Emoji sebagai Bahasa Iklan, Bisakah Konsumen Paham?

Oleh: Ana Fauziyah
Jumat, 15 September 2017 | 03:55 WIB
Anda tentu sudah tidak asing lagi dengan gambar-gambar lucu di fitur komunikasi via text message, chat, dan sejenisnya

Anda tentu sudah tidak asing lagi dengan gambar-gambar lucu di fitur komunikasi via text message, chat, dan sejenisnya. Gambar-gambar lucu yang dikenal dengan istilah emoji tersebut membantu Anda mengekpresikan perasaan Anda kepada penerima pesan.

Lewat simbol-simbol emoji, perasaan dan pengalaman pengguna bisa direpresentasikan. Emoji juga digunakan untuk mendukung konteks pembicaraan tanpa perlu menuliskannya dengan teks panjang. Namun, bisakah Anda membayangkan jika emoji digunakan sebagai bahasa iklan apakah pemirsa bisa memahaminya?

Prantik Mazumar, Managing Partner Happy Marketer dalam sesi bertajuk “Emoji, Memes & GIFs: Communicate and Be Part of the Conversation” dalam gelaran Social Media Week 2017 Jakarta menyatakan bahwa penggunaan emoji sebagai bahasa iklan sangat mungkin. Emoji juga bisa membawa pesan marketing tanpa banyak kata.

Mazumar mengungkapkan bahwa penggunaan emoji sebagai bahasa iklan bisa lebih diterima pemirsa karena secara psikologis emoji tidak membutuhkan banyak tenaga untuk dipahami, menabrak batas-batas bahasa, ambiguous dan tidak terikat, serta mengandung humor dan sarkasme.

Penggunaan emoji, meme dan GIFs dalam iklan mempunyai tiga keuntungan antara lain pertama, konsumen lebih menyukainya daripada iklan konvensional sehingga membuat brand lebih dikenal. Kedua, iklan emoji memerlukan lebih sedikit iklan produksi. Ketiga, iklan emoji mampu meningkatkan brand engagement.

Mazumar juga menyebutkan beberapa brand ternama seperti IKEA, McDonalds dan Domino’s Pizza telah menggunakan emoji dalam menyampaikan iklan mereka. Chevrolet bahkan menggunakan emoji dalam pres rilis mereka dan membuat orang-orang harus memecahkan kode di balik simbol-simbol yang tertera.