LogoDIGINATION LOGO

Menunaikan Janji Teknologi Digital untuk Menyentuh Semua Orang

author Oleh Anggoro Eko Cahyo Jumat, 18 Agustus 2017 | 03:53 WIB
Share
Janji teknologi digital adalah menjangkau semua orang, di mana saja, kapan saja
Share

Janji teknologi digital adalah menjangkau semua orang, di mana saja, kapan saja. Jelas janji muluk yang akan sangat baik jika terwujud. Tapi teknologi seperti apa yang bisa menjangkau semua orang dan, yang lebih utama, apakah hadirnya teknologi itu akan membawa manfaat? 

Kita ambil contoh sederhana saja, manfaat menabung sudah lama diketahui dan diakui. Namun di Indonesia, jumlah penduduk yang memiliki rekening bank masih sangat kecil. Perkiraannya, baru ada 60 juta orang yang memiliki rekening di bank, dari sekitar 250 juta penduduk di Indonesia. 

Di sisi lain, survei Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada 2015 menyebutkan ada 175 juta rekening bank di Indonesia. Artinya, ada cukup banyak nasabah yang memiliki lebih dari satu rekening. Ini menunjukkan jurang antara penduduk yang menggunakan layanan perbankan dan yang belum. 

Apakah mereka yang belum memiliki rekening bank itu semata-mata disebabkan kemiskinan? Belum tentu juga. Badan Pusat Statistik mencatat ada 28 juta penduduk miskin di Indonesia. Jika diperkirakan ada sekitar 180 juta penduduk yang belum memiliki rekening bank, artinya masih ada kurang-lebih 150 juta yang belum memiliki rekening namun tidak tergolong penduduk miskin. 

Ya, angka itu belum memperhitungkan jumlah penduduk di bawah umur. Namun demikian perbankan di Indonesia juga memiliki produk tabungan usia dini yang memang dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah kepemilikan rekening bank. 

Jika melihat data sebelumnya, rendahnya kepemilikan rekening bank bukan semata-mata disebabkan kemiskinan. Namun tak bisa dipungkiri, masyarakat yang membutuhkan bantuan sosial kemungkinan besar adalah masyarakat yang belum memiliki rekening bank. 

Nah, soal ini ternyata ada perkembangan yang bisa membangkitkan harapan. Bantuan Sosial (Bansos) adalah bantuan bersifat sementara yang diberikan kepada Keluarga Penerima Manfaat agar mereka dapat meningkatkan taraf kesejahteraan sosialnya.

Tak bisa dipungkiri, di masa lalu ada banyak masalah dalam penyaluran dana tersebut. Penyaluran bantuan dalam bentuk tunai, selain tidak efisien juga berpotensi disalahgunakan. Oleh karena itu pemerintah telah melakukan inisiatif penyaluran dananya dalam bentuk lain. 

Di sini lah peran teknologi bisa dilihat. Kini dana bantuan akan disalurkan secara lebih terpadu melalui cara-cara yang memanfaatkan perkembangan teknologi. BNI, misalnya, telah menjadi mitra untuk penyaluran bansos melalui kartu khusus sejak Oktober 2016. Kartu tersebut serupa kartu debit biasa namun memiliki fungsi khusus selain sebagai kartu debit yaitu untuk pencatatan kuota bantuan. 

Melalui fungsi itu, dana yang disalurkan akan terpisahkan sesuai peruntukan, misalnya dana untuk pembelian beras hanya akan bisa digunakan untuk membeli beras di warung yang telah ditunjuk. Ini akan meminimalisir penyaluran dana yang tidak tepat guna, misalnya dana untuk bantuan beras justru digunakan untuk membeli produk konsumtif. 

Tapi lebih dari itu, sadarkah bahwa pemanfaatan teknologi relatif sederhana seperti kartu pintar itu berpotensi memiliki dampak lebih luas. Misalnya, dengan penggunaan kartu maka setiap penerima dana bansos akan memiliki rekening bank. Karena, setiap kartu itu juga bisa digunakan untuk menabung. Kemudian, warung-warung di berbagai wilayah Indonesia mulai menerapkan sistem EDC yang bisa menerima pembayaran berbasis kartu. 

Bayangkan ketika bansos juga bisa disalurkan dengan memanfaatkan perangkat mobile, seperti yang juga akan mulai diujicobakan oleh pemerintah. Selain memiliki rekening bank, masyarakat akan mulai memanfaatkan teknologi telekomunikasi bergerak. Warung-warung pun bisa mulai memanfaatkan smartphone, sebagaimana maraknya aplikasi kendaraan roda dua telah memungkinkan pengemudi ojek menggunakan smartphone dan memiliki rekening bank. 

Jika itu masih belum cukup, perhatikan juga bahwa ada manfaat lain dari penerapan teknologi untuk bansos yang terjadi di belakang layar. Sistem dashboard di balik kartu pintar itu memungkinkan terpantaunya penyaluran dana bantuan. Data yang muncul memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih baik bagi pemerintah, misalnya untuk penyaluran dana bantuan di periode berikutnya.

Penerapan teknologi seperti itulah yang benar-benar bisa menunaikan janji teknologi digital membawa manfaat bagi semua orang, kapan saja, di mana saja. Harapannya, akan makin banyak inovasi dan penerapan inovasi yang membawa manfaat bagi seluruh rakyat Indonesia. BNI pun sedang memulai langkah untuk menjadi sebuah institusi keuangan yang benar-benar memanfaatkan digital. Karena kami percaya, manfaat perkembangan teknologi digital harus dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia di berbagai bidang. 

  • Editor: Wicak Hidayat
TAGS
LATEST ARTICLE

Perubahan Lintas Generasi

Mereka adalah kelompok anak muda yang ingin “dianggap eksis”. Mereka tidak ingin dianggap hanya sekedar pelengkap dari segala sesuatu yang selama ini harus ditentukan oleh orangtua.

Minggu, 30 September 2018 | 08:45 WIB

Langit Runtuh dari Dalam

Perusahaan bisa saja goyah. Bukan terutama karena diganggu pesaing, melainkan karena kesalahan sendiri.

Minggu, 16 September 2018 | 15:25 WIB

Jangan Bilang-Bilang

Teknologi benar-benar telah memorakporandakan kata "rahasia perusahaan". Apalagi ada banyak karyawan yang suka menceritakan gosip di dalam perusahaan, walaupun kalimatnya selalu dimulai dengan: "Jangan bilang-bilang...!"

Minggu, 9 September 2018 | 10:25 WIB

Command Center, Smart City & AI

Kadang Command Center hanya jadi tempat foto bersama kunjungan tamu. Saat ada tamu dihidupkan, setelah tamu pulang mati lagi.

Senin, 20 Agustus 2018 | 11:50 WIB

Kopi, Koin dan Kriptografi

Pernahkah Anda minum kopi dengan nama Sigarar Utang? Konon, kopi dari Tapanuli Utara ini kalau diterjemahkan berarti “pelunas hutang” atau “pembayar hutang”

Jumat, 16 Maret 2018 | 03:41 WIB

Selamat Datang TV Everywhere

Perhatikan apakah dalam 1 minggu, anak Anda masih duduk manis di depan TV menyaksikan acara kesayangannya? Kalau masih, berapa jam per minggu ia duduk di depan TV? Atau malah dalam seminggu sama sekali mereka tidak menonton televisi

Jumat, 25 Agustus 2017 | 02:08 WIB

Hoax dan Lompatan Internet Orang Indonesia

Mike Walsh, pembicara megatrend dalam satu seminar di Liverpool, yang kebetulan saya ikuti, menceritakan anomali orang Indonesia di dunia digital

Kamis, 24 Agustus 2017 | 02:09 WIB

Single Operator DTT di Indonesia, Mengapa Tidak?

Seorang teman penggiat Digital Terrestrial TV (DTT) di Indonesia menelpon saya dari seberang sana untuk mengkonfirmasi satu hal “DTT dengan single mux Malaysia katanya gagal”

Selasa, 22 Agustus 2017 | 11:33 WIB

Kecerdasan Kota

Smart City atau Kota Cerdas yang ramai dibicarakan, masih banyak menyisakan banyak pemahaman apalagi implementasinya

Selasa, 22 Agustus 2017 | 02:24 WIB

Siaran TV Digital, Lalu Apa?

Kalau sering bolak balik melihat kanal tv sekarang, Anda pasti disajikan beberapa statiun tv baru dari layar televisi Anda

Selasa, 22 Agustus 2017 | 02:12 WIB

Back to Basics

BACKGROUND Six years ago, I returned to Indonesia after living and working in the U

Senin, 21 Agustus 2017 | 07:18 WIB