Hijaukan Lingkungan Sambil Raup Keuntungan? Bisa!

Oleh: Alfhatin Pratama
Jumat, 2 November 2018 | 08:15 WIB
Berbisnis tetap cinta lingkungan (Shutterstock)

Masifnya pembangunan di mana-mana dan perkembangan teknologi yang tak dapat dielakkan menjadikan green business (bisnis yang memberikan dampak positif dan berkelanjutan terhadap lingkungan) sebagai salah satu pilihan untuk berbisnis sekaligus melindungi alam. Green business memang bukan barang baru, tapi dengan adanya kemudahan akses  teknologi di era digital membuat pelaku bisnis ini semakin kreatif dan inovatif.   

Salah satu sesi pada Ideafest 2018 di Jakarta (27/10) bertajuk "New Age Farmer: Eat What You Grow, Cycle What You Consume" menampilkan 3 jenis bisnis yang menguntungkan sekaligus ramah lingkungan.

Baca juga: Dari Petani Sampai Penjahit, Bisakah Mereka Ubah Jakarta?

Pertama, Kebun Kumara, sebuah wadah untuk belajar bertani dengan cara permakultur di tengah kota. Permakultur dapat diartikan sebagai sistem pertanian yang tidak merusak lingkungan, peduli bumi tanpa gunakan kimia berbahaya, peduli manusia dengan produk bahan makanan sehat, dan mendaur ulang limbah pertaniannya.

Platform ini didirikan tahun 2016 oleh Soraya Cassandra, Dhira Narayana, Alia Ramadhani, dan Rendri Labde. Kebun Kumara terletak di Ciputat, Tangerang Selatan di atas tanah seluas 300m2. Mereka mendobrak 2 pola pikir yang beredar, yaitu tidak dapat bercocok tanam di kota dan orang yang tinggal di kota tidak mahir bercocok tanam seperti petani di desa.

Selain sebagai tempat belajar, mereka juga menjual hasil kebunnya ke masyarakat. "Sudah saatnya kota-kota besar tidak bergantung lagi pada pedesaan dalam penyediaan makanan. Kita harus sediakan sendiri makanan yang kita makan. Ini juga dapat menjadi peluang bisnis lokal yang potensial. Misalnya, orang yang tinggal di Jakarta Barat bisa supply makanan di kawasan Jakarta Barat," ujar perempuan lulusan jurusan Psikologi itu. 

Baca juga: Keren, Ini Aplikasi Khusus Untuk Petani!

Samantha Gunawan, Founder Blueboots (Foto: Alfhatin)

Kedua, Blueboots, pertanian organik yang terletak di Cijeruk, Kabupaten Bogor yang didirikan oleh Samantha Gunawan tahun 2015. Awalnya Samantha menilai bahwa terkadang produk petani yang dipasarkan kualitasnya tidak bagus. "Kenapa, sih, negara kita masih impor? Kenapa, sih, petani-petani di Indonesia menanam satu macam saja?" ujar perempuan yang lama tinggal di Singapura itu.    

Karenanya melalui platform ini, ia dan rekan-rekannya memberdayakan petani lokal untuk menanam produk segar agar dapat menyediakan produk organik lokal berkualitas terbaik ke pasar. Tidak hanya buah dan sayur, mereka juga menjual beberapa produk olahan dari hasil pertaniannya. Seperti selai kacang, kripik singkong, ekstrak daun pandan, dan ekstrak daun kelor. 

Baca juga: Menurutmu Petani Masih Gaptek? Yakin?

Ketiga, TAN-EUH and The Upcycling Companystartup yang memanfaatkan teknologi dan lingkungan. Didirikan oleh Azriansyah Ithakari tahun 2015. Awalnya mereka memperkenalkan microgreen (Sayur-sayur bernutrisi yang berbentuk kecil) yang bisa ditanam, dipelihara, dan disemai untuk kemudian langsung diolah menjadi makanan.

Selanjutnya, mereka mengembangkan visinya menjadi from food waste to energy. Dengan cara upcycling, mereka mengubah bahan yang sudah tidak terpakai, sering dianggap tidak bernilai oleh banyak orang, menjadi barang yang bernilai tinggi. "Di Inggris, kulit nanas dijadikan bahan dasar membuat jok mobil (produknya bernama Pinatex). Di sini, kami mengolah ampas kopi menjadi bahan bakar, seperti arang, bernama coffee logs. Ampas kopi yang dikumpulkan dari 15 cangkir dapat dibuat menjadi satu batang coffee logs," ujar Azri.

Kedepannya, startup ini akan terus melakukan penelitian terhadap limbah yang dapat diolah menjadi barang yang bernilai tinggi.

Kalau mereka bisa, kamu juga, kan?

Baca juga: Berawal dari Galau, Kevin Kumala Ciptakan Plastik yang Bisa Jadi Kompos