aset sebagai hal yang dapat ditunda dan dianggarkan dengan budget yang minim, sehingga perawatan baru dilakukan ketika terjadi gangguan atau kerusakan pada aset. Padahal apabila dihitung lebih seksama, biayanya menjadi sangat tinggi karena tidak hanya biaya untuk perbaikan namun dampak terhadap terhentinya kegiatan operasional dan produksi akibat kegiatan perbaikan aset.

Pemanfaatan Industri 4.0 atau smart manufacturing, yang menggabungkan Industrial Internet of Things (IIoT), Big Data and analytics, Cloud, mobility dan augmented and virtual reality (AR/VR), memberikan kemampuan lebih untuk produsen makanan dan minuman untuk memvisualisasikan potensi masalah, mencari solusi alternatif, dan memahami dampak dari keputusan yang mereka buat untuk meningkatkan keandalan operasional ke tingkat yang baru. Pengelolaan energi juga dapat dilakukan secara efisiensi sehingga biaya energi dapat ditekan.

Mempercepat Distribusi Produk ke Pasar

Dalam lingkungan yang kompetitif ini, sangat penting bahwa perusahaan meningkatkan kecepatan distribusi produknya ke pasar. Tuntutan baru untuk variasi produk baru dapat muncul tiba-tiba.

Perusahaan harus dapat merespon dengan cepat terhadap diet yang sedang tren atau meningkatnya permintaan akan bahan tertentu. Dengan semakin banyak perusahaan beroperasi secara global, artinya perusahaan harus memastikan produk yang diproduksinya menyesuaikan dengan peraturan BPOM yang berlaku di negara asal. Bahan yang diperbolehkan di satu negara dapat menjadi tidak diizinkan dalam konteks yang sama di negara atau wilayah yang berbeda. Ini berarti perusahaan harus tetap fleksibel dalam operasinya.

Kecenderungan yang sama terlihat dalam sisi pengemasan produk. Karena ada peningkatan permintaan untuk produk dan kemasan untuk acara-acara tertentu yang bersifat musiman, perusahaan harus dapat dengan cepat menciptakan variasi kemasan baru, namun tanpa perlu mengeluarkan tambahan biaya pengepakan yang mahal. Digitalisasi memberi perusahaan kemampuan untuk menjadi lebih responsif terhadap konsumen dan mengurangi waktu distribusi ke pasar.

Pengaturan pengunduhan parameter resep secara elektronik, pelaksanaan proses batch dan pengemasan yang konsisten, serta pengaturan konfigurasi kandungan (bill of materials) melalui RFID atau pembaca barcode membantu untuk mengelola lebih banyak variasi produk dengan lebih aman dan akurat. Hal ini juga memungkinkan produsen untuk mencapai waktu pergantian produk yang lebih cepat tanpa meningkatkan risiko kehilangan kualitas, atau ketidaksesuaian isi produk dengan kemasan.

Responsif Terhadap Risiko Penarikan Produk

Jelas, menghindari penarikan produk adalah tindakan yang lebih disukai, dan solusi pelacakan material, penelusuran produk dan pemeriksaan label 100% komprehensif sangat membantu dalam memastikan kualitas barang jadi yang meninggalkan pabrik. Namun, terlepas dari upaya terbaik semua orang, terkadang kesalahan label, ketidaksesuaian, atau kontaminasi bahan atau produk mungkin saja terjadi.

Ketika terjadi penarikan kembali, perusahaan harus dapat bereaksi dengan cepat dan efektif. Ini sangat penting untuk keselamatan konsumen, karena produk yang terkontaminasi atau salah label dapat berdampak pada risiko kesehatan yang serius dan akan berdampak terhadap reputasi merek dan perusahaan.

Transformasi digital untuk inventaris, produksi dan kualitas operasional dengan manufacturing execution systems (MES) dan integrasi dengan Enterprise Resource Planning (ERP) serta Quality system memungkinkan penelusuran menyeluruh lengkap dari penerimaan produk, hingga pengiriman logistik.

Hal ini memungkinkan mengambil langkah yang cepat dan tepat dalam melakukan penarikan produk, serta memastikan kepatuhan terhadap peraturan.

 

* Xavier Denoly adalah Country President Indonesia Schneider Electric. Tulisan ini merupakan opini pribadinya dan bukan mewakili opini redaksi Digination.id 

  • Editor: Dikdik Taufik Hidayat
TAGS
RECOMMENDATION

Jurus Melejitkan Startup Lewat Meja Makan

Berbeda saat akan memulai bisnis, pada saat ingin lebih melejit, startup butuh lebih dari bimbingan dari sekutu profesional, kolega, mentor, dan sahabat terkait

Selasa, 10 April 2018 | 11:35 WIB
LATEST ARTICLE

Perubahan Lintas Generasi

Mereka adalah kelompok anak muda yang ingin “dianggap eksis”. Mereka tidak ingin dianggap hanya sekedar pelengkap dari segala sesuatu yang selama ini harus ditentukan oleh orangtua.

Minggu, 30 September 2018 | 08:45 WIB

Langit Runtuh dari Dalam

Perusahaan bisa saja goyah. Bukan terutama karena diganggu pesaing, melainkan karena kesalahan sendiri.

Minggu, 16 September 2018 | 15:25 WIB

Jangan Bilang-Bilang

Teknologi benar-benar telah memorakporandakan kata "rahasia perusahaan". Apalagi ada banyak karyawan yang suka menceritakan gosip di dalam perusahaan, walaupun kalimatnya selalu dimulai dengan: "Jangan bilang-bilang...!"

Minggu, 9 September 2018 | 10:25 WIB

Command Center, Smart City & AI

Kadang Command Center hanya jadi tempat foto bersama kunjungan tamu. Saat ada tamu dihidupkan, setelah tamu pulang mati lagi.

Senin, 20 Agustus 2018 | 11:50 WIB

Kopi, Koin dan Kriptografi

Pernahkah Anda minum kopi dengan nama Sigarar Utang? Konon, kopi dari Tapanuli Utara ini kalau diterjemahkan berarti “pelunas hutang” atau “pembayar hutang”

Jumat, 16 Maret 2018 | 03:41 WIB

Selamat Datang TV Everywhere

Perhatikan apakah dalam 1 minggu, anak Anda masih duduk manis di depan TV menyaksikan acara kesayangannya? Kalau masih, berapa jam per minggu ia duduk di depan TV? Atau malah dalam seminggu sama sekali mereka tidak menonton televisi

Jumat, 25 Agustus 2017 | 02:08 WIB

Hoax dan Lompatan Internet Orang Indonesia

Mike Walsh, pembicara megatrend dalam satu seminar di Liverpool, yang kebetulan saya ikuti, menceritakan anomali orang Indonesia di dunia digital

Kamis, 24 Agustus 2017 | 02:09 WIB

Single Operator DTT di Indonesia, Mengapa Tidak?

Seorang teman penggiat Digital Terrestrial TV (DTT) di Indonesia menelpon saya dari seberang sana untuk mengkonfirmasi satu hal “DTT dengan single mux Malaysia katanya gagal”

Selasa, 22 Agustus 2017 | 11:33 WIB

Kecerdasan Kota

Smart City atau Kota Cerdas yang ramai dibicarakan, masih banyak menyisakan banyak pemahaman apalagi implementasinya

Selasa, 22 Agustus 2017 | 02:24 WIB

Siaran TV Digital, Lalu Apa?

Kalau sering bolak balik melihat kanal tv sekarang, Anda pasti disajikan beberapa statiun tv baru dari layar televisi Anda

Selasa, 22 Agustus 2017 | 02:12 WIB

Back to Basics

BACKGROUND Six years ago, I returned to Indonesia after living and working in the U

Senin, 21 Agustus 2017 | 07:18 WIB