Siap Pensiun, Jack Ma Panutan Entrepreneur Muda

Oleh: Aulia Annaisabiru Ermadi
Rabu, 12 September 2018 | 14:16 WIB
Jack Ma, pendiri Alibaba.com (Shutterstock)

Jauh sebelum menjadi pebisnis terkenal, pemilik Alibaba.com, Jack Ma adalah seorang guru bahasa Inggris yang selalu bermimpi bahwa suatu hari manusia akan membeli barang-barang melalui internet ke teman-temannya. 

Ma, begitu biasanya dia dipanggil, berhasil mewujudkan mimpinya dan mempunyai misi untuk mengubah Tiongkok. Sekarang ia telah berencana meninggalkan Grup Alibaba. Ma, telah mengajarkan banyak hal tentang kepemimpinan, lebih dari membuat dan membangun raksasa e-commerce. Dia menunjukkan bahwa perusahaan swasta yang inovatif dapat berkembang di bawah rezim komunis. Keberhasilannya telah menciptakan sebuah model yang bisa menyaingi industri teknologi di Silicon Valley dan mendorong perekonomian Tiongkok. 

Ma, sekarang adalah orang terkaya di Tiongkok, memiliki kekayaan sekitar USD 40 miliar dan menjadi perbincangan di perekonomi global. Berada di rezim yang menerapkan kontrol ketat pada media, internet dan berpendapat. Pendekatannya pada pemerintah menunjukkan bagaimana keberhasilan wirausaha dapat hidup berdampingan dengan rezim Komunis, dan membuka gelombang baru startup.

Baca juga: Alibaba Mulai Jejalkan Teknologi AI pada Mobil

"Dia telah menjadi role model bagi generasi kita," ujar Peiran Wei, co-founder sebuah startupdeveloper aplikasi bernama VideoUp, yang berkembang karena Ma dan Alibaba.

Kisah Jack Ma menjadi legenda. Ia lahir pada 1964 di keluarga musisi dan pendongeng di Hangzhou, kota yang terkenal dengan situs bersejarah dan keindahan alamnya. Dia mengasah kemampuan bahasa Inggrisnya dengan bekeliaran di sekitar hotel agar dapat berbincang dengan turis asing.

Setelah bekerja menjadi guru, Ma beralih ke bisnis, memulai Alibaba.com pada tahun 1999 dengan 17 co-founders. Ma menjadi contoh seorang pemimpin yang bisa menginspirasi dan dapat mengarahkan karyawan untuk mengemban visi memodernkan perekonomian Tiongkok.

Baca juga: Alibaba Ancang-Ancang Suntik Grab Rp 82,5 Triliun?

Ilustrasi Alibaba.com (Shutterstock)

Alibaba telah membawa e-commerce masuk ke desa-desa terpencil di Tiongkok dan memperkenalkan artificial intelligence, health care dan film-film Hollywood. Kurang dari 20 tahun setelah berdiri, bisnisnya telah bernilai USD 420 miliar.

Masayoshi Son dari Jepang menjadi salah satu orang yang melihat ketangguhan Ma. Softbank Group Corp miliknya menanam modal sebesar USD 20 juta di Alibaba pada tahun 2000 dan sekarang sahamnya sudah senilai USD 120 miliar.

"Dia tidak punya rencana bisnis dan tidak memiliki pendapatan," kata Son tentang Ma di The Davis Rubenstein Show. "Tapi matanya sangat tajam dan berbicara, dia memiliki karisma dan memiliki jiwa kepemimpinan."

Baca juga: Bos Alibaba, Jack Ma Resmi Jadi Penasihat E-Commmerce Indonesia

Akhirnya Ma dan tim berhasil mengumpulkan USD 25 miliar dan membuka mata para pemodal ventura bahwa banyak keuntungan yang didapat dengan berinvestasi di startup negara tersebut.

Dampaknya langsung terasa. Transaksi ventura di Tiongkok naik dari USD 4,4 miliar pada tahun 2013 menjadi USD 16,6 miliar pada tahun 2014 dan mencapai USD 62,6 miliar pada 2017, menurut perusahaan riset pasar, Preqin. 

"Startup Tiongkok tidak seperti ini tanpa Jack Ma," kata William Bao Bean, general partner perusahaan modal ventura, SOSV. "Kepopuleran Jack Ma dan kesuksesan Alibaba menjadikan startup sebagai pilihan karier yang dapat diterima."

Jack Ma berhasil membuat terobosan, inovasi dan melahirkan generasi perusahaan teknologi berikutnya.

"Ma mewakili generasi internasional pengusaha Cina pertama," jelas Huiyao, penasihat kabinet Tiongkok dan pendiri 'Center of China and Globalization'.

Baca juga: Alibaba Group dan UNCTAD Luncurkan Program eFounders ke Asia Tenggara