Ternak Uang Raih Pendanaan Tahap Awal, untuk Pengembangan Platform Literasi Finansial

Oleh: Nur Shinta Dewi
Jumat, 11 Februari 2022 | 12:46 WIB

Platform edukasi keuangan dan belajar investasi Ternak Uang (PT Ternak Uang Nusantara) merealisasikan putaran pendanaan tahap awalnya, alias seed funding.

Putaran pendanaan ini melibatkan Co-founder dan Managing Partner Northstar Group Patrick Walujo, serta dua perusahaan modal ventura Kinesys Group dan Alto Partners. Tidak diketahui berapa nilainya, yang pasti Ternak Uang mengungkap putaran pendanaan ini memiliki nilai 'tujuh digit'.

 

CEO Ternak Uang, Raymond Chin menjelaskan bahwa pendanaan ini akan digunakan untuk membantu pihaknya mencapai misi dalam meningkatkan literasi finansial masyarakat Indonesia.

"Ternak Uang akan memperkuat posisinya sebagai sebuah platform edukasi sosial. Harapannya, masyarakat paham bahwa kondisi finansial setiap orang berbeda, ditentukan dari berapa besar pengeluaran dan pemasukan, tanggungan, prioritas tujuan keuangan, dan karakter risiko yang berbeda-beda. Untuk itu, strategi keuangan setiap orang pun tentunya perlu dibedakan, untuk dapat mencapai kemandirian finansial sesuai dengan kondisi yang dialami secara personal," ujarnya CEO Ternak Uang, Raymond Chin.

Baca juga : Menjadi Perempuan yang Mandiri Finansial, Kenapa Tidak?

Lewat Ternak Uang, para anggota komunitas dapat berdiskusi dengan tim research analyst Ternak Uang dengan sistem moderasi dan pengawasan langsung oleh tim internal.

Inisiatif ini hadir dengan melihat banyaknya pertanyaan/diskusi yang muncul dari para pengguna, seperti bahasan mengenai kebijakan pasar dan implikasinya, personal finance, hingga tips praktikal dan edukatif yang perlu diperhatikan oleh para investor pemula.

Selain itu, salah satu masalah besar yang akan turut dituntaskan oleh Ternak Uang, yaitu melihat masih banyaknya generasi muda yang terjebak dalam investasi bodong. Mengutip data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), praktik-praktik investasi bodong sendiri telah merugikan masyarakat Indonesia hingga Rp117,4 triliun dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Dalam realisasinya, pendanaan akan digunakan untuk pengembangan produk dan positioning platform, pemberdayaan komunitas, hingga pengembangan tim internal. Oleh sebab itu, pengembangan produk ke depan akan difokuskan untuk menghadirkan pengalaman belajar keuangan dan investasi yang merata bagi setiap orang. Khususnya pada TU Academy, yang akan terus dikembangkan untuk membantu proses belajar individu sesuai kebutuhan personal.

Lebih lanjut, fitur ini akan didukung dengan implementasi teknologi artificial intelligence (AI) dan machine learning. Hal ini diwujudkan untuk menghadirkan pengalaman belajar melalui pendekatan personalized learning, di mana setiap pengguna dapat belajar dan meningkatkan literasi keuangan terlepas dari perbedaan kondisi finansial yang berbeda-beda.

Salah satu fitur terbaru yang telah diluncurkan pada awal tahun ini bertajuk Financial Checkup, di mana setiap pengguna dapat menganalisa kondisi keuangan secara personal. Analisa dilakukan secara terperinci dengan menghitung rasio arus kas, tabungan, utang dan tanggungan, dana darurat, hingga total aset yang dimiliki. Setelah itu, pengguna akan mendapatkan rekomendasi modul dan pembelajaran personal untuk membantu meningkatkan kondisi keuangan.

Baca juga : Investasi di Pasar Modal Semakin Mudah, Siap Merdeka Finansial?

Raymond menambahkan, ke depannya pengembangan produk akan diarahkan ke ranah fintech dan produk finansial. Ternak Uang sadar, sebagai platform sosial edukasi di bidang keuangan, para pengguna pada akhirnya harus mempraktekkan informasi yang telah dipelajari untuk dilakukan di kehidupan nyata secara konsisten.

Hal ini sejalan dengan misi Ternak Uang untuk membantu masyarakat Indonesia mencapai kemandirian finansial, bukan sekedar mendulang cuan dalam berinvestasi.

"Tersedianya akses terhadap literasi keuangan terus menunjukkan perkembangan positif di Indonesia, hingga menyebar di kalangan generasi muda. Inilah yang melandasi kami untuk menghadirkan modul pembelajaran yang mudah dipahami, dan relevan, untuk menjadi pemicu agar semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk belajar dari sumber yang kredibel dan terpercaya," tambahnya.

Ternak Uang pertama kali didirikan oleh Raymond Chin, seorang serial entrepreneur yang telah memulai karirnya sejak usia 20 tahun, serta Timothy Ronald yang telah dikenal sebagai seorang investor muda dan content creator. Selang beberapa waktu, Felicia Tjiasaka yang merupakan pemegang sertifikat Chartered Financial Analyst (CFA) level 3 bergabung dan mengepalai pengembangan produk di Ternak Uang.