LogoDIGINATION LOGO

15 Mins or 15 Lifetime? Love or Fear?

author Oleh Alamanda Shantika Founder and President Director of Binar Academy Rabu, 28 Agustus 2019 | 08:15 WIB
Share
Kebahagiaan di masa kecil yang sering terlupakan...(foto diambil dari blog pribadi Alamanda Shantika)
Share

Lagi ngobrol-ngobrol ngalor-ngidul sama Arya Djoehana siang kemarin di Komunal sambil menikmati makan siang. Arya yang selalu nambah kalo makan :P. Satu kalimat yang bikin saya lumayan terbangun, dia bilang "Temen gw bilang orang itu bisa milih dia mau berubah dan berkembang dalam waktu 15 menit atau 15 kali reinkarnasi.” (Buat yang gak percaya reinkarnasi atau past life anggep aja 15 taun :D)

Beberapa waktu belakangan ini saya lagi baca beberapa buku neuroscience dan beberapa buku self growth. Ada satu hal yang sama dari buku-buku itu, di sana tertulis bahwa hidup manusia hanya didasarkan pada 2 hal, love or fear.

Baca juga: Mengintip Tren Transformasi Digital Melalui “Are You Ready to Ride The Wave?”

All human actions are motivated at their deepest level by one of two emotions—fear or love. In truth there are only two emotions—only two words in the language of the soul. These are the opposite ends of the great polarity.
Love is the energy which expands, opens up, sends out, stays, reveals, shares, heals.
Fear is the energy which contracts, closes down, draws in, runs, hides, hoards, harms.

Saya sendiri sadar, sebagai orang dewasa, saya jadi terbiasa hidup dengan melihat banyak ketakutan. Jadi terlalu banyak berfikir menggunakan otak, bukan mendengarkan hati, "kalo gw milih ini nanti bakalan gini gitu, kalo gw milih itu nanti bakalan gini gitu."

Semua yang keluar dari pikiran kita didasarkan dari ketakutan kita. Semakin lupa masa kecil kita, dimana kita lebih bahagia karena tidak terlalu banyak berfikir: we just want to share our love and be happy at any given moment. Karena waktu kecil kita belum dibiasakan untuk terlalu banyak berfikir dari otak tapi hanya menjalankan apa yang hati kita bilang.

Seketika itu saya juga jadi tersadar, kadang kita juga terlalu bergantung pada outer world kita. Kita berharap situasi atau kondisi atau orang di luar diri kita bisa berubah. Tapi seketika itu juga saya sadar kalau saya bergantung pada outer world saya, bisa jadi semua itu akan berubah dalam waktu 15 menit atau 15 kali reinkarnasi. Ya, memang kita tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi pada luar diri kita. Tapi, kita bisa mengendalikan kebahagian di dalam diri kita sendiri: apakah kita mau merubah kondisi dalam waktu 15 menit atau 15 kali reinkarnasi.

Baca juga: Melalui G20, Indonesia Dorong Transformasi Ekonomi Digital

Tidak bergantung pada perubahan di luar diri kita ini juga related dengan apa yang pernah saya tulis di artikel ini. Pada intinya kita harus menghargai bahwa orang lain punya state hidup masing-masing. Bukan juga menjadikan kita berfikir kita lebih tinggi dari orang lain karena kita sudah lebih mengerti daripada orang lain. Tapi, mungkin apa yang sudah kita pelajari dia belum pelajari dan mungkin banyak juga yang sudah dia mengerti tapi kita belum mengerti.

So just listen to your inner self, to your heart. When we listen to the inner self, it will definitely comes from love. When we listen too much to outer sources or we think too much with our head or mind, we start to think that we’re doing it wrong and the fear comes out right away. If you're searching for answers in life, you might not have to look any further than yourself.

Love is the highest energy in the universe. Reward yourself by loving yourself first. Don't stop yourself from leading a happy life. Don't take life too seriously. Ask your inner self: it is our choices to choose love or fear? It is our choices to grow in 15 mins or 15 lifetime. 

Baca juga: Belajar dari Tabloid Bola, Transformasi Sekarang Juga!

  • Editor: Dikdik Taufik Hidayat
  • Sumber: LinkedIn Alamanda Shantika Santoso
RECOMMENDATION

4 Tips untuk Perusahaan Lakukan Transformasi Digital

Kecepatan transformasi digital kini meningkat mengingat banyak perusahaan melihat peningkatan manfaat sebesar 20 - 30% di berbagai bidang bisnis yang berasal dari inisiatif digital

Rabu, 14 Februari 2018 | 04:27 WIB
LATEST ARTICLE

Siklus Membaik

Ternyata pengetahuan yang kita miliki itu sejatinya adalah hasil saling transfer antar kita...

Rabu, 11 September 2019 | 08:15 WIB

Perubahan Lintas Generasi

Mereka adalah kelompok anak muda yang ingin “dianggap eksis”. Mereka tidak ingin dianggap hanya sekedar pelengkap dari segala sesuatu yang selama ini harus ditentukan oleh orangtua.

Minggu, 30 September 2018 | 08:45 WIB

Langit Runtuh dari Dalam

Perusahaan bisa saja goyah. Bukan terutama karena diganggu pesaing, melainkan karena kesalahan sendiri.

Minggu, 16 September 2018 | 15:25 WIB

Jangan Bilang-Bilang

Teknologi benar-benar telah memorakporandakan kata "rahasia perusahaan". Apalagi ada banyak karyawan yang suka menceritakan gosip di dalam perusahaan, walaupun kalimatnya selalu dimulai dengan: "Jangan bilang-bilang...!"

Minggu, 9 September 2018 | 10:25 WIB

Command Center, Smart City & AI

Kadang Command Center hanya jadi tempat foto bersama kunjungan tamu. Saat ada tamu dihidupkan, setelah tamu pulang mati lagi.

Senin, 20 Agustus 2018 | 11:50 WIB

Kopi, Koin dan Kriptografi

Pernahkah Anda minum kopi dengan nama Sigarar Utang? Konon, kopi dari Tapanuli Utara ini kalau diterjemahkan berarti “pelunas hutang” atau “pembayar hutang”

Jumat, 16 Maret 2018 | 03:41 WIB

Selamat Datang TV Everywhere

Perhatikan apakah dalam 1 minggu, anak Anda masih duduk manis di depan TV menyaksikan acara kesayangannya? Kalau masih, berapa jam per minggu ia duduk di depan TV? Atau malah dalam seminggu sama sekali mereka tidak menonton televisi

Jumat, 25 Agustus 2017 | 02:08 WIB

Hoax dan Lompatan Internet Orang Indonesia

Mike Walsh, pembicara megatrend dalam satu seminar di Liverpool, yang kebetulan saya ikuti, menceritakan anomali orang Indonesia di dunia digital

Kamis, 24 Agustus 2017 | 02:09 WIB