Tujuh Tren Utama Sistem Keamanan dan Identitas 2026

Oleh: Dewi Shinta N
Senin, 30 Maret 2026 | 16:27 WIB

Perkembangan teknologi yang semakin pesat mendorong perusahaan di seluruh dunia untuk beradaptasi, terutama dalam hal keamanan dan pengelolaan identitas. Hal ini terungkap dalam Laporan Industri Keamanan dan Identitas 2026 yang dirilis oleh HID, penyedia solusi identitas keamanan global.

Laporan tersebut menyoroti bagaimana perusahaan kini mulai melakukan transformasi besar dalam sistem manajemen identitas, yakni cara mengelola data individu, perangkat, hingga akses dalam ekosistem digital perusahaan. Tujuannya sederhana, namun krusial: menjaga keamanan data sekaligus membangun kepercayaan pengguna.

Berdasarkan riset terhadap 1.500 praktisi keamanan dan IT, pengguna, serta mitra, terlihat bahwa perusahaan semakin menyadari pentingnya pengelolaan identitas yang terintegrasi antara dunia fisik dan digital. Langkah ini dinilai penting untuk memberikan perlindungan sekaligus kendali lebih kepada pengguna atas data mereka.

“Perusahaan yang akan unggul adalah mereka yang mampu menghadirkan akses yang fleksibel tanpa mengorbankan keamanan,” ujar Ramesh Songukrishnasamy, Senior Vice President & Chief Technology Officer HID.

Baca juga: Google Siap Bangun Data Center Tenaga Surya di Luar Angkasa Mulai 2027

Laporan ini menyusun tujuh tren penting di bidang keamanan yang mempengaruhi perkembangan strategi keamanan ke depannya. Tujuh tren tersebut adalah:

1. Manajemen identitas kini jadi prioritas strategi keamanan perusahaan 

Hampir tiga perempat responden (73%) sepakat bahwa manajemen identitas adalah prioritas utama perusahaan, pilihan tertinggi dalam survey ini. Perusahaan mulai beralih dari sistem kredensial terpisah ke konsolidasi tata kelola identitas yang menggabungkan akses fisik dan sistem digital. Perusahaan sedang berupaya untuk menyatukan aspek-aspek berikut agar dapat dikelola lewat satu platform atau sistem, seperti data karyawan, data pengunjung, sistem verifikasi berlapis (Multi Factor Authentication), dan sistem PIAM (sistem yang mengatur izin individu untuk mengakses area tertentu).

Pergeseran ini mencerminkan perusahaan di berbagai negara sepakat, bahwa konsolidasi bukan lagi soal perlu atau tidak perlu, tapi sekarang bagaimana agar konsolidasi bisa berjalan dengan efisien, sesuai aturan, dan memberikan ROI yang terukur.

2. Mobile Credentials semakin masif

Adopsi mobile credential, yang biasa digunakan sebagai akses masuk gedung melalui smartphone, meningkat. Bukan sekedar praktis (34%), teknologi ini dinilai jauh lebih aman (50%). Namun, 84% pengguna ternyata masih berjaga-jaga menyimpan akses fisik (dalam bentuk kartu) meski sudah mengandalkan mobile credentials. Hal ini menunjukkan perilaku pengguna yang beragam dan kebutuhan akan sistem yang fleksibel.

3. Biometrik (Sidik Jari & Wajah) makin populer, tapi isu privasi meningkat tajam

Teknologi biometrik semakin diminati (45% sepakat teknologi ini strategis), seperti sidik jari (71%) dan pemindai wajah (50%) yang makin populer. Tapi di saat yang sama,kekhawatiran pengguna terkait etika dan privasi melonjak drastis dibandingkan tahun lalu, dari 31% menjadi 67%. Hal ini menuntut perusahaan untuk lebih transparan soal bagaimana data biometrik tersebut disimpan.

4. Sistem pelacakan lokasi real-time (RTLS) sudah jadi standar

Penggunaan teknologi pelacakan atau Real-time Location System (RTLS) terus meluas di berbagai sektor, seperti kesehatan, manufaktur, dan logistik. Sebanyak 42% end users menjadikannya prioritas strategis dan 40% lainnya sudah menerapkan dengan aktif. Namun, implementasi RTLS masih terkendala biaya (33%), isu privasi (29%), dan kompleksitas integrasi (29%). Selain itu, 38% mitra menyebut pengguna belum sepenuhnya memahami kemampuan RTLS, sehingga perlu edukasi lebih lanjut.

Baca juga: Kenapa Walaupun Bukan Anak IT, Kamu Tetap Perlu Belajar Data Analytics?

5. Satu identitas (fisik dan digital) untuk semua semakin didorong

Identitas fisik dan digital yang terintegrasi kini semakin jadi pilihan. Dari 75% perusahaan, 29% sudah mengimplementasikan teknologi ini, dan 46% lainnya sedang aktif melakukan evaluasi sistem. Meski menawarkan efisiensi dan keamanan lebih baik melalui satu akses untuk gedung, jaringan, dan aplikasi, implementasinya masih terkendala budget (51%), kompleksitas (37%), dan kesenjangan keahlian (expertise gap) (34%).

6. Adopsi RFID untuk pelacakan benda tumbuh stabil

Radio Frequency Identification (RFID), atau teknologi yang menggunakan gelombang radio untuk mengidentifikasi benda, kini sudah jadi infrastruktur penting, bukan lagi sekadar inovasi. Sebanyak 54% responden telah menggunakannya untuk pelacakan aset, manajemen inventaris, dan pencegahan kerugian. Manfaat utama yang dirasakan adalah pelacakan lebih cepat (62%) dan visibilitas lebih baik (41%), sehingga memperkuat kontrol serta efisiensi operasional.

7. Investasi semakin bergerak ke arah integrasi platform 

Era solusi tunggal akan segera berakhir. Perusahaan kini lebih memprioritaskan integrasi solusi dibanding solusi tunggal, untuk  meningkatkan visibilitas, efisiensi, dan ketahanan di tengah lingkungan yang semakin kompleks. Namun, integrasi masih menjadi tantangan utama, dengan 52% responden menyebut kompleksitas sistem identitas dan 37% menyoroti proses integrasi fisik-digital sebagai kendala.

Selain tren teknologi, laporan ini menyoroti isu utama di 2026 yakni meningkatnya kekhawatiran terhadap etika dan privasi. Untuk teknologi biometrik misalnya, 67% end users menyatakan kekhawatiran cukup serius dan sangat serius mengenai etika dan privasi teknologi ini.

Adanya teknologi pelacakan lokasi dan platform identitas terpadu, perusahaan dihadapkan pada tantangan untuk semakin memperkuat keamanan, namun di saat yang sama menjaga hak individu juga. Banyak responden menyatakan tengah menyusun kebijakan, tata kelola, dan kontrol teknis untuk merespons isu ini, menandakan pendekatan keamanan yang semakin matang.