LogoDIGINATION LOGO

Kenapa Walaupun Bukan Anak IT, Kamu Tetap Perlu Belajar Data Analytics?

author Oleh Samantha Luvian Rabu, 25 Februari 2026 | 13:34 WIB
Share
Share

Selama ini, banyak yang menganggap bahwa data analytics hanya diperuntukkan bagi anak IT, programmer, atau lulusan Teknik Informatika. Padahal faktanya, hampir semua profesi saat ini bersentuhan dengan data. Mulai dari marketing, HR, finance, operasional, hingga content creator, semuanya kini mengandalkan data untuk mengambil keputusan.

Di era digital, keputusan tidak lagi diambil hanya berdasarkan intuisi atau feeling, melainkan bertumpu pada angka, tren, dan pola. Inilah mengapa kemampuan memahami serta mengolah data menjadi keahlian yang kian krusial, bahkan bagi mereka yang tidak memiliki latar belakang teknologi.

Dunia Kerja Modern Berbasis Data

Menurut laporan World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2023, kemampuan analytical thinking dan data analysis termasuk dalam jajaran keahlian dengan pertumbuhan tercepat secara global. Artinya, kebutuhan akan individu yang mampu menginterpretasikan data akan terus meningkat di masa depan.

Selain itu, data dari LinkedIn menunjukkan bahwa keterampilan seperti data analysis dan business intelligence konsisten masuk dalam daftar skill yang paling dicari oleh rekruter. Hal ini membuktikan bahwa kemahiran data tidak terbatas pada industri teknologi saja, melainkan telah menjadi kebutuhan lintas sektor.

Baca juga: Data Analytics Tidak Hanya untuk IT, Ini 5 Jurusan Wajib Paham Data

Hampir Semua Profesi Membutuhkan Data

Dalam dunia marketing, misalnya, seorang marketer tidak lagi hanya fokus pada kampanye kreatif. Ia harus mampu memantau performa iklan, menganalisis conversion rate, memahami perilaku pelanggan, serta menentukan strategi berdasarkan data valid yang tersedia. Tanpa kemampuan analisis, angka-angka tersebut hanya akan menjadi tumpukan laporan tanpa makna.

Di bidang Human Resources, data digunakan untuk menganalisis tingkat turnover karyawan, mengevaluasi performa, hingga merumuskan strategi rekrutmen yang lebih efektif. Sementara di bagian Keuangan, data membantu memantau arus kas, menyusun forecasting, serta mengontrol efisiensi biaya operasional.

Dalam dunia Sales, data penjualan menjadi landasan untuk melihat tren pasar, menetapkan target, serta mengidentifikasi produk unggulan. Bahkan di industri Media dan Konten, metrik seperti engagement rate, click-through rate, dan audience insight menjadi penentu strategi konten berikutnya.

Tanpa kemampuan data analytics, seseorang hanya akan melihat sekumpulan angka. Namun dengan kemampuan tersebut, seseorang mampu membaca "cerita" di balik angka dan mengubahnya menjadi keputusan strategis.

Data Membuka Peluang Karier Lebih Luas

Profesional yang memiliki kemampuan analisis data umumnya memiliki daya saing yang lebih tinggi di pasar kerja. Banyak posisi saat ini yang mensyaratkan kemampuan mengolah data, meskipun kandidatnya tidak berasal dari latar belakang IT. Permintaan terhadap peran seperti Data Analyst, Business Analyst, hingga Data-Driven Marketer terus meningkat seiring transformasi digital di berbagai industri.

Menariknya, untuk mulai belajar data analytics tidak selalu harus menguasai coding tingkat lanjut. Banyak perusahaan membuka peluang bagi kandidat yang memiliki pemahaman dasar tentang data serta mampu mengoperasikan tools seperti spreadsheet atau dashboard analytics.

Baca juga: Microsoft Excel, Skill Wajib untuk Kuliah, Penelitian, dan Dunia Kerja

Belajar Data Analytics: Tentang Pola Pikir, Bukan Sekadar Coding

Kesalahan persepsi yang sering muncul adalah anggapan bahwa belajar data analytics berarti harus menjadi programmer. Padahal, esensi dari bidang ini adalah kemampuan berpikir analitis—bagaimana seseorang mampu membaca pola, menginterpretasikan angka, dan menarik insight relevan untuk pengambilan keputusan.

Coding memang bisa menjadi nilai tambah, namun fondasi utamanya adalah data literacy dan analytical thinking. Kemampuan inilah yang membuat seseorang mampu beradaptasi di era digital.

“Data analytics bukan cuma soal skill kerja, tapi tentang membiasakan diri berpikir runtut, tidak mendasari kepercayaan pada asumsi, dan berani mengambil keputusan berdasarkan fakta,” ungkap Yovita, Manager Program DQLab.

Di Era AI, Skill Data Justru Semakin Vital

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) dan otomatisasi memang membuat banyak pekerjaan administratif menjadi lebih efisien. Namun, kemampuan manusia dalam memahami konteks, menganalisis data secara mendalam, dan mengambil keputusan strategis tetap tidak tergantikan.

AI memang menghasilkan data dalam jumlah besar, tetapi manusialah yang bertugas mengubah data tersebut menjadi strategi dan arah bisnis yang tepat.Belajar data analytics bukan lagi pilihan eksklusif bagi anak IT, melainkan kebutuhan dasar di dunia kerja modern. Karena hampir semua profesi kini menuntut kemampuan memahami data demi keputusan yang lebih akurat dan efektif.

Dengan menguasai data analytics, kamu tidak hanya meningkatkan kompetensi teknis, tetapi juga memperkuat posisi dan peluang karier di masa depan. Di era yang kian kompetitif, kemampuan memanfaatkan data bukan lagi nilai tambah, melainkan sebuah keharusan.

Mulai asah kemampuanmu sekarang melalui beasiswa DQLab. Klaim beasiswamu di sini: https://bit.ly/DQMEDIA

  • Editor: Dewi Shinta N
TAGS
LATEST ARTICLE

Microsoft Excel, Skill Wajib untuk Kuliah, Penelitian, dan Dunia Kerja

Dalam kegiatan perkuliahan, mahasiswa hampir selalu berhadapan dengan data. Mulai dari rekap nilai, tugas statistik, laporan praktikum, hingga hasil survei penelitian. Excel membantu mahasiswa mengelola data tersebut secara sistematis dan efisien, se

Kamis, 22 Januari 2026 | 17:56 WIB

Kasir Digital, Senjata Baru UMKM Hadapi Era Ekonomi Serba Cepat

Di tengah 64,2 juta lebih pelaku UMKM yang menopang perekonomian nasional, hanya sebagian yang sudah benar-benar go digital. Kasir digital hadir untuk menjembatani kesenjangan itu dengan aplikasi kasir yang mudah, fleksibel, dan terjangkau. Aplikasi

Rabu, 12 November 2025 | 11:06 WIB