Kartini Di Tengah Pandemi Dan Era Digitalisasi

Oleh: Nur Shinta Dewi
Selasa, 21 April 2020 | 19:38 WIB

Bagi kebanyakan perempuan, mungkin work from home (WFH) merupakan hal yang sangat merepotkan, minimnya pengetahuan teknologi menuntut perempuan harus belajar agar bisa mengerjakan pekerjaan dari rumah. Belum lagi, tuntutan yang melekat pada diri perempuan menjadi kewajiban yang harus dikerjakan, seperti, bebenah rumah, membantu anak mengerjakan soal sekolah, dan mengurus suami. Namun tahukah, perempuan yang mau belajar dan mengerjakan kewajibannya merupakan Kartini sejati di era digitalisasi?

Berdasarkan data BPS, persentase pengguna internet perempuan pada 2018 hanya sebesar 37,49%, sedangkan pengguna laki-laki mencapai 42,31%. Kurangnya pengetahuan digital bisa menjadi permasalahan baru dalam diskriminasi perempuan di era digitalisasi ini. Kondisi ini menjadikan tantangan yang harus dihadapi perempuan sebagai dampak dari Revolusi Industri 4.0.

Selain itu, belajar dan melek digital menjadi prioritas utama bagi perempuan, karena permintaan terhadap tenaga kerja berliterasi digital di Indonesia terbilang sangat tinggi. Perusahaan-perusahaan rintisan yang banyak bermunculan serta semakin beragamnya layanan teknologi digital yang digunakan oleh perusahaan menciptakan kebutuhan akan tenaga kerja yang melek digital.

Semenjak pandemi Covid-19, segala aktivitas kerja perusahaan dialihkan menjadi bekerja dari rumah. Hal ini menjadi tuntutan semenjak surat edaran pemerintah untuk pembatasan sosial diberlakukan. Selain menjadi Kartini di rumah, perempuan yang bekerja dari rumah juga menjadi Kartini bagi perusahaan dan angka kesetaraan gender di Indonesia, mengapa demikian?

Keseimbangan kerja perempuan dan laki-laki menjadi hal penting pada saat ini. Hasil penelitian Bank Dunia menyebut, tingkat kesejahteraan secara global dapat meningkat 21,7%, jika kesetaraan gender diimplementasikan. Sebaliknya, kerugian pada human capital wealth secara global diperkirakan mencapai US$ 160,2 triliun akibat dari ketidaksetaraan gender.

Dalam masa pandemi, omset perusahaan mengalami penurunan. Perlu adanya gotong royong dari setiap jajaran dalam mempertahankan finansial perusahaan. Manajemen finansial menjadi salah satu posisi yang ikut berdiri di garda terdepan peperangan melawan dampak finansial pandemi. Grant Thornton Indonesia, baru-baru ini mempublikasikan laporan Women in Business, yang menyatakan bahwa posisi Chief Finance Officer (CFO) yang diduduki wanita di jenjang manajemen senior, telah memberi kontribusi nyata di Indonesia sebesar 48%.

Tingginya angka ini setiap tahun, menunjukkan peran wanita yang signifikan dalam manajemen finansial perusahaan. Maka untuk memperkuat bisnis perusahaan ditengah pandemi ini, kerjasama laki-laki dan perempuan sangat dibutuhkan, karena bagaimanapun juga jika pekerjaan dilakukan secara gotong royong akan menjadi penguat dalam perusahaan.

Selain itu, WFH sangat tepat untuk perempuan mengasah kemampuan dalam dunia digital. Pekerjaan yang dilakukan secara remote, mengajarkan perempuan, bagaimana teknologi mempermudah segala hal dari segi mengajarkan anak belajar dirumah, hingga mengerjakan pekerjaan kantor.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Managing Partner Grant Thornton Indonesia Johanna Gani, ia menganggap masa pandemi ini merupakan masa yang paling tepat bagi pemimpin perempuan di Indonesia untuk menggali potensi yang dimiliki agar tidak hanya menjadi inspirasi bagi perempuan lainnya, namun juga memberi dampak lain yang lebih luas.

“Dimasa-masa yang sulit ini, adalah penting bagi pemimpin terutama para pemimpin wanita Indonesia untuk menggali potensi yang mereka miliki agar tidak hanya menjadi inspirasi bagi para wanita lainnya dalam memberi dampak yang luas, tetapi juga bersama-sama sekuat tenaga mengerahkan seluruh bentuk ketangkasan, empati dan kesiapsiagaan untuk menjadi penggerak perubahan di lingkungan masing-masing untuk melewati pandemi ini dengan baik,” ungkap Johanna Gani.

Riset Global Gender Gap Index 2020 oleh Forum Ekonomi Dunia (WEF), Indonesia menempati posisi ke-85 dari 154 negara. Indonesia dinilai telah membuat kemajuan yang cukup signifikan dalam melibatkan perempuan dalam perekonomian dan kesempatan berusaha. WEF memberikan rekomendasi agar Indonesia mengatasi isu kesenjangan distribusi pendapatan karena pendapatan perempuan pekerja hanya setengah dari yang diperoleh laki-laki.

Pandemi Covid-19 menjadi masa bagi perempuan untuk memperluas kemampuan mereka di bidang teknologi digital. Hal ini diharapkan dapat memajukan indeks peran perempuan dalam perekonomian dan kesempatan berusaha. Serta, memperjuangkan hak kesetaraan gender di era teknologi digital, agar pendapatan yang semula tidak seimbang dapat disamaratakan.

Seperti semboyan R.A Kartini “Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.”. Perempuan yang mengikuti perkembangan jaman dan bertahan di tengah beratnya menyeimbangkan pekerjaan rumah dan pekerjaan kantor ialah Kartini sejati. Selamat Hari Kartini!