Jadi Ibu Sekaligus Jadi Bos Itu Nggak Mudah Lho!

Oleh: Ana Fauziyah
Rabu, 27 Februari 2019 | 08:45 WIB
Ilustrasi mompreneur (shutterstock)

Maunya mengurus pekerjaan, tapi sampai lupa berdandan dan mengurus diri sendiri. Maunya melayani pelanggan dengan sebaiknya-baiknya, tapi anak balita merengek minta digendong. Hmm, memang tidak mudah menjadi seorang mompreneur.

Dengan tanggung jawab mengelola rumah dan kantor, beban kerja yang dobel dan bertumpuk-tumpuk bisa membuat mompreneur super sibuk. Menyeimbangkan antara keduanya bisa menjadi tantangan tersendiri. Tapi bukan berarti tidak mungkin lho.

Sudah banyak contoh sosok emak-emak yang sukses menjalankan bisnisnya sambil tetap berperan sebagai ibu dan istri hebat. Menurut survei terbaru yang dilakukan oleh Entrepreneur, pengusaha perempuan yang memulai bisnis dua kali lebih banyak daripada pria. Dan hampir 90 persen di antaranya memiliki anak.

Menggabungkan dua peran menjadi suatu keahlian yang harus dimiliki oleh mompreneur. Meskipun tren budaya kerja dari rumah turut menguntungkan para mompreneur, tetapi sama seperti setiap pengusaha lain, para mompreneur juga dihadapkan pada tantangan tersendiri.

So, Apa saja tantangan buat para emak-emak yang ingin menjadi mompreneur? Yuk, simak ulasan berikut ini.

Baca juga: Pastikan Miliki 5 Hal Ini untuk Jadi Mompreneur!

Mompreneur (shutterstock)

1. Harus bisa menyeimbangkan dua peran

Menjalani dua peran menjadi ibu dan bos bisa melelahkan. Dalam usia di mana anak-anak membutuhkan bimbingan maksimal dari orang tua mereka, mompreneur memiliki tugas yang sangat berat.

Karena itu, seorang mompreneur harus bisa menyeimbangkan antara kehidupan pribadi dan profesionalnya. Mompreneur juga harus pintar memilah-milah tugas mana yang merupakan prioritas dan mana yang kurang penting. Jika seni menyeimbangkan tugas dan peran ini tidak bisa dikuasai maka baik bisnis dan kehidupan keluarganya bisa terganggu.

2. Kurangnya pendanaan

Sebagian besar ibu mengandalkan tabungan pribadi atau kartu kredit mereka sendiri untuk memulai bisnis mereka. Banyak ibu yang tidak mencari investor untuk membantu meluaskan bisnis mereka. Hal ini dikarenakan kurangnya akses kepada perbankan atau kepada calon investor.

Statistik menunjukkan bahwa para pengusaha perempuan lebih sulit mendapatkan pendanaan modal ventura daripada laki-laki. Kesenjangan antara kedua jenis kelamin menjadi hal yang utama dalam masalah pendanaan modal usaha.

Untuk mengatasi kendala ini, mompreneur harus membekali diri dengan pengetahuan yang cukup, melebarkan jejaring dan koneksi, serta membuka diri terhadap akses perbankan. Kamu juga sebaiknya menjalin kemitraan dengan sesama pengusaha perempuan.

Baca juga: Mau Jadi Mompreneur? Ini Tipsnya!

iustrasi Mompreneur (Shutterstock)

3. Melawan stereotip

Zaman memang sudah maju tapi para mompreneur ternyata masih juga dihantui dengan stereotip negatif mengenai peran mereka. Wanita yang sukses dianggap kurang disukai, bahkan mungkin menjadi ancaman bagi para pria. Berbeda dengan pria yang sukses, mereka disukai orang lain dan dianggap cakap dalam perannya.

Selain itu, perempuan harus membuktikan diri kepada rekan-rekan mereka, karyawan atau klien hanya untuk mematahkan stereotip ketidakmampuan perempuan dalam bisnis. Kebanyakan wanita juga diharapkan fokus pada tugas-tugas rumah tangganya sepenuhnya, sehingga kebanyakan mereka memilih keluar dari profesi mereka.

Tapi jangan pesimis dan menyerah dulu. Ingatlah bahwa kesuksesan tidak diukur dari jenis kelamin dan kamu juga memiliki kemampuan untuk sukses. Yakinkan diri bahwa banyak orang yang membutuhkan dan bergantung pada usaha yang kamu dirikan. Jika bisa bermanfaat untuk banyak orang, kenapa tidak?

4. Tidak ada waktu merawat diri sendiri

Boro-boro dandan, mompreneur seolah ditarik ke segala arah untuk mampu mengerjakan banyak pekerjaan sekaligus. Meskipun begitu, jangan sekali-kali mengabaikan kesehatan dan kebugaran diri sendiri.

Asupan makanan yang sehat, perawatan diri, dan istirahat dari pekerjaan akan menciptakan keseimbangan kehidupan kerja. Sisihkan waktu untuk merawat diri dan agendakan 'me time'. Jangan ragu untuk mendelegasikan pekerjaan ke orang lain yang bisa kamu percayai.

5. Merasa tidak menjadi ibu yang baik

Rasa bersalah ibu adalah sesuatu yang dialami semua ibu karena naluri keibuannya selalu ingin memberi yang terbaik bagi anak-anaknya. Adakalanya seorang mompreneur seolah berada di persimpangan antara mengelola bisnis atau fokus penuh mengurus anak-anak.

Rasa bersalah ini bisa mencegah seorang ibu memulai bisnis baru dan menyebabkan mereka menyerah pada bisnis mereka. Jangan larut menyalahkan diri sendiri. Tapi pikirkan bahwa sosok kamu yang kuat, percaya diri, mandiri, berani, dan sukses bisa menjadi sosok panutan dan idola bagi anak-anak kamu.

Yuk Mom, semangat dan pantang menyerah!

Baca juga: Mau Jadi Mompreneur? Bisa Kok!