Transformasi Digital, Kemajuan Teknologi, dan Peran Generasi Milenial

Oleh: Desy Yuliastuti
Rabu, 8 November 2017 | 09:58 WIB
Untuk menjadi negara yang besar di tahun 2030-2045, Indonesia harus mampu mentransformasikan kekuatan ekonomi yang berbasis sumber daya alam menuju ekonomi yang berbasis sumber daya manusia (human capital)

Untuk menjadi negara yang besar di tahun 2030-2045, Indonesia harus mampu mentransformasikan kekuatan ekonomi yang berbasis sumber daya alam menuju ekonomi yang berbasis sumber daya manusia (human capital).

Potensi dan tantangan masa depan perekonomian Indonesia serta anggaran APBN dianggap menjadi salah satu faktor pendorong transformasi digital. Selain itu, dari sisi demografi Indonesia yang didominasi oleh anak muda diharapkan dapat menciptakan inovasi dan kreasi yang mampu meningkatkan perekonomian dalam negeri.

Generasi milenial memiliki tiga karakter, yaitu connected atau terhubung, confident atau percaya diri, dan kreatif. Ketiga poin ini harus dilihat sebagai potensi bukan sebagai pemicu disrupsi.

“Kalau tiga hal ini dikurung dengan regulasi Pemerintah, berarti negara menzalimi mereka. Pemerintah ingin buat tiga hal ini jadi potensi sehingga Indonesia bisa menciptakan suatu aset yang kreatif dan aktivitas ekonomi untuk menuju masyarakat Indonesia yang adil dan makmur,” kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati dalam seminar bertajuk “2030: Menjadi Kekuatan Baru Ekonomi Dunia Melalui Transformasi Digital dan APBN yang Berdaya Saing” di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut Sri Mulyani, melalui APBN pemerintah fokus berinvestasi di SDM, seperti mengalokasikan anggaran kesehatan 5% dari PDB, 20% untuk anggaran pendidikan, dan anggaran kemiskinan. Hal ini dilakukan sebagai upaya bagaimana tercapai titik yang balance dalam digital economy serta mendorong yang tengah berkembang.

Berdasarkan riset Price Waterhouse Cooper, perekonomian di Indonesia diperkirakan akan berada dalam posisi 5 dunia, yang berarti era 2030 tinggal 12 tahun lagi. Dalam menyiapkan peta jalan digital, pemerintah membuat Paket Kebijakan Ekonomi XIV dengan Peraturan Presiden Nomor 74 tahun 2017 tentang Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik.

Indonesia sebenarnya telah memiliki modal untuk menghadapi era digital dengan jumlah pengguna internet 132 juta pengguna media sosial 106 jutam mobile subscription 371,4 juta, dan pengguna ponsel aktif 92 juta. Tak heran e-commerce mampu berkembang pesat dengan nilai transaksi mencapai 5,6 milliar dolar pada 2016.

Ignatius Untung, Ketua Bisang Ekonomi dan Bisnis Indonesian E-commerce Association (idEA), mengatakan di era disruptive ini, kegiatan bisnis konvensional akan terancam dan para pengusaha harus bisa beradaptasi dengan perubahan dan mengelola risikonya.

Meskipun era digital berkembang pesat, masyarakat Indonesia masih memiliki tantangan, yaitu hanya 13,1% masyarakat Indonesia yang memiliki akses ke kredit formal, penurunan preferensi cash on delivery sebagai metode pembayaran, dan masih banyak masyarakat yang unbanked.

Di era digital saat ini, generasi muda era milenial dituntut untuk melek teknologi, serta berpikir lebih jauh dan kreatif. Bibit unggul generasi selanjutnya pun perlu dipersiapkan untuk menghadapi tantangan dan perubahan zaman.

Nadiem Makarim, CEO Go-Jek berpandangan agar generasi Indonesia siap bersaing di era digital setidaknya memiliki 5 kemampuan, yakni bahasa Inggris, coding, statistik, psikologi, dan nasionalisme yang tidak sempit. Indonesia masih butuh banyak ide, inovasi, dan solusi kreatif lewat teknologi untuk memecahkan berbagai permasalahan di masyarakat dan mendorong transformasi digital.