LogoDIGINATION LOGO

Langit Runtuh dari Dalam

author Oleh Agung Adiprasetyo Minggu, 16 September 2018 | 15:25 WIB
Share
ilustrasi (Shutterstock)
Share

 

Perubahan besar dalam dunia bisnis hari ini memaksa perusahaan dikelola dengan cara berubah juga. Jika tidak, perusahaan bisa saja goyah. Bukan terutama karena diganggu pesaing, melainkan karena kesalahan sendiri. Kesalahan karena perusahaan gagal paham dan terlambat menyesuaikan diri.

Pencuri hard drive itu melarikan diri sampai ke atas kereta yang melaju dengan cepat di Istanbul, Turki. Di belakangnya Bond mengejar orang itu, hingga akhirnya mereka terlibat dalam adu jotos dan adu tendang di atas kereta. Menjelang terowongan kereta api, “M” (Judie Dench) sebagai bos agen M16 memerintahkan Eve, seorang agen juga, untuk menembak pencuri hard drive berisi data detail agen-agen di seluruh dunia yang bekerja di bawah tanah. Sayang tembakan Eve meleset. Lebih sial lagi tembakan itu justru mengenai Bond. Bond jatuh ke sungai lalu dinyatakan meninggal dunia, sementara Patrice, sang pencuri hard drive kabur… itu adalah sekelumit kisah dalam film James Bond, berjudul Skyfall. Adegan di Turki itu menjadi pembuka dari film yang kali ini dibintangi oleh Daniel Craig.

Cerita film ini ditulis oleh Peter Morgan. Peter tidak sempat menyelesaikan cerita ini karena MGM sebagai distributor harus menghadapi masalah keuangan. Akhirnya, setelah dua tahun tertunda, produksi dilanjutkan. Logan, Purvis, dan Wade menyelesaikan script cerita ini.

Yang menarik dari cerita James Bond ke-23 ini adalah “keterpaksaan” untuk mengubah plot sesuai apa yang hidup zaman ini. James Bond nyaris tidak mungkin lagi berkutat dengan cerita kiprah agen intelijen model lama, dengan orang-orang lama yang bekerja dengan cara kerja dan pola pikir lama. Mengapa? Karena selera penonton film sudah berubah! Sulit bagi James Bond untuk meneruskan film action model lama. Apa boleh buat, untuk mengikuti selera penonton ke depan, James Bond harus mengalami transformasi. Boleh dibilang Skyfall merupakan film pengantar dari James Bond model lama ke James Bond model baru.

Dalam film yang di-release tahun 2012 ini diceritakan markas besar MI6 yang megah, gagah, dan angker itu diserang oleh orang yang pernah menjadi agen binaan “M” bernama Raoul Silva. Raoul frustrasi menjadi agen karena merasa dikhianati oleh “M”, mantan bosnya. Gedung yang diledakkan ini menjadi simbol dari dihancurkannya sebuah monument lama, legenda dari apa yang dikatakan “hebat” tempo dulu. 

Istana dan simbol kebesaran yang dimanifestasikan dalam sebuah gedung atau ruang kantor yang megah zaman dulu, harus berpindah ke sebuah “tempat kerja” masa kini yang barangkali secara fisik tidak penting lagi. “M” terpaksa harus memindahkan tempat operasi intelijen ke sebuah ruangan lebih kecil, bekas stasiun kereta api. Barangkali memang harus begitulah tempat kerja hari ini. Tak perlu lagi gedung megah, karpet mewah, prabot prestisius, namun yang lebih penting adalah apa yang ada di dalam gedung itu harus sanggup mengontrol semua kegiatan operasional di lapangan dengan tepat, efektif, dan efisien. Tak perlu lagi ruang besar-besar dengan perlengkapan serba wah, karena semua aktivitas bisa dioperasikan dan dikendalikan secara maya. Dashboard sekarang bisa menunjukkan gambar lapangan, memonitor orang yang bekerja, dan memberi instruksi apa yang harus dilakukan.

Perpindahan sistem operasi ini juga sekaligus menjadi symbol kalau dunia virtual adalah dunia masa kini. Apa boleh buat, sebagai organisasi intelijen modern MI6 pun harus mengikuti perkembangan zaman dunia virtual ini. “M” dalam film ini akhirnya harus diceritakan meninggal karena terluka, supaya kemudian bisa diganti dengan orang yang lebih muda. Kembali lagi, film ini seperti memberi simbol pergantian generasi, yang walaupun dibilang terpaksa, tetap harus dilakukan.

“M” memang harus digantikan supaya ke depan James Bond mempunyai aura baru, darah baru, manifestasi baru. Skyfall sekaligus menjadi penampilan Judi Dench terakhir setelah membintangi James Bond dalam enam film sebelumnya. Film ini seperti ingin menunjukkan “Eehh… jika James Bond tak ingin kehilangan penggemar yang berusia lebih muda ya ganti saja tokoh-tokoh legendaris lama dengan yang lebih segar, muda, dinamis, dan masa kini.

“M” mungkin tak bisa lagi berkilah: “Lho…  saya kan sudah berjasa membuat James Bond besar dalam enam film sebelumnya, masak jasa-jasa saya tidak dihargai… habis manis sepah dibuang…”

Bukan hanya “M” yang kena gusur dalam film Skyfall. “Q” (Desmond Llewelyn yang sudah membintangi 21 dari 24 film Bond juga digantikan oleh anak muda bertampang profesor, cerdas, namun eksentrik. Pengganti “Q” yang masih berusia 31 tahun ini bernama Ben Wishaw. “Q” adalah tokoh yang biasanya membuat peralatan persenjataan dan alat bantu sebagai bekal operasi James Bond. Hasi ciptaan “Q” biasanya berupa peralatan dan barang yang besar, unik, dan spektakuler, yang menjadi ciri film action zaman dulu! Ya begitulah, sedikit tak masuk akal tak apalah, yang penting penonton dibawa pada sebuah fenomena yang wow yang mendebarkan karena perangkat spektakuler. Istilah canggih waktu itu adalah “wah” dalam imanjinasi kita. Mau disebut masuk akal atau tidak, itu tidak terlalu penting. 

Tetapi, Ben Wishaw yang menggantikan “Q” mempunyai inspirasi lain. Dalam Skyfall kita tidak bertemu mobil yang bisa menghilang, atau mobil yang bisa terbang, atau sepeda motor amfibi, mesin gergaji segede container dan peralatan super lain untuk mendukung operasi intelijen Bond. Bond hanya diberi dua alat kecil saja. Satu radio mini untuk memonitor keberadaan Bond, dan satu pistol yang hanya bisa diaktifkan melalui sidik jari Bond.

Baca juga: Jangan Bilang-Bilang 

Memenangkan perang hari ini tidak ditentukan oleh alat-alat yang secara fisik besar. Zaman dulu sesuatu dikatakan canggih karena peralatan raksasa itu bisa dilihat dan didengar oleh panca indra kita secara mengagumkan. Hari ini ada banyak perlengkapan sederhana, drone, pesawat nirawak yang kelihatan sederhana atau biasa saja, tetapi membawa keunggulan teknologi tertentu. Keunggulan teknologi dengan daya penghancur lebih besar dari peralatan kuno yang besar-besar itu ditunjukkan dalam film ini. Pesawat tempur dikendalikan melalui remote control dari kapal induk. Begitu pesawat ini tertembak, hancur luluh dengan sendirinya, sehingga tak mudah dibongkar rahasianya. Tak ada pula manusia yang menjadi korban jika pesawat tertembak musuh.

Wishaw sebagai “Q baru” digambarkan sebagai orang yang sangat menguasai sistem informasi dan protokol keamanan sistem computer. Dia bekerja dengan peralatan komputasi, informasi, dan komunikasi sekali lagi M dan Q terpaksa harus diganti dengan orang yang lebih muda supaya plot cerita berikutnya nyambung dengan situasi hari ini, termasuk mengakomodasi selera penonton yang lebih mudah.

Ada hal lain yang bisa menjadi catatan jika kita kembali ke cerita Skyfall. Ini adalah pertarungan dua agen yang sama-sama pernah mengalami cedera karena keputusan “M”. bond sebagai “agen loyal” melawan Raoul Silva sebagai “agen sakit hati”. Pertarungan antara karyawan loyal dan karyawan yang terganggu perasaan loyalitasnya karena kondisi tertentu. Karyawan loyal diganggu dengan bermacam-macam ujian dan provokasi untuk membuktikan apakah dia tetap tegar dalam melewati semua persoalan di perusahaan.

Tetapi, kembali lagi, jangan-jangan karyawan yang dianggap tidak loyal itu bukan digoda oleh tawaran lebih baik dari luar, melainkan karena situasi buruk yang diciptakan dari dalam perusahaan. Lebih dari 50% dari karyawan yang diwawancara saat mengundurkan diri dari perusahaan mengatakan mereka ingin pergi dari perusahaan karena tidak merasa cocok dengan sikap dan cara kepemimpinan pimpinan langsungnya.

Cerita Skyfall seakan menunjukkan bahwa pertarungan di banyak Lembaga adalah pertarungan dalam keunggulan penguasaan teknologi ditambah pertarungan memperebutkan kompetensi sumber daya manusia. Jika tidak hati-hati, perusahaan bisa saja susah karena karyawan terbaiknya membelot. Film ini juga mengingatkan prinsip dasar pengelolaan manusia di semua Lembaga. Manusia bukan barang. Walaupun sudah dicuci otak dan dilatih sedemikian rupa supaya dia mau berjihad, toh akhirnya ada banyak pertimbangan intangible lain. Apalagi tidak bisa ditampik karyawan tahu ketika mereka bekerja dengan baik, lalu perusahaan berkembang baik, pemegang saham menikmati hasil, lalu karyawan menikmati apa?

Intinya, mengelola manusia tak bisa semena-mena, digeser, dipindahkan, atau dibuang begitu saja. Peran sumber daya manusia yang barangkali paling banyak dipidatokan sebagai asset perusahaan, tak bisa lagi hanya sekadar menjadi pidato dan semangat. Kunci faktor sukses suabuah perusahaan benar-benar ditunjukkan oleh seberapa hebat perusahaan memilih pemimpin perusahaannya, dan seberapa piawai pimpinan perusahaan itu memilih karyawan terbaiknya untuk menjadi jagoan yang mengeksekusi strategi terbaiknya.

ilustrasi perubahan bisnis (Shutterstock)
 

Model Bisnis Yang Berubah

Mengapa saya mengambil cerita film untuk menggambarkan perubahan situasi yang juga dialami perusahaan? Film bisa banyak menginspirasi, karena film selalu dibuat mengikuti dan selaras dengan apa yang hidup pada zamannya. Nyaris tak ada film baru yang memakai setting kedaluwarsa. Jika kita amati apa yang terjadi di dunia film, praktis semua hal yang kita tonton dalam film saat itu secara nyata menunjukkan apa yang hidup di dunia paling mutakhir tempat kita berpijak. Jika kita amati dengan saksama, perjalanan dunia film, adalah perjalanan peradaban manusia. Mulai dari zaman dulu pertama kali film bisa ditayangkan di layar lebar, lalu terus berkambang menjadi peristiwa aktual yang terjadi pada hari ini. Budaya, alat kelengkapan hidup, sikap politik, teknologi, cara berbicara, dan bergaul tecermin di layer secara nyata.

Isu penting, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perebutan politik dan kekuasaan, semuanya bisa menjadi bahan belajar karena dunia film harus up to date. Keunggulan sebuah rumah produksi adalah pada kemutakhiran cerita dan Teknik pembuatan film. Penonton dibawa pada imajinasi tanpa batas. Lansekap, platform, dan asesori dalam sebuah film mencerminkan apa yang ada dan hidup hari ini, tetapi sekaligus kia bisa membayangkan apa yang akan terjadi di depan mata beberapa waktu ke depan.

Film Avenger misalnya. Barangkali untuk sebagian penonton berusia “senior”, setelah menonton film ini akan bertanya: “ini film sebenarnya akan meninggalkan pesan apa ya buat penonton..?” tapi buat anak muda film ini seakan nyambung dengan dunia mereka, menjadi bahan obrolan, bahkan kalua belum nonton film ini, seperti tidak mengikuti zaman. Ini sama dengan saat Flash Gordon dibuat karena penulis skenarionya tempo doeloe mengimajinasikan apa yang diramalkan akan terjadi beberapa puluh tahun ke depan. Dan itulah yang terjadi hari ini. Flash Gordon tidak hanya sekadar imajinasi melainkan manifestasi.

Dahulu orang menonton film atau mendengarkan music secara fisik. Orang menonton di Gedung bioskop, atau mendengarkan music dengam membeli pita kaset. Dunia film mengenal istilah blockbuster. Ukuran blockbuster adalah berapa banyak orang yang mengunjungi Gedung bioskop untuk menonton film tertentu yang diukur dalam juta orang. Di industri music juga sama. Ukuran sukses gagalnya sebuah album ditentukan oleh banyaknya keping compat disc atau kaset yang terjual di toko musik.

Chris Anderson, pemimpin redaksi majalah Wired membukukan pendapatnya yang kemudian terkenal dengan teori Long Tail. Chris menjelaskan bahwa dalam dunia kita hari ini ada banyak hal yang bergeser. Dulu lazin bila segelintir pemain besar memonopoli segala sesuatu dan mereka mendominasi pasar. Hari ini ada banyak pemain kecil-kecil yang lebih terfragmentasi, namun jika pemain kecil ini dijumlahkan, akumulasinya bisa lebih besar dan lebih berpengaruh dari satu dua pemain besar itu.

Dunia musik tidak lagi didominasi oleh satu dua pemain besar, namun ada banyak pemusik independent yang bisa memproduksi dan menjual hasil karyawanya lewat media yang berbeda. Rumah produksi musik yang kecil-kecil dan lebih fleksibel, bisa saja dengan mudah memproduksi dan memasarkan hasil karyanya, karena ada media baru.

Dunia musik tidak lagi tergantung pada stasiun radio, sementara film video tidak lagi tergantung dari stasiun televisi untuk menyebarluaskan hasil karya musik maupun film yang diciptakan orang-orang kreatif ini. Media tradisional tidak bisa lagi menjadi pemain yang memonopoli pasar. Ada banyak pemusik, orang terkenal, atau pemain film berangkat dari memproduksi sendiri kebisaannya, lalu mengunduhnya dalam video, menayangkannya dalam You Tube. Lalu jadi “ngetop”-lah dia.

Dunia digital kemudian mengubah wajah dunia industri film dan music. Produser film masih tertolong Gedung bioskop sebagai cara tradisonal menikmati film. Beberapa Gedung bioskop sekarang mengunduh film dari server terpusat yang diputar di Gedung bioskop lewat satelit. Tidak lagi seperti zaman dulu, harus ada distribusi film secara fisik. Walaupun produser, distributor relative masih mengontrol peredaran film, kontrak pemutaran dan penjualan DVD nya, namun bersamaan dengan berubahnya platform media, kontrak penjualan film ke media juga mengalami perubahan. Industri musik lebih parah karena musik dilansir lewat dunia maya. Akibatnya, Industri pita kaset dan keping DVD-pun jadi “megap-megap”.

Banyak barang dijual di dunia virtual. Pasar menjadi sangat terfragmentasi, karena seseorang dengan mudahnya membeli, mencari, dan mengunduh barang yang akan dikonsumsinya. Penjual mendapat saluran baru: layar komputer atau layar telepon pintar. Ibu-ibu yang pandai memasak, menjahit atau membuat kerajinan tertentu, lalu ingin memulai usaha pribadinya, tak perlu pusing memikirkan sewa toko, showroom, sewa tempat di mal, atau stok yang menumpuk. Kalau dulu cara distribusi terhambat faktor fisik, sekarang faktor itu tiba-tiba bisa diterobos. Ojek on line menyelesaikan urusan distribusi. Konsumen tidak perlu pergi ke toko. Foto saja produk yang akan dipasarkan di telepon cerdas. Beri keterangan untuk menggambarkan produk apa yang dijual, bagaimana spesifikasinya, dan berapa harganya. Selesai. Bandingkan dengan cara menjadi wirausahawan zaman dulu.

Menurut Chris Anderson pilihan produk begitu beragam. Namun, ada karena operator menyediakan cara yang lebih udah untuk mencari barang yang tersedia dan berserakan di semua tempat itu, maka variasi jumlah konsumen yang mengonsumsi produk dalam jumlah kecil-kecil itu kemudian dikumpulkan, lalu kumpulan ini dikatakan sebagai “ekor”, maka bisa jadi jumlah ekor ini akan lebih besar dari satu dua produk blockbuster yang bisa disebut juga sebagai kepala. Ekornya menjadi lebih besar daripada kepalanya.

Ternyata, masih menurut Chris Anderson, model ini tidak hanya terjadi di industri musik dan film saja. Oleh karena persaingan yang begitu ketat, pasar pun dipilah-pilah dalam jumlah yang semakin beragam, emakin banyak variasinya, namun jumlah penjualannya kecil-kecil. Tidak mudah lagi menjadi pemain besar yang menguasai atau memonopoli sebagian besar pasar.

 Baca juga: Kopi, Koin dan Kriptografi

Jika dulu kita masih bisa bertemu dengan sebuah harian yang menuliskan kalimat: Harian untuk umum, di bawah mereknya, sekarang tagline itu bisa tidak berarti lagi. Karena tidak ada konsumen yang bisa bersifat dan bersikap “umum”. Konsumen merasa sebagai anggota klub tertentu, dan oleh karena itu mereka didefinisikan dalam target audiens tertentu. Tanpa definisi ini, sasaran yang akan ditempak oleh produsen jadi tidak jelas, dan ujung-ujungnya tak bisa membedakan antara produk kita dan produk bikinan pesaing. Konsumen yang membaca koran untuk umum itu pun ternyata juga terpilah, terkotak-kotak berdasarkan usia, gender, atau lokasi tempat tinggalnya. Mana ada istilah produk “satu untuk semua”.

Ini fenomena televisi di Indonesia. Tahun 2000-an, audiens share RCTI dan SCTV sebagai penarik penonton televisi di Indonesia masih di atas angka 30 persen. Tak sampai sepuluh tahun kemudian, bagian pasar pemain media terbesar di Indonesia itu tak pernah mencapai angka 20%. Lalu muncullah pemain lain yang lebih kecil, yang jumlahnya sanggup menangkap 60% penonton televisi.

Untuk menentukan posisi tawar akhirnya stasiun televisi itu melakukan merger dan akuisisi. MNC membentuk holding mengayomi RCTI, MNC TV, Global TV, Sindo TV, Indovision, di luar media cetak dan internet. SCTV membentuk holding untuk mengayomi Indosiar yang di-swap dengan London Sumatera Plantation. Trans TV mengambil sebagian saham TV7, dan kelompok Bakrie mengempit TV One dan ANTV. Pergeseran pangsa pasar bukan hanya dialami media saja. Penjualan di toko retail  juga mengalami pergeseran.

Oleh karena itu, semua produk bisa ditawarkan melalui cara virtual, maka menjadi tidak sangat penting sebuah toko retail mempunyai toko raksasa yang luas guna memajang semua barang untuk dipamerkan. Lebih-lebih menyimpan sediaan dalam jumlah aduhai. Inventori virtual digital, seperti musik, film, buku, kebutuhan pokok, smartphone, alat rumah tangga, tas dan produk fashion, hanya tinggal dibeli dengan cara membuka toko on line yang menjual barang yang dimaksud. Proses pembelian yang mengerjakan proses itu. Menjelajahi dunia maya dan kemudia memproses sendiri barang yang ingin dibelinya. Bahkan, cara ini dianggap menjadikan pengalaman lebih menarik bagi konsumen. Konsumen tak perlu dilayani karyawan, cukup klik sana sini, maka selesailah seluruh urusan pembelanjaannya.  

Namun, sebaliknya, karena yang dilayani konsumen individual, menjadi sulit pula untuk mengandalkan satu cara distribusi yang berlaku bagi semua produk. Preferensi konsumen bermacam-macam. Akibatnya, tak mungkin juga ada satu produk yang sanggup melayani semua jenis konsumen.

Mungkin hanya udara dan matahari saja yang bisa mewakili jenis produk yang sama, yang akan di konsumsi semua orang di seluruh dunia, mulai dari anak baru lahir, sampai kakek nenek yang akan meninggalkan dunia ini, mulai dari pria dan wanita, bersekolah atau tidak, pengangguran atau eksekutif top dunia. Konsumen membutuhkan variasi harga, variasi produk, dan variasi cara untuk mendapatkan produsen berpikir produksi massal. Bahkan, ada lebih banyak celah baru, yang terbuka dan mempunyai potensi. Potensi untuk menggerakkan komunitas, dan potensi untuk melayani dengan fokus.

Terakhir, bila kita membuka internet, maka hampir pasti akan ada kolom komentar, ada kolom consumers review,  atau experts review. Model ini mirip tulisan yang biasa ditempel di dinding restoran masakan Padang: “bila Anda kecewa beri tahu kami, bila Anda puas beri tahu teman-teman.” Berbagi informasi di dunia maya atau word of mouth menjadi alat paling ampuh untuk menghasilkan penjualan. Berjualan di dunia maya harus berpikir paket. Bukan hanya ini “atau” itu yang harus dibeli atau dipilih, tetapi sebaiknya Anda harus membeli barang ini dan itu. Review oleh konsumen bisa menjadi pengaruh kuat untuk menarik konsumen, lebih-lebih konsumen baru. Bayangkan kalua konsumen baru yang akan menginap di satu hotel, lalu membuka review hotel di satu tempat, dan konsumen memberi nilai 9, sementara hotel lain diberi nilai 7 oleh konsumen. Tamatlah hotel yang hanya diberi nilai 7 itu.

Lalu apa hubungan semua cerita ini dengan cerita Skyfall di atas? Kesinambungan! Jika produk ingin tetap up to date, jika perusahaan tetap ingin bertahan, jika karyawan tetap ingin dipakai perusahaan, jika negara ingin menang bersaing dengan negara lain, maka tak punya pilihan lain, semua harus memakai model yang berbeda. Kegagalan menjawab tantangan perubahan hari ini, atau ketakmampuan meninggalkan nostalgia cerita kehebatan zaman dulu, hanya akan membuat semuanya terjun ke bawah, ditinggalkan orang, dan hanya menjadi cerita sejarang belaka. Langit runtuh dari dalam. Bukan terutama karena dimatikan pesaing, melainkan karena kesalahan sendiri. Kesalahan karena tidak segera menyadari jika lingkungan berubah, dan perusahaan segera ikut pula menyesuaikan diri dengan model bisnis yang baru.

Skyfall membuka wawasan, bahkan James Bond pun bisa galau meneruskan kesinambungan filmnya. Dia dipaksa memberi tahu pada semua khalayak, ke depan Anda harus bersiap melihat model dan rasa James Bond yang berbeda, dan itulah cara untuk tetap bertahan hidup.

Tulisan ini telah dimuat dalam buku "Raksasa Mati Gaya", Penerbit Buku Kompas (2017). 

  • Editor: Wicak Hidayat
TAGS
RECOMMENDATION

Jokowi: Indonesia Harus Membuka Diri Terhadap Perubahan Ekonomi Global

Pada Rabu (20/9) Presiden Joko Widodo menyampaikan sambuatan pada acara Economic Talkshow “Ekonomi Baru Di Era Digital” sekaligus peresmian pembukaan Indonesia Business and Development Expo di Plenary Hall, Jakarta Convention Center (JCC) di Jakarta

Rabu, 20 September 2017 | 16:54 WIB

5 Sektor Industri Penggerak Ekonomi Digital

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan lima subsektor industri yang akan menjadi penggerak utama ekonomi digital dan industry 4

Kamis, 18 Januari 2018 | 03:13 WIB
LATEST ARTICLE

Perubahan Lintas Generasi

Mereka adalah kelompok anak muda yang ingin “dianggap eksis”. Mereka tidak ingin dianggap hanya sekedar pelengkap dari segala sesuatu yang selama ini harus ditentukan oleh orangtua.

Minggu, 30 September 2018 | 08:45 WIB

Langit Runtuh dari Dalam

Perusahaan bisa saja goyah. Bukan terutama karena diganggu pesaing, melainkan karena kesalahan sendiri.

Minggu, 16 September 2018 | 15:25 WIB

Jangan Bilang-Bilang

Teknologi benar-benar telah memorakporandakan kata "rahasia perusahaan". Apalagi ada banyak karyawan yang suka menceritakan gosip di dalam perusahaan, walaupun kalimatnya selalu dimulai dengan: "Jangan bilang-bilang...!"

Minggu, 9 September 2018 | 10:25 WIB

Command Center, Smart City & AI

Kadang Command Center hanya jadi tempat foto bersama kunjungan tamu. Saat ada tamu dihidupkan, setelah tamu pulang mati lagi.

Senin, 20 Agustus 2018 | 11:50 WIB

Kopi, Koin dan Kriptografi

Pernahkah Anda minum kopi dengan nama Sigarar Utang? Konon, kopi dari Tapanuli Utara ini kalau diterjemahkan berarti “pelunas hutang” atau “pembayar hutang”

Jumat, 16 Maret 2018 | 03:41 WIB

Selamat Datang TV Everywhere

Perhatikan apakah dalam 1 minggu, anak Anda masih duduk manis di depan TV menyaksikan acara kesayangannya? Kalau masih, berapa jam per minggu ia duduk di depan TV? Atau malah dalam seminggu sama sekali mereka tidak menonton televisi

Jumat, 25 Agustus 2017 | 02:08 WIB

Hoax dan Lompatan Internet Orang Indonesia

Mike Walsh, pembicara megatrend dalam satu seminar di Liverpool, yang kebetulan saya ikuti, menceritakan anomali orang Indonesia di dunia digital

Kamis, 24 Agustus 2017 | 02:09 WIB

Single Operator DTT di Indonesia, Mengapa Tidak?

Seorang teman penggiat Digital Terrestrial TV (DTT) di Indonesia menelpon saya dari seberang sana untuk mengkonfirmasi satu hal “DTT dengan single mux Malaysia katanya gagal”

Selasa, 22 Agustus 2017 | 11:33 WIB

Kecerdasan Kota

Smart City atau Kota Cerdas yang ramai dibicarakan, masih banyak menyisakan banyak pemahaman apalagi implementasinya

Selasa, 22 Agustus 2017 | 02:24 WIB

Siaran TV Digital, Lalu Apa?

Kalau sering bolak balik melihat kanal tv sekarang, Anda pasti disajikan beberapa statiun tv baru dari layar televisi Anda

Selasa, 22 Agustus 2017 | 02:12 WIB

Back to Basics

BACKGROUND Six years ago, I returned to Indonesia after living and working in the U

Senin, 21 Agustus 2017 | 07:18 WIB