Pacu Industri Otomotif, Riset Mobil Listrik Dilakukan

Oleh: Sukindar
Rabu, 4 Juli 2018 | 16:32 WIB
Sebagai salah satu sektor percepatan di Making Indonesia 4

Sebagai salah satu sektor percepatan di Making Indonesia 4.0, industri otomotif digadang-gadang mampu menjadi basis produksi kendaraan bermotor, termasuk kendaraan listrik atau electrified vehicle (EV).

Menuju ke arah tersebut, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian menggandeng Toyota Indonesia dan enam perguruan tinggi negeri.

Kolaborasi ini ditujukan untuk melakukan riset dan studi secara komprehensif tentang teknologi electrified vehicle di dalam negeri secara bersama-sama.

“Pemerintah saat ini terus berupaya untuk mendorong pemanfaatan teknologi otomotif yang ramah lingkungan melalui program LCEV,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada acara Kickoff Electrified Vehicle Comprehensive Study di Jakarta, Rabu (4/7).

Melalui kerja sama ini, pemerintah ingin menjadikan industri otomotif nasional menjadi basis produksi kendaraan bermotor untuk pasar domestik maupun ekspor, sekaligus mencapai target 20 persen produksi kendaraan emisi karbon rendah (low carbon emission vehicle/LCEV) tahun 2025.

Baca Juga:
Kendaraan Listrik Jadi Fokus Pemerintah

“Melalui riset dan studi bersama ini, kita juga cari solusi yang meliputi kenyamanan berkendara oleh para pengguna, infrastruktur pengisian energi listrik, rantai pasok dalam negeri, serta adopsi teknologi dan regulasi,” sebutnya.

Dalam riset yang akan berlangsung selama tahun 2018 hingga 2019 ini, proses penelitian terhadap kendaraan jenis Hybrid dan Plug-in Hybrid akan terbagi menjadi dua tahap.

Pada tahap pertama, penelitian akan dilakukan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Indonesia (UI).

Pada tahap selanjutnya, akan dilaksanakan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Udayana.

“Melalui riset dan studi bersama ini, kita juga cari solusi yang meliputi kenyamanan berkendara oleh para pengguna, infrastruktur pengisian energi listrik, rantai pasok dalam negeri, serta adopsi teknologi dan regulasi,” papar Airlangga.