Ini Dia, Strategi AI untuk Bisnis!

Oleh: Alfhatin Pratama
Rabu, 3 Juli 2019 | 10:13 WIB
Ilustrasi AI (shutterstock)

Artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, sebuah kecerdasan yang dapat didemonstrasikan oleh mesin, menjadi perbincangan yang hangat di era digital saat ini. Banyak korporasi yang berlomba-lomba menyuarakan keberpihakannya pada AI atau ingin memanfaatkan AI agar bisnisnya dapat berjalan dengan lebih efektif dan efisien.

Banyak pihak yang berhasil memanfaatkannya, tapi tak sedikit juga yang gagal karena hanya 'latah' teknologi atau hanya mengikuti tren yang sedang berlangsung. Lalu, bagaimana sih bisnis seharusnya merencanakan strategi AI?

Dalam workshop bertajuk "How to Design AI Strategy for Business" di SYNRGY Innovation Hub, Jakarta (21/6), Danny Kosasih, Co-Founder Innovesia memaparkan bagaimana bisnis seharusnya memanfaatkan AI supaya tepat, efektif, dan efisien.

Laki-laki yang berpengalaman membantu akselerasi startup khususnya yang fokus pada teknologi AI itu menitikberatkan bahwa yang terpenting dari AI bukan hanya awareness atau kesadaran bisnis akan hal itu tapi juga pengaplikasiannya.

"Biasanya bisnis yang ingin memanfaatkan AI bingung mulainya dari mana. Teknologi atau strategi, ya? Kebanyakan dari kita kalau bicara soal bisnis, ya yang dibicarakan terlebih dahulu adalah teknologinya. Wah, lagi hype nih, ayo siapa yang bisa cepat manfaatkan teknologi A, B, dan C, atau siapa yang lebih cepat menampilkannya dalam visi dan misi perusahaan," kata laki-laki yang juga mengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia itu.

Baca juga: Artificial Intelligence Bantu Jaringan Ritel

Contoh pengimplementasian AI untuk mengidentifikasi objek (shutterstock)
Menurut Danny, hal yang terpenting sebenarnya bukan soal siapa yang bisa lebih cepat memanfaatkannya. "Yang harus dilakukan bisnis adalah merencanakan strateginya terlebih dahulu. AI tidak jalan karena nggak cocok dengan strateginya, nggak cocok dengan lingkungannya, kompetisinya, dan organisasinya. Ini akibat memaksakan AI yang besar ke dalam organisasi yang belum siap," tambahnya.

Selanjutnya, Danny menjelaskan bahwa AI bukan dirancang untuk artificial problem atau masalah buatan dan artificial solution atau solusi buatan. "Ini permasalahan yang sering dihadapi. Boleh bicara AI tapi jangan pernah menganggap bahwa problem, customer, dan produknya juga artificial. Yang ada, nantinya jadi artificial company, artificial organisation, dan artificial people," tegasnya.

Strategi, menurut Danny, adalah bagaimana bisnis memposisikan diri dalam sebuah kompetisi. Posisikan diri sebagai bisnis seperti apa dan ingin berkompetisi di sektor apa. Bisnis harus mengerti di mana tempat yang bisa diraih, produk yang dimiliki dan kompetitor yang ada.

"Strategi harus direncanakan dengan mapping yang jelas, lihat lingkungan internal dan eksternal, lalu kemudian masuk ke dalam perencanaan tentang kapasitas bisnis seperti apa yang diinginkan agar bisa menyampaikan produk yang dimiliki," ujar Danny.

Sebagai contoh, laki-laki yang juga menjadi Co-Founder MakeDoNia MakerSpace itu mengatakan, "Kalau mau menargetkan Customer A dengan cara yang lebih cepat dibandingkan dengan kompetitor lain dan untuk mencapai hal itu bisnis butuh AI. Ya, dengan itu baru bisa dikatakan bisnis tersebut memang benar-benar butuh AI."

Baca juga: Bangun Komunitas Pelanggan dengan Influencer, Video, dan Chatbot. Kuy!

Ilustrasi penggunaan chatbot (shutterstock)
Contoh lain, Danny menjelaskan, adalah penggunaan dalam industri farmasi. Customer-nya adalah dokter dan customer internal adalah tenaga sales. Ketika ingin menyampaikan promosi tentang produk, sales menggunakan selebaran promosi atau brosur. Dengan AI, pekerjaan ini dapat menghemat waktu sales dan penyampaiannya kepada dokter yang membutuhkan produk farmasi dapat lebih tepat, efektif, dan efisien.

Contoh yang lain adalah Halosis, startup yang membantu penjualan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dengan Chatbot. Mereka pernah mengikuti mentoring dengan Innovesia. "UMKM di Indonesia biasanya yang berjualan adalah Ibu-ibu yang punya anak. Mereka tidak bisa tidur terlalu larut karena harus mengantar anak ke sekolah. Nah, pembeli biasanya adalah generasi milenial yang biasanya order jam 2 atau 3 pagi ketika penjual tidur. Di sini masalah dapat diselesaikan dengan AI. Melalui Chatbot, UMKM masih bisa melayani pembeli meskipun penjualnya tidur," jelas Danny.

Danny melanjutkan bahwa AI bukan soal produk atau fitur tapi bagaimana bisnis memulai dari kebutuhan customer terlebih dahulu, berempati terhadap customer, dan bagaimana bisa memberikan apa yang customer inginkan. Kesulitan customer apa yang bisa dibantu dengan AI yang dimiliki oleh bisnis atau bagian mana dari customer yang menghalangi pekerjaannya sehingga bisa dibantu dengan AI.

Yap, seperti yang sudah disebutkan di atas, bukan soal AI terlebih dahulu tapi masalahnya terlebih dahulu.

Baca juga: Benarkah Artificial Intelligence Akan Menggantikan Tenaga Marketing?