Yuk, Menjajal Sektor Ekonomi Kreatif yang Naik Daun!

Rabu, 16 Agustus 2017

Kendati daya saingnya masih terbilang rendah, sebetulnya sektor ekonomi kreatif (creative economy) di Indonesia tidak pernah mati. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, peminat dan “pasarnya” justru mengalami peningkatan yang signifikan…

Sejak dituntut menjadi penggerak perekonomian Indonesia—Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) terus hadir dan memperbarui program guna meningkatkan pertumbuhan daya saing masyarakat. Nah, bagi Anda yang ingin menjajal bidang baru ini, berikut adalah tiga sektor berpotensi ekonomi kreatif menurut Bekraf, dilansir dari laman Kompas.com (13/4).

1. Fashion 

Beragam kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia—bisa jadi satu inspirasi yang baik Anda untuk masuk ke dalam dunia mode. Nah, tidak perlu khawatir saat ingin berbisnis di Indonesia. Pasalnya, seluruh bantuan pengembangan sektor, akan dibantu dari hulu hingga hilir. Ini mencakup beberapa pelatihan yang bisa Anda ikuti secara gratis, sertifikasi, permodalan, proses promosi/pemasaran baik dalam maupun luar negeri, hingga perlindungan hak kekayaan intelektual.

2. Kuliner

Bisnis kuliner memang “tidak ada matinya”. Dari tahun ke tahun, ada saja tren kuliner baru yang “meledak” dan begitu diminati di pasar. Nah, sekalipun skala usaha Anda masih industri rumahan—tidak ada salahnya langsung terjun ke bisnis ini. Anda bahkan tidak lagi perlu khawatir akan beragam kendala—seperti kurangnya SDM atau justru permodalan.

3. Kerajinan Tangan (Craft)

Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber, hampir dipastikan, setiap daerah memiliki “kekayaan” fashion, kuliner, dan kriya-nya masing-masing. Nah, perihal kriya, Anda bisa langsung memulai dari inspirasi kerajinan tangan setempat—atau jika perlu, membuatnya baru. Hitung-hitung, melestarikan dan menambah kekayaan budaya daerah asal…

Adapun selain tiga hal yang telah disebutkan di atas, Bekraf juga tengah mempersiapkan beberapa sektor creative economy  lain—seperti games, aplikasi, musik, serta film. Sementara setelahnya, menyusul sepuluh subsektor, meliputi arsitektur dan desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, animasi video, fotografi, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, serta televisi dan radio.

Recommended