LogoDIGINATION LOGO

Nih Dia, Startup Pinjaman Online Khusus Petani

author Oleh Ana Fauziyah Minggu, 14 Oktober 2018 | 12:30 WIB
Share
ilustrasi petani modern (Shutterstock)
Share

Indonesia dikenal sebagai negara agraris bahkan menjadi salah satu negara yang mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber penghasilannya. Sektor pertanian juga menyumbang kontribusi yang signifikan. Bahkan terdapat ungkapan untuk Indonesia yang berbunyi Gemah Ripah Loh Jinawi yang berarti kekayaaan alam yang berlimpah ruah.

Namun meskipun begitu, kesejahteraan untuk petani masih jauh panggang dari api. Sebagian besar petani di Indonesia tidak bisa dipungkiri masih tergolong sebagai masyarakat miskin. Petani juga menghadapi banyak kendala, yang terbesar adalah sulitnya mendapatkan akses modal dan pembiayaan. Karenanya, banyak petani yang malah terjerat oleh tengkulak dan rentenir.

Satu per satu startup hadir untuk menjawab permasalahan yang dihadapi para petani tersebut. Dengan memberikan berbagai layanan, mulai dari pinjaman, akses ke pasar, hingga pembinaan berkesinambungan. Mereka juga hadir sebagai solusi agar petani bisa mendapatkan modal dari investor.  Lalu startup apa saja yang menawarkan pinjaman ke pada para petani? Digination.id merangkum beberapa startup pinjaman online yang khusus menyasar para petani sebagai berikut.

  1. Crowde.co

Crowde.co yang lahir pada tahun 2015 merupakan sebuah platform yang menghimpun dana dari masyarakat sebagai modal kerja petani dengan metode crowd lending. Dengan kata lain, Crowde.co bergerak sebagai platform permodalan yang mengelola dana masyarakat yang disalurkan pada proyek petani.

Startup didirikan oleh Yohanes Sugihtononugroho dan Muhammad Risyad Ganis ini membantu petani mencarikan investor untuk proyek permodalan yang diajukan oleh petani. Petani Crowde adalah petani yang telah dipilih dengan memenuhi standar tertentu yang sudah ditetapkan oleh Crowde. Sedangkan investor Crowde bisa berasal dari semua kalangan asalkan memiliki akun bank. Investasi di Crowde bisa dilakukan dengan minimal investasi sebesar Rp.10 ribu saja.

Para petani bisa mengajukan proyek mereka kepada Crowde untuk didaftarkan sebagai proyek yang berpotensi mendapatkan pendanaan. Proyek yang terdaftar pada website Crowde adalah proyek yang diajukan oleh petani untuk menjalankan kegiatan pertanian termasuk budidaya ataupun jual beli dalam jangka waktu tertentu.

Crowde menawarkan bagi hasil dengan konsep syariah di mana membagi risiko serta keuntungan sesuai proporsi yang diajukan di awal sehingga bila mengalami keuntungan dan kerugian akan dibagi sesuai proporsi. Dengan konsep ini, proyeksi persentase keuntungan adalah proyeksi keuntungan yang sudah dianalisis sebelumnya, bukan angka pasti yang akan didapatkan oleh investor, melainkan angka yang bisa dijadikan sebagai acuan.

  1. iGrow

Didirikan pada akhir tahun 2014, iGrow yang diinisiasi oleh Andreas Senjaya ini memiliki visi untuk membantu petani lokal, pemilik lahan yang belum optimal diberdayakan, dan para investor untuk berkolaborasi bersama untuk membangun perekonomian agribisnis. Selain membantu menghubungkan para petani dengan investor, iGrow juga mengidentifikasi tanaman yang punya kebutuhan tinggi di pasar, stabilitas harga dan karakteristik yang baik.

Untuk bergabung dengan iGrow, pengguna cukup melakukan registrasi online melalui website resmi iGrow dengan melengkapi data diri, seperti alamat email, nama, dan password. Seperti layaknya bermain game Farmville, di aplikasi iGrow pengguna dapat melihat melihat detil bibit yang disediakan oleh iGrow untuk dapat didanai sehingga dapat ditanam oleh petani yang bekerja sama dengan iGrow.

Selain itu, pengguna juga dapat melakukan monitoring tentang kondisi pertumbuhan dan perkembangan tanaman milik mereka secara berkala. Ketika masa panen telah tiba, pengguna akan mendapatkan notifikasi dan nilai keuntungan atas investasi mereka.

iGrow memberlakukan bagi hasil dengan persentase 40% untuk pemilik lahan, 40% pengelola atas pekerjaannya sejak menanam sampai pohon panen dan pengelolaan pohon ketika berbuah dan 20% untuk biaya supervisi dan administrasi. Hingga saat ini, iGrow telah memberdayakan ribuan petani dan memanfaatkan ribuan hektar lahan di Indonesia.

Baca juga: Keren, Ini Aplikasi Khusus Untuk Petani!

ilustrasi petani Indonesia modern (Shutterstock)

  1. Eragano

Mulai beroperasi sejak Oktober 2015, Eragano hadir sebagai solusi untuk membantu petani terkoneksi dengan fasilitas pinjaman mikro. Selain menghubungkan petani dengan akses permodalan, Eragano juga membantu menjualkan komoditas pertanian dari petani ke restoran, hotel dan juga ke perusahaan-perusahaan. Selain itu, Eragano juga memberikan penyuluhan agar petani bisa melakukan budidaya berdasarkan riset pembudidayaan yang benar.

Startup yang diinisiasi oleh Stephanie Jesselyn dan Aris Hendrawan ini  menetapkan bagi hasil sesuai jumlah komoditas yang telah diambil dari petani. Eragano juga telah memudahkan para petani lewat aplikasi mobile yang bisa diakses melalui smartphone dengan sitem OS Android. Dengan aplikasi tersebut, petani dapat melakukan pembelian kebutuhan pertanian seperti pupuk atau alat-alat, melakukan pinjaman, mengajukan asuransi, serta menjual hasil panen mereka.

Untuk peminjaman, Eragano telah berkolaborasi dengan banyak perbankan tanah air, di antaranya PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk dan PT Bank Tabungan Pensiunan Negara Tbk. Dalam hal ini, Eragano menghadirkan skema pinjaman dengan durasi 3 bulan hingga 6 bulan bagi para petani. Adapun bunganya berkisar 1%-3% per bulan. Bunga tersebut diklaim jauh lebih kecil daripada jika petani meminjam dari rentenir.

Untuk bergabung dengan Eragano, petani harus mendaftarkan diri terlebih dahulu dengan mengisi formulir pada aplikasi Eragano. Setelah aplikasi disetujuai, tim Eragano akan memfasilitasi petani, menetapkan besaran modal yang akan mereka terima, dan mengurus perjanjian bagi hasilnya. Hingga saat ini, Eragano telah membantu banyak petani di Pengalengan dan Lembang Jawa Barat.

  1. TaniFund

TaniFund merupakan startup yang meghubungkan antara petani dengan para pemilik modal. Selain itu, TaniFund juga berusaha memastikan ketersediaan kebutuhan bertani, mengatur aliran dana dari pemodal juga menerapkan pola tanam. Startup ini menawarkan bagi hasil dengan skema imbal hasil sampai dengan 50%.

Untuk bergabung dengan TaniFund, petani diharuskan mengajukan pernyataan tertulis dengan data lengkap mengenai informasi kelompok tani, komoditi yang akan digarap, jumlah petani yang menjadi anggota, estimasi luas lahan, serta lokasi pertanian.

  1. Growpal

Growpal merupakan startup yang mempertemukan pemilik modal, pemilik lahan, dan petani ikan laut dan pembeli hasil panen di bidang agribisnis perikanan. Sasaran utama Growpal adalah petani yang membudidayakan ikan kerapu dan udang. Growpal membantu petani menjual hasil panen dengan target ekspor ke luar negeri, terutama di kawasan Asia Tenggara, Hongkong dan Amerika Serikat.

Growpal menerapkan sistem bagi hasil dari untung bersih di mana bagi hasil dibagikan kepada para petani dengan persentase sebesar 35%, untuk investor 55% dan untuk independent surveyor dan biaya administrasi sebesar 10%. Nilai investasi yang bisa disalurkan oleh para investor mulai dari Rp.20 juta untuk investasi budidaya ikan kerapu dan Rp.200 juta untuk investasi budidaya udang.

  • Editor: Wicak Hidayat
TAGS
RECOMMENDATION
LATEST ARTICLE

Begini Fakta Generasi Sandwich

Generasi sandwich masih berhak happy meski terhimpit dua tanggungan ekonomi sekaligus, apa rahasianya?

Selasa, 18 Januari 2022 | 22:13 WIB

Industri Gaming di Dunia Metaverse 

Jika gaming Indonesia berhasil sukses di dunia Internet, apakah metaverse juga membawa pengalaman yang sama bahkan bisa lebih berpotensi?

Selasa, 4 Januari 2022 | 17:52 WIB