Gaess, Jangan Tumbang Karena Gak Punya Dana, ya!

Oleh: Alfhatin Pratama
Jumat, 19 April 2019 | 09:00 WIB
Ilustrasi Peningkatan Investasi (shutterstock)

Apa sih permasalahan klasik sebuah startup? Yup, pendanaan!

Disebut permasalahan klasik bukan karena pendanaan satu-satunya masalah yang dihadapi startup, tapi tidak sedikit yang menjadi sulit berkembang atau tutup karena menghadapi permasalahan pendanaan dengan strategi yang kurang tepat.

Salah satu strategi yang paling mantap untuk mengatasinya adalah tak hanya bergantung pada satu sumber pendanaan saja. Pastinya, manajemen keuangan yang sedang dikelola juga harus baik. Dengan tidak bergantung pada satu sumber pendanaan, nilai valuasi yang akan dimiliki pun nantinya akan maksimal.

Banyaknya pilihan sumber pendanaan, menurut Iman Hanggautomo, Head of Business Development Roomme.id menjadi opportunity bagi startup untuk meningkatkan pendanaannya.

Berikut poin-poin dari Iman, yuk, simak! 

Baca juga: Ketemu Investor? Jangan Pernah Ucapkan 5 Kalimat Ini!

Ilustrasi peluang mendapatkan investasi (shutterstock)
1. Kompetisi Startup

Ekosistem startup di Indonesia sedang "digenjot" seluas-luasnya. Bagi pemilik startup yang masih mengandalkan pendanaan pribadi atau pengusaha yang sudah cukup mapan tapi sedang mengalami kesulitan pendanaan, sangat disarankan untuk mengikuti kompetisi ini.

Kompetisi startup sekarang bahkan cukup banyak dan tidak hanya diselenggarakan oleh satu atau dua instansi saja, baik dari pemerintah maupun swasta. Salah satu kompetisi startup di Indonesia yang paling dekat adalah The Nextdev

Nah, Jadikan kompetisi startup bukan sekadar ajang kompetisi, tapi juga ajang berkoneksi dengan banyak orang. Selain mengikuti pitching di hadapan dewan juri, bertukar pikiran dengan founder startup lain dan bertemu dengan Venture Capitalist atau Angel Investor, bisa jadi peluang yang besar untuk meningkatkan pendanaan. Siapa tahu mereka tertarik, kan?

Baca juga: Bekraf Adakan Kompetisi Startup Kuliner

Ilustrasi kompetisi startup (shutterstock)
2. Angel investor

Siapa, sih Angel Investor?  Apa mereka benar-benar malaikat?

Hmm.. Angel Investor adalah orang-orang dengan kekayaan bersih yang tinggi. Beberapa dari mereka termasuk investor yang sudah terakreditasi. Banyak juga dari mereka yang sekadar membantu pengusaha bermodal kecil yang ingin menjalankan bisnisnya.

Di Indonesia ada perkumpulan Angel Investor bernama Angel Investment Network Indonesia (ANGIN). Tapi, ingat ya! Jangan mentang-mentang mencari pendanaan ke Angel Investor, startup hanya bermodalkan belas kasih dari mereka. Bukan hanya produk yang membuat Angel Investor tertarik tapi juga founder dan tim yang pintar dan kuat, lho!

Baca juga: Temukan Angel Investor di Sini...

Ilustrasi Angel Investor (shutterstock)
3. Crowdfunding

Crowdfunding atau urun dana tidak hanya berguna untuk kegiatan sosial saja. Berbisnis pun jika menghadapi kesulitan pendanaan, platform crowdfunding bisa menjadi salah satu solusi yang ampuh. Contohnya adalah KitaBisa. Banyak, lho orang dermawan di sekeliling kita.

Salah satu contoh kasusnya adalah pengusaha asal Chicago, Amerika Serikat (AS) meminta dana USD 20.000 melalui situs crowdfunding global bernama Kickstarter. Ia membutuhkan uang itu untuk membuat jaket travel multiguna. Yang menakjubkan, ia berhasil mengumpulkan uang sebesar USD 9,17 juta lebih. Wow, di luar dugaan, kan?

Baca juga: Belum Dapat Investor? Coba Crowdfunding Aja!

Ilustrasi crowdfunding (shutterstock)
4. Private equity

Private Equity sistemnya adalah Private to Private. Perusahaan investasi tersebut mengumpulkan dana dari pihak-pihak terbatas (private) yang memiliki pengetahuan investasi yang cukup untuk diinvestasikan.

Hampir sama seperti Modal Ventura, tapi perusahaan ini jarang berinvestasi ke startup.  Mereka lebih memilih perusahaan yang sudah cukup berkembang tapi undervalued atau memiliki potensi untuk ditingkatkan nilainya dengan merestrukturasi keuangan atau operasionalnya. Misalnya dengan mengubah model bisnis.

5. Program Inkubator

Kelebihan mendapatkan pendanaan dari program inkubator adalah pelatihan dan bimbingan yang diberikan oleh pihak pelaksana program. Sudah banyak program inkubator di Indonesia yang bisa menjadi pilihan.

Biasanya, setelah startup naik ke tingkat berikutnya, mereka aka ditawarkan untuk tetap berada di bawah naungan inkubator atau lanjut dan keluar dari program tersebut.

Baca juga: Ini, Lho, 7 Inkubator yang Kamu Cari

Ilustrasi program inkubator bisnis (shutterstock)
6. Modal Ventura

Modal ventura atau Venture Capital adalah kelompok investor yang membentuk perusahaan investasi dengan tujuan memberikan uang bebas hutang dengan imbalan ekuitas bisnis. Para pemodal ventura biasanya melakukan pendekatan langsung pada bisnis yang mereka pilih untuk didanai. Biasanya, startup berbasis teknologi.

Modal Ventura tidak hanya meilihat produk tapi melihat bagaimana hasil pengukuran kesuksesan sebuah startup dari rekam jejaknya, bagaimana sebuah startup menjalankan model bisnisnya, dan tidak ketinggalan kualitas founder dan timnya. 

Baca juga: Venture Capital Vs Angel Investor: Mana Yang Lebih Baik?

Ilustrasi modal ventura (shutterstock)
Membuat Investor Tertarik

Setelah mengetahui peluang apa saja yang dapat dipilih untuk meningkatkan pendanaan, pertanyaan yang lebih penting muncul. 

Apakah investor benar-benar tertarik dengan startup atau perusahaan yang kita miliki? Bagaimana caranya supaya investor benar-benar tertarik?

Iman kembali membagikan tipsnya. Empat poin yang cukup singkat, padat, dan jelas yang harus dimiliki untuk membuat investor tertarik. Apa saja, ya?

1. Smartass team

Bukan hanya founder atau co-founder-nya yang harus cerdas, timnya pun harus. Founder yang cerdas tanpa tim yang kuat adalah sia-sia. Begitu pun sebaliknya. Cerdas di sini memiliki arti yang cukup luas, seperti tidak banyak bicara teori.

Tim startup yang kuat biasanya harus dilengkapi oleh tiga unsur: hacker yaitu orang-orang yang ahli dalam bidang IT, hustler yaitu orang-orang yang ahli dalam bidang ekonomi dan bisnis, dan hipster yaitu orang-orang yang ahli berpikir terbuka, kreatif, dan inovatif. Dengan demikian, keadaan pasar yang terus berubah dan berkembang dapat dihadapi dengan performa maksimal.

Baca juga: Kolaborasi Untuk Menang? Harus!

Ilustrasi tim yang solid (shutterstock)
2. Kickass product

Produk yang dimiliki, jelas harus tidak hanya berguna untuk diri atau komunitas sendiri tapi berguna bagi orang banyak. Produknya dapat memberikan solusi terhadap permasalahan yang ada. Contohnya Gojek yang mengakomodir tukang ojek dan menyediakan layanan transpotasi dengan harga terjangkau dan menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat.

3. Hugeass market

Perlu diketahui jika sebuah startup memiliki market atau pasar yang tidak luas, maka startup itu memiliki risiko yang lebih tinggi daripada potensinya sendiri. Investor jarang sekali memilih startup yang market-nya tidak luas. Pastikan startup yang ingin dibangun atau sudah berjalan memiliki market dan potensi yang besar. Jika market-nya masih belum luas, belum telat untuk putar arah, kok!

Baca juga: Hebaaat! Indonesia Masuk Daftar Negara Emerging Market Terbesar Di Dunia, Lho!

Ilustrasi startup yang punya potensi lebih tinggi daripada risiko (shutterstock)
4. Spectrum of craziness

Ketika tim, produk, dan pasar sudah dikuasai, jangan sampai poin keempat ini dilupakan. Poin keempat ini adalah poin pelengkap sekaligus juga sangat penting. Maksud dari poin terakhir ini adalah ide "gila" atau ide kreatif dan inovatif. Ide "gila" tak melulu soal ide yang sebelumnya tidak ada dan pastinya, ide ini harus segera dieksekusi.

Bisa jadi dari hasil mengamati, mengadopsi, dan memodifikasi ide-ide yang didapat dari pengalaman atau para ahli. Yang paling penting dari ide 'gila' ini adalah ide-ide tersebut harus ada terus-menerus, bukan di awal pembangunan startup saja. Jangan sampai sebuah startup punya ide yang cemerlang, ketika tren 'belok' sedikit, bisnisnya langsung tumbang. 

Baca juga: Ide Buntu dan Mandeg? Lakukan Ini Biar Selalu Kreatif!