Peyumbang Sampah Terbesar yakni Sampah Rumah Tangga, Yuk, Bun Mulai Ubah Sampah jadi Value!

Oleh: Dewi Shinta N
Kamis, 8 Januari 2026 | 16:38 WIB

Bun, tahukah kamu bahwa sampah terbesar justru berasal dari rumah? 

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2023, sebanyak 60,44% sampah di Indonesia berasal dari aktivitas rumah tangga. Dari jumlah tersebut, sampah organik seperti sisa makanan mendominasi hingga 40–45%, disusul sampah plastik sekitar 15%.

Meski demikian sampah organik lebih mudah terurai, lantas bagaimana dengan sampah plastik?

Perlu diketahui, sampah plastik membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai, misalnya saja, kantong plastik baru bisa terurai 10-20 tahun, botol plastik bisa mencapai 450 tahun, sementara plastik konvensional bisa bertahan 100-500 tahun atau lebih, bahkan seringkali sampah plastik ini menjadi mikroplastik yang mencemari lingkungan dan memiliki dampak berbahaya bagi kesehatan.

Faktanya, sampah plastik masih menjadi masalah saat ini, bahkan dari tingkat terkecil sekalipun sampah masih menjadi tantangan. Data bank sampah Akademi Kompos (AKKOM), yang berlokasi di Perumahan Bumi Pesanggrahan Mas, Jakarta Selatan, setiap kali bank sampah dibuka, jumlah sampah anorganik yang terkumpul mencapai 100–500 kg. Bahkan, dalam satu bulan, total sampah yang berhasil dikelola bisa mencapai 3,5 ton, dengan komposisi sebagai berikut:

Dari data ini terlihat jika sampah plastik masih mendominasi.

Baca juga: Respons Cepat Banjir Sumatera: Cara Menjaga Asupan Nutrisi Saat Bencana Terjadi

Apa Dampak Sampah Plastik?

Apabila dibiarkan begitu saja, dampak sampah plastik bisa berbahaya bagi ekosistem dan kelangsungan hidup di Bumi mendatang. Apa saja dampaknya? 

Baca juga: Kesehatan Ibu Bukan Sekadar Bentuk Cinta, Melainkan Investasi Jangka Panjang

AKKOM Mengubah Sampah Menjadi Lebih Bernilai

Akademi Kompos (Akkom) berlokasi di Perumahan Bumi Pesanggrahan Mas. Inisiatif ini didirikan pada tahun 2013 sebagai pusat pengelolaan sampah organik rumah tangga. Penggagasnya adalah Bapak Artomo bersama Ketua PKK, Ibu Pujiutami.

Seiring waktu, pengelolaan Akkom mengalami regenerasi. Sejak tahun 2024, Akademi Kompos dikelola oleh generasi muda yang diketuai oleh Andito Dwi Pratomo bersama istrinya, Iftitah Nurul Jannah, dengan semangat keberlanjutan dan inovasi.

“sampah-sampah yang sudah terkumpul dan dipilah dari rumah nantinya bisa dikonversi sebagai rupiah dan jika sudah mencapai nominal tertentu, jika di bank sampah AKKOM minimal Rp50.000 dan minimal 3 bulan, tabungan sampah tadi bisa bisa dicairkan oleh nasabah,” ungkap Iftitah.

Selain mengurangi pencemaran lingkungan, jika dikelola dengan tepat, sampah bisa memiliki value yang bermanfaat bagi Bunda dan keluarga. 

Value dari sampah ini pun tidak serta merta hanya sebatas uang. Di bank sampah AKKOM sendiri, Bunda bisa mendapatkan sayur organik dan ikan dengan harga murah. Misalnya selada 250 gram seharga Rp10.000 dan sawi hijau Rp7.500, Bunda juga bisa mendapatkan dua ikat sayur hanya dengan Rp10.000.

Baca juga: 

Di tahun ini, Iftitah juga membuat program belajar bahasa Inggris dengan bayaran sampah anorganik. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus kesadaran lingkungan sejak dini.

"Di tahun 2026 kita punya program yang namanya sudut ilmu, dimana nanti nasabah yang punya anak kecil di usia sekolah, anaknya bisa mendapatkan bimbingan belajar lalu kami terima pembayarannya dengan sampah anorganik," ungkap Iftitah.

Bunda, belajar dari bank sampah Akademi Kompos(AKKOM), ternyata mengelola sampah bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga pemberdayaan, edukasi, dan masa depan anak-anak. Mulai dari memilah sampah di rumah, langkah kecil Bunda hari ini bisa membawa dampak besar bagi bumi esok hari.

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Sebagai Ketua Bank Sampah Akademi Kompos, Andito Dwi Pramono melihat permasalahan sampah di Jakarta maupun di Indonesia, perlu diatasi dari hulu, yakni dari rumah. 

Selama ini sampah hanya dikenal barang yang tidak ada nilainya, bau, dan terbuang, namun saat Dito terjun langsung ia melihat ternyata sampah yang tidak dibenahi memiliki dampak risiko yang begitu besar. Sementara jika kita mampu mengolahnya dengan benar, maka sampah pun bisa memiliki nilai untuk kita.

“Awalnya saya juga nggak ngeh kenapa orang tua saya memilah sampah, pelan-pelan saya perhatiin dan saya geluti selama satu tahun lebih ini, ternyata bukan bicara tentang sampah tapi ada hubungannya juga ke sosial, people development, ekonomi, jadi dari satu titik ini bisa menjadi banyak hal,”

Bagi Dito perubahan dimulai dari rumah, istrinya pun Iftitah Nurul Jannah menganggap pembelajaran untuk mencintai lingkungan paling utama berasal dari rumah, salah satunya dengan mengajak Si Kecil untuk memilah sampah dan mengurangi sampah plastik.