Seberapa Penting Generasi Milenial Buat E-Commerce?

Oleh: Alfhatin Pratama
Rabu, 12 September 2018 | 08:30 WIB
ilustrasi pekerja generasi milenial (Shutterstock)

Topik tentang generasi milenial atau generasi Y menjadi perbincangan hangat pada ranah ekonomi digital, baik sebagai penggerak maupun pasar. Genarasi milenial atau generasi Y biasanya ditujukan untuk orang-orang yang berusia antara 17-37 tahun. Tetapi, perdebatan tentang jenjang usia generasi milenial terus berjalan.

Jumlah generasi milenial yang tersebar di seluruh Indonesia harus dimanfaatkan. Menurut Rezki Yanuar, Country Brand Manager Shopee Indonesia pada Peringatan Hari Pelanggan Nasional 2018 yang diadakan oleh BNI, generasi milenial sangat penting untuk pasar digital. Ada beberapa hal yang membuatnya sangat penting.

Baca juga: Generasi Milenial Jadi Kekuatan Bagi e-Commerce

Rezki Yanuar, Country Brand Manager Shopee Indonesia berbicara tentang milenial (Foto: Alfhatin)

Pertama, menurut Rezki, kaum milenial adalah pasar terbesar dan sagat potensial pada pasar digital. Hal ini dibuktikan dengan jumlah rata-rata konsumen yang berbelanja di Shopee berusia 25-35 tahun.

Kedua, konsumen yang berusia di bawah 25 tahun pun juga lebih banyak. Dengan banyaknya tren untuk bersosial media, mereka yang berusia di bawah 25 tahun juga diharapkan dapat ikut serta mengenal dan mneyebarkan demam digital.

Ketiga, generasi milenial memiliki ide yang luar biasa. "Saking pentingnya milenial untuk e-commerce, para karyawan kita rata-rata umurnya 25 tahun. Dari total 3000 orang karyawan Shopee, 90% rata-rata berumur 25 tahun. Jelas mereka adalah generasi milenial. Mereka punya semangat tinggi, visi, dan pemikiran yang berbeda," tambah Rezki.

Baca juga: Transformasi Digital, Kemajuan Teknologi, dan Peran Generasi Milenial

Steeven Yosi, Eats Product Manager Traveloka berbicara tentang milenial (Foto: Alfhatin)

Selain Rezki, ada Steeven Yosi, Eats Product Manager Traveloka, yang juga berkomentar mengenai generasi milenial ini, "Sebelum menargetkan generasi milenial sebagai pasar, kita harus mendifinisikan terlebih dahulu siapa yang disebut sebagai generasi milenial dan apa kebiasaan mereka." Contohnya,sambung Steeven, ketika ingin membeli produk milenial lebih suka melihat Instagram terlebih dahulu. "Oleh karena itu, kita juga harus meng-address periklanan kita ke Instagram," tambahnya.

Keduanya pun setuju bahwa jika ingin tetap memanfaatkan generasi milenial sebagai pasar yang potensial, diperlukan kerjasama dengan berbagai pihak, termasuk perbankan. Salah satunya adalah pembayaran untuk mempercepat transaksi. Semakin digital sebuah bank, maka kemungkinan kerjasama antara bank dan e-commerce akan semakin terbuka dan berkesinambungan.

Baca juga: Cara Bank Menjawab Tantangan Digitalisasi Perbankan

Tulisan ini hasil kerjasama antara BNI dengan Digination.Id