Perlu, Gak, Sih Federasi ESport Internasional?

Oleh: Alfhatin Pratama
Rabu, 23 Januari 2019 | 08:15 WIB
Kompetisi eSport (shutterstock)

ESport, olahraga elektronik yang telah membangun struktur, komunitas, hingga kompetisi global dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah olahraga. Minat investor dan sponsor yang terus meningkat memberikan pengaruh besar pada industri ini. Contohnya kesejahteraan para pemain dan manajemen tim.

Banyak para pegiat eSport tidak setuju bahwa terbentuknya naungan di bawah federasi global akan bermanfaat dengan optimal. Tidak sedikit yang meyakini, apakah organisasi semacam itu dapat mengakomodir permasalahan atau pun peluang yang ada dalam eSport. Mengingat bahwa para pemangku kepentingan terbesar dalam industri ini adalah perusahaan yang mencari keuntungan.

Terlepas dari itu semua, penting untuk mengetahui bahwa ada kesamaan antara eSport dengan olahraga tradisional dan peluang pertumbuhan ekosistemnya yang dapat dinaungi oleh federasi internasional. Mmm, apa saja, ya?

Baca juga: Wow, Pemerintah Tokyo Gelontorkan 50 Juta Yen Untuk Turnamen eSport!

Insentif

Dikutip dari The ESports Observer, International Olympic Comittee (IOC) menyatakan eSport adalah olahraga olimpiade yang potensial. Tetapi, otoritas olahraga tertinggi di dunia itu juga menyatakan bahwa dimasukkannya eSport sebagai olahraga resmi olimpiade masih terbilang prematur. Alasannya dalam industri eSport banyak perusahaan yang mencari keuntungan semata.

Presiden Olympic Council of Asia (OCA), Sheikh Ahmad al Fahad al Sabah, juga menyatakan bahwa eSport perlu badan pengatur atau naungan di tingkat internasional agar bisa menjadi cabang olahraga (cabor) bermedali di Asian Games 2022.

Rencananya, IOC tidak hanya menawarkan eSport sekadar legitimasi tapi juga insentif jika berada di bawah naungan IOC. Contohnya, IOC mendistribusikan 90% pendapatannya ke berbagai National Olympic Committee (NOC) di setiap negara, berbagai International Sports Federation (IF) setiap cabang olahraga, dan organisasi-organisasi olahraga lainnya.

Baca juga: Ooo, Ternyata Ini Perbedaan Gaming dan eSports!

Euforia kemenangan dalam pertandingan eSport (shutterstock)
Kepentingan komersial yang mengganggu

Meskipun banyak jaringan federasi eSport nasional yang berkembang, sebagian besar kompetisi profesional tingkat nasional atau dunia dijalankan independen atau didukung oleh pemerintah setempat. Hal ini yang membuat eSport, olahraga yang terbilang baru, berbeda dengan olahraga pada umumnya.

"Membangun organisasi international eSport yang tunggal dan sah jelas bukan pekerjaan yang mudah," kata Nicolas Besombes, penasihat eSport di Global Association of International Sports Federations (GAISF).

"Berbagai pelaku dalam industri eSport (publisher, penyelenggara liga, manajemen tim, pemain, dan lainnya) memiliki minat yang berbeda antara satu dengan lainnya. International eSports Federation (IeSF), organisasi internasional yang telah menaungi eSport sejak 10 tahun lalu, juga mengalami kesulitan untuk merepresentasikan industri ini," tambahnya. 

Hingga saat ini, yang bisa dikatakan sederajat dengan federasi internasional dalam eSport adalah publisher karena keduanya bisa menyelenggarakan kompetisi global. Contohnya, Riot Games, Blizzard Entertainment, dan Valve Corporation sama-sama menyelenggarakan kompetisi global berkelas.

Namun, tahun lalu telah terlihat kerja sama yang belum pernah terjadi sebelumnya antara federasi eSport internasional, publisher, dan komite olimpiade. Contohnya, diresmikan eSport sebagai cabor resmi tanpa medali di Asian Games 2018 dan cabor resmi bermedali di SEA Games 2019. Hal ini menunjukkan bahwa adanya federasi eSport tingkat internasional dapat menjadi komponen penting dalam kesuksesan jangka panjang industri eSport.

Menurutmu?

Baca juga: Nih, Peluang Investasi Baru: eSport!