Menjadi Startup yang Mendunia dengan Cara Berbeda

Oleh: Andreas Senjaya
Rabu, 31 Juli 2019 | 08:15 WIB
Outstanding (foto diambil dari LinkedIn Andreas Senjaya)

Sejak melegalkan diri menjadi Perseroan Terbatas dua setengah tahun yang lalu, kami semua diberi target besar oleh dewan komisaris untuk menjadi perusahaan teknologi yang bisa bersaing dengan perusahaan teknologi top dunia pada saat ini (Google, Facebook, bahkan Apple) dalam waktu 10 tahun ke depan. Sebuah target yang luar biasa besar dan berat tentunya, bahkan sudah cukup berat walaupun hanya sekadar untuk dibayangkan.

Namun kami selalu percaya bahwa sesuatu yang bagi manusia tampak sangat besar, ia bisa menjadi sebuah hal yang sangat kecil dan mudah jika Allah berkehendak. Kami tetap yakin dan optimis suatu saat, dengan ijin Allah dan ikhtiar sebaik-baiknya, hal tersebut bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan. Jadi, PR kami dalam 7,5 tahun ke depan adalah merencanakan dan mengeksekusi bagaimana milestone besar tersebut bisa kita capai.

Tentunya sesuatu hanya akan menjadi mimpi jika tidak diturunkan menjadi langkah-langkah kecil untuk merealisasikannya. Begitu juga dalam perjalanan ini, kami dari hari ke hari sedang menapaki langkah-langkah kecil kami untuk bisa terus belajar dan lebih baik.

Baca juga: Demi Mencapai Target Ekonomi Digital 2020, Pemerintah Indonesia Concern ke Sumberdaya Manusia

planning (foto: Shutterstock)
Salah satu dari banyak pekerjaan rumah dan perbaikan yang harus kami lakukan adalah dengan terus belajar, termasuk belajar dari perjalanan para startup kelas dunia yang sudah sukses saat ini. Bukan untuk menirunya, tapi untuk mengambil hikmah dari perjalanan mereka.

Kami sadar bahwa setiap startup punya keunikan dan rahasia sukses masing-masing. Kunci keberhasilan startup yang satu tidak selalu bisa diimplementasikan untuk startup yang lainnya. Mengapa? Karena banyak sekali konteks dan parameter unik dari setiap startup yang lahir di dunia ini. Tapi, selalu ada pola yang bisa kita tangkap dari kesuksesan-kesukesan startup kelas dunia tersebut.

Salah satu pola yang bisa kita tangkap dari mereka, yang ingin saya sampaikan dalam artikel kali ini adalah mereka selalu bisa menemukan dan menjalankan cara berbeda sebagai solusi dalam menyelesaikan masalah yang ada dibandingkan dengan para pendahulu atau pemain besar yang saat ini sudah mendominasi pasar.

Baca juga: Digital Economy: Solusi Cerdas Memakmurkan Masyarakat di Era Globalisasi

jalan yang berbeda (foto: Shutterstock)
Beberapa pekan yang lalu saya mendapat sebuah infografis menarik, penggalan teksnya tertulis : “Uber, the world’s largest taxi company, owns no vehicles. Facebook, the world’s most popular media owner, creates no content. Alibaba, the most valuable retailer, has no inventory. And Airbnb, the world’s largest accommodation provider, owns no real estate”.

Bagi saya infografis tersebut menegaskan tentang bagaimana Facebook, Uber, Alibaba, dan Airbnb dapat menjadi perusahaan terbaik di bidangnya masing-masing dengan melakukan hal yang berbeda jika dibandingkan dengan para pendahulu dan pesaingnya di segmen market mereka masing-masing.

Facebook bisa menjadi platform media sosial terbesar di dunia saat ini dengan banyak sekali konten populer tercipta setiap harinya tanpa harus mereka yang membuat kontennya sendiri. Facebook bisa dengan cepat melesat dalam waktu 10 tahun menjadi perusahaan publik terbesar di dunia yang bergerak pada bidang media (saat artikel ini diupload, valuasi Facebook sudah sekitar USD 230 miliar).

Baca juga: Kejar Ketertinggalan Teknologi Pembayaran, Facebook Pelajari Cryptocurrency

Facebook (foto: Shutterstock)
Menjadi menarik jika dibandingkan dengan perusahaan media lainnya yang telah berumur lebih dari 100 tahun seperti The New York Times yang valuasinya sendiri hanya sebesar USD 2,19 miliar. New York Times yang menggawangi hampir semua layer pembuatan konten media dari mulai pencarian, pembuatan, sampai distribusi konten informasi baik offline maupun online, ternyata bisa dikalahkan oleh Facebook yang hanya bermain di layer penyedia platform digital untuk orang berinteraksi dan berkomunikasi.

Uber, yang didirikan sejak tahun 2009, saat ini bisa menjadi perusahaan taksi nomer satu di dunia dengan penetrasi di lebih dari 57 negara. Belum ada perusahaan taksi konvesional yang mempu memiliki jaringan bisnis seluas Uber. Padahal investasi utama Uber bukan pada armada taksi yang dimilikinya, tapi pada platform teknologi yang mampu menaungi pengemudi dengan para penumpang.

Biarpun melahirkan banyak kontroversi dan protes di beberapa negara, fenomena Uber tetap menyerap perhatian dan akhirnya melahirkan banyak model bisnis yang mirip di bidang pemesanan armada taksi di dunia seperti GrabTaxi, Lyft, GetTaxi, ataupun Easy Taxi. Hal ini tentunya membuat perusahaan taksi konvensional mulai terusik. Hal inilah yang membuat beberapa perusahaan taksi konvensional melarang para pengemudinya untuk menggunakan platform pemesanan taksi online.

Baca juga: Uber Stop Gunakan Mobil Bahan Diesel pada 2019 di London

Uber (foto: Shutterstock)
Cara berbeda yang tak kalah menarik juga dilakukan oleh Airbnb dalam mengembangkan bisnis mereka. Airbnb yang saat ini telah menjelma menjadi perusahaan multinasional dengan total valuasi sekitar USD 20 miliar ini ternyata berasal dari ide dan konsep yang sederhana.

Didirikan di tahun 2008, mereka awalnya hanya menawarkan penyewaan tempat menginap jangka pendek, sarapan, dan peluang mendapatkan jaringan bisnis untuk orang-orang yang tidak mampu untuk menginap di hotel. Di awal perjalanan bahkan tempat tinggal yang disewakan adalah ruang tamu mereka yang diisi dengan 3 airbed (tempat tidur berisi udara) yang hanya mampu menampung 3 orang penyewa.

Hingga dalam perjalanannya bentuk penyewaan yang tadinya hanya menyediakan airbed berkembang menjadi beragam properti seperti kamar, rumah, apartemen, rumah pohon, kapal pesiar, hinga pulau pribadi. Saat ini mereka telah memiliki lebih dari satu juta list akomodasi yang disewakan di 192 negara di dunia.

Baca juga: Hotel atau Airbnb, Pilih Mana?

AirBnB (Foto: Shutterstock)
Ketiga contoh di atas mencerminkan kepada kita semua bagaimana sebuah startup yang menawarkan solusi untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang berbeda, baru, dan memudahkan. Mereka semua tentunya tidak akan mempu melesat dengan sangat cepat hanya dalam hitungan kurang dari 10 tahun untuk menjadi yang terbesar di ranahnya masing-masing jika mereka menggunakan cara yang juga digunakan oleh para pemain besar yang sudah menguasai pasar.

Uber tidak akan bisa memasuki pasar konsumen taksi di berbagai penjuru dunia jika mereka memulai dengan cara memiliki dan menawarkan taksi dan berkembang seiring dengan semakin banyaknya taksi dan penumpang yang memakai jasa taksi mereka. Begitu juga dengan AirBnb tidak akan cepat berkembang jika hanya mengandalkan properti yang harus selalu mereka miliki dan tawarkan.

Selalu ada cara berbeda yang ternyata juga cukup ampuh untuk bisa menjadi solusi permasalahan di sekitar kita yang bisa diciptakan seiring dengan semakin majunya teknologi dan semakin terkoneksinya manusia bahkan benda-benda di dunia ini. Ya, teknologi membawa banyak sekali pintu peluang di berbagai ranah kehidupan, memicu kita menciptakan pemecahan masalah dengan cara yang berbeda dari cara yang selama ini ada.

Baca juga: Transformasi Digital, Kemajuan Teknologi, dan Peran Generasi Milenial

solusi berbasis teknologi (Foto: Shutterstock)
Menemukan cara berbeda untuk menjadi solusi permasalahan di kehidupan kita melalui teknologi inilah yang menginspirasi kami untuk bisa melahirkan produk-produk dari Badr Interactive. Beberapa contoh produk yang telah kami lahirkan dengan cara yang berbeda misalnya iGrow, LearnQuran, dan UrbanQurban. Kesemuanya menargetkan segmen market yang sama, masyarakat Muslim yang bisa mengakses teknologi, namun masing-masing punya pembeda dengan solusi konvensional yang telah ada di pasaran.

iGrow menggalakkan penanaman tanaman pangan secara massal di tanah-tanah masyarakat yang belum terberdayakan melalui teknologi. LearnQuran menjadi platform teknologi yang membuat pembelajaran qur’an menjadi lebih mudah, efektif, efisien untuk siapapun dimanapun. Sedangkan UrbanQurban menghubungkan kaum urban dengan masyarakat marginal melalui ibadah qurban, aqiqah, dan sedekah daging melalui teknologi.

Mungkin kita semua sepakat dan dapat melihat potensi dari pasar masyarakat Muslim ini dari sisi besarnya market, proyeksi pertumbuhannya, maupun dari sisi masih sedikitnya pemain yang sudah menghuni pasar ini. Tapi, pilihan kami menciptakan produk-produk tersebut jauh lebih dalam dari hitung-hitungan itu. Kami melahirkan produk-produk tersebut untuk bisa merealisasikan visi kami, meninggikan kalimat Allah melalui teknologi.

Baca juga: Masyarakat Harus Jeli Manfaatkan Teknologi Jadi Peluang Usaha

harmoni (Foto: Shutterstock)
Bukan hanya mencari profit, tapi mencari sustainability untuk membesarkan tempat kami berkarya ini sehingga bisa semakin menjejak kokoh, memiliki pengaruh, dan manfaat yang semakin besar, tidak hanya untuk umat Islam, tapi juga untuk umat manusia secara umum.

Hal ini yang membuat selalu ada esensi kebermanfaatan yang nilainya jauh lebih besar dalam setiap produk-produk kami ketimbang parameter-parameter material lainnya. Inilah cara kami bertumbuh, dengan menghadirkan Allah dalam setiap ikhtiar kami, setiap langkah-langkah kecil kami, dan dalam setiap perjalanan kami agar bisa meraih sesuatu yang tampak besar dalam pandangan manusia tersebut. Inilah cara berbeda kami, semoga Allah meridhai.

Baca juga: Pemerintah Dorong Industri Nasional Manfaatkan Teknologi Digital

Tulisan ini telah dipublikasikan di LinkedIn pribadi Andreas Senjaya dan diterbitkan ulang di Digination.id atas persetujuan yang bersangkutan.