Sigfox Build, Program Pemberdayaaan Talenta Lokal Untuk Wujudukan Ekosistem IoT Indonesia

Oleh: Aulia Annaisabiru Ermadi
Jumat, 27 Desember 2019 | 14:00 WIB
Sigfox Indonesia yang dipimpin oleh Bapak Irfan Setiaputra (CEO Sigfox Indonesia) bersama Ludovic Le Moan ( CEO Sigfox Global) dan Roswell Wolff (resident Asia Pacific Sigfox)

Pengelolaan jaringan IoT terbesar di dunia, Sigfox berkomitmen untuk memajukan perkembangan penggunaan Internet of Things (IoT) di Indonesia melalui program Sigfox Build. Sigfox Build adalah sebuah wadah kolaborasi bagi para pembuat atau produsen piranti sensor dan pengembang aplikasi atau program.

Melalui program Sigfox Build, Sigfox Indonesia akan menyediakan sumber daya lengkap, mulai dari desain piranti dan aplikasi, pengembangan prototipe hingga pendampingan untuk mendapatkan sertifikasi produk dan pembekalan dalam pengembangan bisnis. Pemantapan talenta lokal dibutuhkan untuk mewujudkan ekosistem IoT, sesuai dengan proyeksi Asosiasi Internet of Things Indonesia (ASIOTI) di mana Indonesia akan membutuhkan sekitar 400 juta piranti IoT pada tahun 2022 sejalan dengan regulasi yang telah diterbitkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika terkait LPWA (Low Power Wide Area Network).

Baca juga: Dorong Pembangunan Industri 4.0, Sigfox Perkenalkan IoT 0G di Indonesia

“Program Sigfox Build didasari dengan besarnya potensi anak bangsa untuk mendukung implementasi IoT di Indonesia. Melalui program berkelanjutan ini kami berupaya untuk mencari pengembang aplikasi dan piranti hingga ke pelosok daerah di seluruh nusantara untuk menjadi bagian dari ekosistem IoT Sigfox. Sigfox akan memberikan pembekalan dalam proses pengembangan solusi IoT mulai dari proses awal perancangan hingga peluncuran dan pendampingan bisnis,” Ujar Irfan Setiaputra selaku CEO Sigfox Indonesia dalam keterangan resmi yang diterima Digination.id, Senin (16/12). "Tak hanya mencakup kebutuhan pasar lokal, para developer yang tergabung dalam Sigfox Build juga berkesempatan untuk masuk ke pasar piranti IoT global," lanjutnya.

Ilustrasi IoT (shutterstock)

Sebelumnya pada bulan November 2019 lalu, Sigfox Global mengadakan acara tahunan, Sigfox Connect. Pameran teknologi IoT yang mempertemukan berbagai pelaku industri global (rantai pasok, logistik, kimia, otomotif, teknologi komputer, utilitas) seperti DHL, Michellin, Qantas Airways dan LSM di bidang konservasi satwa langka yaitu WWF yang aktif menggunakan teknologi IoT untuk kegiatan operasionalnya dengan para pembuat piranti dan aplikasi.

Pada acara tersebut Ludovic Le Moan selaku CEO & Co-founder Sigfox Global mengatakan, “Saat ini Sigfox telah menghubungkan lebih dari 16 juta perangkat IoT di 60 negara. Kami menargetkan untuk dapat menghubungkan 1 miliar piranti pada tahun 2023 sehubungan dengan komitmen Sigfox untuk terus membangun ekosistem IoT yang berkelanjutan di seluruh belahan dunia. Sigfox juga telah bekerja sama dengan perusahaan Eutelsat untuk meluncurkan nano-satelit yang bertujuan untuk mengoptimalisasi konektivitas jaringan IoT di seluruh dunia agar dapat menjangkau area terpencil seperti daerah pedalaman atau perairan.”

Baca juga: Yuk, Kembangkan IoT Bersama ASIoTI!

Ilustrasi IoT (shutterstock)

Sebagai contoh, Sigfox telah membantu perusahaan Nippon Gas dalam menghubungkan 850,000 meter gas di seluruh wilayah Jepang agar dapat dikontrol dengan teknologi nirkabel. Sigfox Indonesia berharap capaian tersebut dapat terwujud di Indonesia juga melalui pembentukan ekosistem IoT yang melibatkan SDM yang handal dan inovatif.

Melalui program Sigfox Build, Sigfox Indonesia membuka kesempatan bagi pembuat perangkat sensor dan pengembang aplikasi untuk menggapai potensi pasar dan memaksimalkan penggunaan IoT di Indonesia. Untuk dapat bergabung dengan Sigfox Build, para developer, device maker dan solutions provider dapat mengakses https://build.sigfox.id/.

Baca juga: Forbes Insight: 70% Pebisnis Percaya IoT Penting Bagi Perusahaan