Media Sosialmu Adalah Cermin Dirimu. Waspadalah!

Oleh: Alfhatin Pratama
Senin, 25 Februari 2019 | 08:15 WIB
Ilustrasi berkata kasar (shutterstock)

Era digital tak lengkap rasanya tanpa media sosial. Banyak manfaat yang bisa didapatkan dari penggunaannya, seperti menghubungkan teman, keluarga, atau rekan bisnis yang jaraknya sangat jauh. Membangun personal branding pun bisa di dunia virtual ini.

Di sisi lain, media sosial juga bisa menjadi alat komunikasi yang tidak memiliki nilai sama sekali jika digunakan dengan cara yang menyimpang. Tak sedikit orang menggunakan platform seperti Facebook, Instagram, LinkedIn, SnapChat, dan Twitter sebagai wadah untuk mengekspresikan kemarahan dan kebencian.

"Reputasi seseorang juga hidup secara online. Komunitas media sosial seseorang dapat mempengaruhi kariernya," kata Jessica Nunez, CEO TruePoint Communications dalam Entrepreneur.

Jessica juga menambahkan bahwa seorang pemimpin perusahaan atau karyawannya menggunakan media sosial dengan cara yang tidak baik, misalnya menyebarkan kebencian, dapat berdampak negatif bagi perusahaan. Apalagi, yang melakukannya adalah pemimpin perusahaan.

Baca juga: Ini Tren Media Sosial 2019 yang Mesti Kamu Pantengi!

Mengekspresikan sesuatu di media sosial (shutterstock)
Apa pun yang diekspresikan ke media sosial akan menjadi bagian rejam jejak digital yang permanen. Bayangkan, apa yang akan terjadi jika kemarahan dan kebencian yang diujarkan? Seperti sebuah kasus yang menyangkut Kevin Hart, seorang artis kenamaan asal Amerika Serikat.

Kevin terpaksa harus mundur sebagai pembaca acara Academy Awards atau Penghargaan Piala Oscar tahun 2019 yang akan diselenggarakan tanggal 24 Februari mendatang karena cuitannya yang tidak sopan di Twitter.

Ketika media sosial menjadi semakin dekat dalam kehidupan seorang, penting untuk berpikir dengan hati-hati tentang cara menangani diri di media sosial. Berikut ini adalah tips yang dirangkum Digination.id mengenai hal tersebut...

Pikir dulu sebelum posting

Merespon sesuatu dalam keadaan emosional dapat berisiko buruk dan menghasilkan hal yang kontra-produktif. Sama halnya dengan merespon postingan di media sosial. Lebih baik meluangkan waktu untuk berpikir dan merumuskan kembali argumen seperti apa yang akan diberikan. Menahan sejenak dan berpikir ulang tentang apa yang ingin diekspresikan dapat mengurangi risiko buruk dari komentar yang seharusnya tidak diujarkan.

Baca juga: Pilih Mana: Instagram Stories atau Facebook Stories?

Pikir dulu sebelum posting (shutterstock)
Jangan terlibat dalam argumen tak penting

Sangat mudah untuk melihat bagaimana sebuah postingan di platform seperti Facebook dan Twitter dapat menarik pengguna lainnya untuk saling berkomentar dengan kemarahan dan kebencian. Berkomentar di media sosial sangat mudah, sehingga seorang dengan cepat terjebak dalam argumen yang tak penting. Apa pun yang ia komentari dapat dilihat semua orang.

Contonya, berdebat di media sosial tentang siapa Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden yang akan menang di Pemilihan Umum 2019 nanti. Lebih baik kesampingkan keributan yang tak penting itu! Berdebat di media sosial seringkali tidak ada gunanya. Tak perlu mengubah pikiran orang lain, mungkin bisa membahayakan diri sendiri.

Media sosial yang membuat hidup kita mudah bisa saja disalahgunakan untuk kepentingan yang merusak. Oleh karena itu, penting untuk selalu diingat bahwa semua aktivitas di media sosial akan bertahan permanen: rekam jejak digital yang tidak pernah hilang. Seseorang tidak pernah tahu siapa yang akan melihat komentarnya, baik sekarang atau di masa depan. Jadi, hiduplah di media sosial sebagaimana hidup seperti biasa dengan baik.

Bisa, kan?

Baca juga: Mau Belajar Cybersecurity Gratis? Ini Tempatnya!