Peran eRecycle untuk Ekonomi Sirkular

Oleh: Nur Shinta Dewi
Rabu, 10 Februari 2021 | 21:19 WIB

Indonesia tercatat sebagai negara penyumbang sampah plastik di laut terbesar kedua di dunia setelah China.

Tercatat, total volume sampah kantong plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun di mana 3,2 juta ton per tahun masuk ke laut.

Meningkatnya jumlah sampah plastik di Indonesia tidak lain, akibat pengelolaan sampah yang tidak baik. Untuk menekan jumlah sampah plastik terutama pada industri, eRecycle perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan sampah ikut berkontribusi pada perkembangan ekonomi sirkular yang didengungkan sebagai solusi.

Data menyebutkan bahwa, adopsi ekonomi sirkular di sektor-sektor seperti tekstil, ritel, manufaktur elektronik, konstruksi dan makanan dan minuman dapat menambah US$42,2 miliar atau setara dengan Rp 593 - Rp 638 triliun ke produk domestik bruto (PDB) negara pada tahun 2030. Meski potensinya sangat besar, banyak bisnis yang masih meraba ekonomi sirkular.

Pengertian Ekonomi Sirkuler

Ekonomi sirkular adalah sistem ekonomi yang ramah pada lingkungan. Pelaku bisnis diharap untuk beralih dari linier ekonomi menuju ekonomi sirkular.

Prinsip ekonomi sirkular adalah mengurangi dampak lingkungan dari industri dengan merancang sistem yang mengurangi limbah dan polusi, berinvestasi dalam sumber daya terbarukan, dan menjaga agar bahan tetap digunakan lebih lama.

Tujuan dari ekonomi sirkular adalah mempertahankan nilai sebuah produk agar dapat digunakan berulang-ulang tanpa menghasilkan sampah melalui cara mendaur ulang (recycle), dan penggunaan kembali (reuse).

Mengadopsi prinsip ekonomi sirkular sangat penting, tidak hanya untuk keberlanjutan tetapi juga untuk mengurangi risiko bisnis dan meningkatkan keuntungan.

Teknologi digital pendukung keberlangsungan Ekonomi Sirkular

Konvergensi transformasi digital menjadi pendukung keberlangsungan ekonomi sirkular. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan sampah berbasis teknologi, eRecycle turut berkontribusi dalam pendistribusian dan daur ulang sampah.

Dicky Wiratama, Head of Business eRecycle.id, mengatakan pertumbuhan industri yang semakin komplek, menjadi acuan perkembangan teknologi recycling di Indonesia.

eRecycle melihat teknologi sangat diperlukan tidak hanya untuk membangun pengetahuan dan distribusi, namun juga praktik ekonomi sirkuler di Indonesia.

“Memang sampah yang mendominasi saat ini adalah limbah rumah tangga, tapi perlu diingat industri lah yang mengajak masyarakat menjadi konsumtif. Itu mengapa diperlukan pengelolaan sampah yang baik melalui teknologi recycling” kata Dicky.

Dengan menggunakan teknologi berbasis aplikasi, sampah yang telah dipilah dapat diambil yang selanjutnya di recycle untuk kembali digunakan.

Selain industri yang perlu berperan aktif, Dicky juga menjelaskan jika peran masyarakat sangat dibutuhkan untuk memberi kepercayaan industri bahwa material daur ulang layak digunakan.

Dengan cara, masyarakat harus sadar dan ikut serta dalam pemilahan limbah agar pendistribusian dapat cepat di daur ulang dan material yang digunakan tetap terjaga.

“sampah yang sudah dipilah masih memiliki nilai, baik untuk industri maupun masyarakat untuk bisa digunakan kembali, sehingga menurunkan efisiensi cost produksi” kata Dicky.

Saat ini eRecycle telah tersedia di Jabodetabek. Industri dapat mengakses aplikasi untuk selanjutnya mengatur jadwal pengambilan. eRecycle tidak memungut biaya pengambilan.

Konvergensi transformasi digital dengan ekonomi sirkular memberikan banyak keuntungan bisnis, baik finansial maupun lingkungan. Ketika industri diwajibkan secara hukum melaporkan dampak lingkungan mereka, teknologi datang sebagai medium. Di saat teknologi mampu bekerja, aktivitas ekonomi sirkular dapat menambah nilai, lagi dan lagi.